Minggu, 13 September 2020

Kamu baik-baik saja?

 

“Apa kamu baik-baik saja?”

Sedikit dari mereka yang bertanya demikian kepadaku. Aku sedikit terharu ketika sebagian kecil itu bertanya demikian. Mereka mempedulikanku. Aku sungguh berterima kasih. Sayangnya, sering kali aku tak mampu mengungkapkan sakit-penyakit ini. Terlalu rumit, aku sangsi mereka akan paham atau tak menganggapku aneh. Jadi, aku memilih mengangguk dan tersenyum meyakinkan mereka. Tak baik membebani orang lain, pikirku.

Sejak kapan ya semuanya berawal? Aku tak benar-benar tahu, yang pasti sudah lama sekali. 

Sedari kecil kita diajarkan untuk bersyukur bukan? Walau dengan cara, “cari tahu apa yang orang lain tak miliki dan bandingkan dengan dirimu”. Kita harus bersyukur karena bisa makan hari ini karena sebagian orang di bumi kesulitan untuk mengisi perut. Kita harus bersyukur karena memiliki tempat tinggal yang layak, sebagian manusia bergulat dengan angin malam setiap harinya. Lalu bagaimana cara mereka yang tidak makan dan tidak berumah itu untuk bersyukur? Bagaimana mereka tau kekurangan dari seseorang yang hidupnya berkecukupan? Aku rasa seorang saudagar kaya tidak akan mengumbar tentang istri mereka yang gila harta, atau anak-anak mereka yang pembangkang. Dalam hal ini, tentu mereka yang hidup dalam kemelaratan sangat sulit untuk bersyukur.

Sedari kecil kita disuguhi dengan kejeniusan seorang Edison, bagaimana kayanya Bill Gates, dan itulah yang mereka sebut dengan sukses. Seorang kuli bangunan di dekat rumahku secara tersirat disebut sebagai orang-orang gagal. Tidak rajin di sekolah, tidak mau belajar, pemalas, itu yang mereka sebut sebagai penyebab.

Dengan rumus-rumus kehidupan itu, harunya tidak sulit bagiku untuk bersyukur. Kedua orang tuaku memiliki pekerjaan yang layak dan penghasilan yang stabil. Kami punya rumah yang nyaman dengan halam kecil sebagai temptku bermain. Aku bukan anak yang bodoh di kelas walau bukan yang terpandai. Bukankah harusnya akur bersyukur? Bukankah harusnya aku bahagia?

Kupikir juga harusnya begitu, tetapi nyatanya aku sering menangis atas hal-hal yang tidak membahagiakan. Saat kecil, anak-anak di sekolah tak begitu menyukaiku. Aku ketakutan dan tertekan. Aku ingin bermain, tertawa dan mengerjakan tugas kelompok bersama mereka. Aku berusaha untuk diterima di kelompok tersebut walau harus sedikit berubah. Atau mungkin banyak. Aku tak tau, aku hanya ingin memiliki teman. Ini ketakutanku yang pertama, tidak memiliki teman.

Awalnya aku bukan anak-anak rajin dan terlalu peduli dengan nilai ataupun peringkat. Aku tak tau sejak kapan, aku berubah. Aku mulai ketakutan ketika ujian. Aku kira aku hanya taku mendapatkan nilai jelek. Nyatanya aku bahkan takut pada ketakutanku sendiri. Aku takut jika aku akan menyesal jika tidak belajar dengan keras. Aku takut aku akan ketakutan ketika melihat nilaiku yang jelek. Aku takut aku akan menyesal berlarut-larut. Aku takut pada masa depan dan menyesali masa lalu. Aku takut akan membuat penyesalan lainnya. Aku takut jika suatu saat aku tak sanggup pada ketakutanku. Aku mulai curiga dengan ketakutanku yang berlebihan. Kukira aku cukup kuat, bukankah aku sudah andal menghadapi ketakutan selama bertahun-tahun? Maka aku yakin, ketakutan di tahun-tahun setelahnya pun pasti bisa kuhadapi. Aku hanya perlu berusaha seperti sebelum-sebelumnya bukan?

Aku mengenal seorang pria manis beberapa tahun lalu. Dia tak begitu polos dan lugu. Dia berapi-api dan cerah, sungguh seorang pria muda yang menarik. Waktu itu, dia menganggap aku menarik. Aku tersanjung, dan kupikir pria ini memiliki selera yang bagus. Aku punya predikat gadis yang pandai, walau bukan yang paling cantik tapi setidaknya aku cukup manis, aku juga cukup populer. Aku tak pernah membalas ungkapan cintanya. Aku membiarkannya pergi. Aku takut kehilangan pria manis itu, jadi aku memilih untuk tidak memilikinya sama sekali. Benar, lagi-lagi aku terlalu takut.

Aku kira keputusanku sudah benar dan aku tak akan menyesal. Nyatanya aku merasakan sakit yang teramat. Aku pikir itu wajar, karena aku kehilangan salah satu penggemarku yang tulus.

Aku sering menangis, sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku mulai menangisi banyak hal dan ketakutanku tak kunjung membaik. Mereka datang dan pergi. Aku tak pernah siap dengan kedatangan mereka. Kadang kukira aku sudah kurang waras.

Aku kira aku cukup kuat, tapi nyatanya aku lemah. Ketakutan dan kesedihanku bercampur menjadi sakit. Aku mulai melarikan diri dari kenyataan. Awalnya satu pil cukup bagiku untuk terlelap, kemudian berangsur menjadi dua. Aku membiarkan diriku menjadi si pengecut yang menyedihkan. Hari ini botol putih di nakasku telah kosong. Aku perlu membeli obat tidur lagi.

Aku meminta sebotol obat tidur yang biasa kukonsumsi kepada seorang apoteker. Selagi si apoteker mencari obat yang kumaksud seorang pria bermantel coklat berdiri di sampingku. Dia menggunakan masker hitam, tetepi aku masih dapat mengenalinya. Dia si pria manis. Sesekali kami berpapasan dan saling menyapa sekedarnya. Berada di kampus yang sama cukup sulit untuk membuat kami saling menghindar. Terasa aneh sekali ketika seseorang yang dulunya selalu menanyakan tentang harimu berubah menjadi orang yang menganggap hal itu tak pernah terjadi. Si pria manis pasti sudah tidak menyukaiku.

Ketika pandangan kami bertemu, aku tersenyum. Aku mampu menangkap keterkejutannya lewat alis yang bergerak. Aku tidak tau apa yang membuatnya terkejut. Mungkin saja dia membenciku sekarang tapi malah bertemu secara tiba-tiba. Aku tak keberatan jika dia membenciku. Itu lebih baik dibandingkan tersiksa dengan cinta sepihak bukan?

Apoteker tadi datang dengan sebotol obat tidur di tangan kanannya. Aku segera meraih botol tersebut kemudian menepuk pundak pria manis di sampingku.

“Aku akan segera pulang kok, jangan malu untuk membeli kontrasepsi” ujarku sambil mengulum senyum. Pria itu melebarkan matanya. Aku tertawa kecil dan meninggalkannya. Setidaknya itu dapat mencairkan suasana canggung di antara kami. Aku tidak ingin memperlakukannya seperti orang asing. Dia pria baik dan aku tetap ingin berteman dengannya. Terdengar agak egois memang, tetapi aku yakin pria itu paham maksudku.

Aku adalah wanita konyol dengan mulut yang berucap sewenang-wenang, setidaknya itulah yang diketahui orang-orang. Atau, itulah yang membuat orang lain menyukaiku. Apa untungnya terlihat muram di depan orang lain selain terlihat jelek? Sekalipun kuceritakan segala hal buruk yang kualami mereka belum tentu mau tau, apalagi mengerti. Semua orang sudah memiliki bebannya masing-masing, jadi wajar mereka tak mau tau masalah orang lain. Terlebih aku benci ketika mereka menatapku seolah aku adalah orang aneh, meskipun memang benar.

Aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat padaku. Kukira itu si pria manis, aku bisa merasaka aroma parfumnya di hidungku. Jika benar dia mengejarku bukankah harusnya senarusnya dia sudah berada tepat di belakangku atau memanggilku, atau menyentuh bahuku. Kudengar adalah suara langkah kaki yang yang teratur tak jauh di belakangku. Untuk beberapa detik, aku hanya terus berjalan menuju rumah.

Aku tak tahan untuk berbalik, dan benar saja. Si pria manis berdiri tak jauh di belakangku.

“Kau mau mau mengikutiku? Serindu itu ya?” ujarku dengan senyum pongah yang konyol.

Si pria manis itu menatapku jengkel. Ternyata aku rindu memancing emosinya. Dia terlihat seperti anak kecil yang tidak terima  permen coklatnya diambil orang. Manis sekali. Aku ingin punya anak seperti dia suatu saat nanti. Jika aku bisa.

“Apa kau sakit?” tanyanya tanpa melihat wajahku. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Lihat, bukankah dia seperti anak sekolah yang malu-malu mengajak teman wanitanya kencan? Berapa sebenarnya usia pria ini?

“Tidak kok” jawabku sambil tersenyum lebar. Seolah memberi bukti bahwa aku baik-baik saja, dan silahkan urusi perkara masing-masing.

“Kau terlihat pucat”

“Kulitku semakin putih, aku pakai krim pemutih wajah”

“Matamu menghitam”

“Aku begadang tadi malam, memangnya mahasiswa mana yang tidak pernah begadang?”

“Matamu bengkak”

“Lalu? Kau berharap aku baru saja menangisimu?”

Si pria manis berdecak jengkel. Dia menendang sebuah krikil kecil di dekat sepatunya.

“Terserah”. Dia berbalik dan melangkah dengan kesal. Kuamati keberadaannya yang kian menjauh, kemudian lanjut berjalan.

Tak lama setelah itu aku mendengar suara langkah kaki yang dihentak-hentak mendekat. Kukira itu suara langkah orang yang terburu-buru menuju halte, tetapi tiba-tiba sosok pria tinggi berada di sampingku dan menyamakan langkah kaki denganku.

“Kukira tujuanmu ke sana” aku menunjuk ke belakang.

“Kalau kau tidak mau menerimaku, setidaknya jangan buat aku khawatir.” Ucapnya dengan penuh kejengkelan yang diredam.

“Aku tidak berharap kau khawatir.” Jawabku tak kalah sengit.

“Aku juga berharap begitu.”

“Kalau begitu jangan khawatirkan aku.” sahutku ketus.

“Mana bisa.” Jawabnya samar tetapi masih dapat kudengar.

Aku membenci diriku sendiri. Pria di sampingku ini jelas sudah bukan pria yang menggodaku dengan kata-kata manis agar pesannya segera dibalas. Dia sudah menjadi ketus dan menyebalkan, tetapi kenapa malah terasa semakin menggemaskan? Apa penyakit kejiwaanku bertambah?

Setelah hening beberapa saat, tepat di tempat penyebrangan aku kembali membuka suara.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tau.” Jawabnya asal.

“Kalau begitu pulanglah.”

“Aku tidak tenang sebelum melihatmu sampai di rumah.”

Aku merotasikan mataku seolah tengah jengkel. Aku mengambil langkah besar dan membiarkannya berjalan di belakangku. Dia tidak boleh melihat wajahku yang memerah. Dia harus menjauh dariku, dan menemukan orang lain yang lebih baik dariku.

*

Beberapa malam ini Soji, si pria manis terus menghubungiku. Jika aku tidak membalas pesannya maka ia akan meneleponku puluhan kali hingga aku menyerah, kemudian menjawabnya asal-asalan. Dia menanyakan berbagai hal tak penting seperti, ‘kenapa tidak membalas pesanku?’, ‘kenapa kama sekali mengangkat teleponku?’ ‘apa kau sudah tidur?’, ‘kenapa kau masih bangun?’. Sejujurnya perdebatan tak berarah itu sedikit mengusir kesepianku, mengingat ayah dan ibu lebih sering berada di kantor atau di luar kota di bandingkan di rumah. Bagaimanapun Soji berhak mendapat kebahagiaan bukan? Jadi hari ini aku sengajak mematikan ponselku.

Aku menyibukkan diri dengan beberapa tugas yang sudah menumpuk. Belakangan ini, aku merasa semakin buruk. Aku semakin sulit berkonsetrasi dan itu sungguh menghambatku untuk melakukan berbagai hal. Kecemasanku benar-benar menakutiku hingga rasanya aku hampir gila. Kesedihanku membuatku benar-benar terpuruk hingga rasanya aku ingin tak sadarkan diri saja. Kesepianku rasanya semakin menyesakkan hingga aku memukul-mukul dadaku akibat nyeri yang tak tertahankan. Aku tidak tau apa yang menyebabkanku tertidur: obat tidur atau terlalu lelah menangis.

Aku memandangi langit lewat jendela kamar. Sudah berapa ribu malam yang kulewati dengan perasaan mengerikan ini? Aku tidak bisa menyebut diriku lemah karena sudah bertahun-tahun bertahan dengan kesakitan ini. Aku pun tak bisa menyebut diriku kuat, karena aku selalu menangis dan melarikan diri. Aku tak tau sampai kapan aku mampu bertahan.

Beberapa kali aku memikirkan tentang mengakhiri hidup, tetapi itu hanya memindahkan beban kepada orang lain. Ketika aku hidup, akulah yang hampir gila. Ketika aku mati, mungkin ayah dan ibu yang akan  gila karena kehilangan anak tunggal mereka. Jika bukan kerena mereka, mungkin aku tidak akan bertahan. Aku pernah menemui psikolog beberapa kali, sayangnya mulut yang sewenang-wenang ini tak pandai mengungkapkan isi hatiku yang sesungguhnya. Mulutku hanya pandai mengutarakan kata-kata konyol, sungguh menjengkelkan. Aku berencana menyiapkan diri untuk menemui psikiater dalam waktu dekat ini. Kurasa itu jalan yang tepat untuk menyelamatkan hidupku.

Perutku terasa perih dan kepalaku sedikit pening. Aku belum menyentuh makanan hari ini. Mengapa aku begitu menyiksa diriku? Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Ada beberapa roti yang hanya perlu dipanaskan. Ketika aku mengambil sepotong roti, aku terkejut dengan suara bel yang ditekan berkali-kali. Tanganku menyenggol sebotol pewarna makanan yang ternyata tidak tertutup rapat. Ketika aku berusaha menangkap botol itu, isinya menumpahi tanganku.

Bunyi bel berganti menjadi ketukan kasar dan berganti menjadi dobrakan-dobrakan keras. Sejujurnya aku ketakutan tetapi aku tetap harus melihat siapa yang ada di depan sana. Aku harusnya bisa langsung memanggil petugas keamanan, namun karena terlalu panik aku malah menghampiri pintu dan mengintip siapa pelaku pendobrakan tersebut lewat intercom.

Aku terbelalak ketika melihat sosok yang berusaha mendobrak pintu apartemenku. Soji terlihat frustasi kemudian kembali menggedor dan mendobrak pintu. Ketika pintu itu terbuka, Soji langsung memelukku erat. Sangat erat hingga aku mampu merasakan detak jantungnya yang begitu keras. Itu adalah pelukan singkat lalu dengan tatapannya Soji menelusuri tubuhku dari ujung kepala dan berakhir di tanganku yang penuh dengan noda merah. Ia segera menggendongku dengan panik dan berlari menuju lift.

“Ada apa denganmu?!” pekikki kebingungan.

“Kumohon bertahanlah” pinta Soji frustasi.

“Kau ini kenapa sih?!” aku masih tidak paham apa yang dilakukan Soji.

“Kalau kau punya masalah bukan begini cara menyelesaikannya.”

Aku terdiam sejenak dan berfikir. Ah, pasti karena pewarna makanan berwarna merah tua ini.

“Soji, aku tidak apa-apa, ini hanya_”

“Diam. Kau tidak baik-baik saja, aku tau itu.”

“Soji_”

“Kau punya aku, ingat itu! Jangan menghadapi hal sulit seo-”

“Soji aku tidak bunuh diri! Ini pewarna makanan!” Aku memekik kesal. Beberapa orang di koridor menoleh dan mengamati kami. Aku malu, karena ini sangat dramatis dan menggelikan.

Lift berdenting dan pintunya terbuka. Soji masuk tetap masuk ke dalam dan buru-buru menutupnya. Ia meraih kedua tanganku, mengamatinya lekat-lekat, mencari kemungkinan-kemungkinan jika aku berbohong dan nyatanya memang tidak akan ia temukan. Ia mengusap-usap pergelangan tanganku dengan jaketnya hingga kulit pucatku kembali terlihat.

Dia mendesah panjang, aku tidak tau arti desahan itu. Ia kembali memelukku begitu begitu erat, menenggelamkan tubuhku dalam dekapannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tenang. Aku merasa tenang dan nyaman mendengar detak jantungnya. Aku menjadi kecil, rapuh dan tak berdaya namun merasa sangat berharga secara bersamaan. Ajaib, pria ini seperti penyihir. Aku merasakan dagunya di atas kepalaku, menekannya dengan lembut.

Tidak ada yang berniat mengurai pelukan hingga pintu lift terbuka lebar dan kembali tertutup.

*

Soji membantuku membereskan kekacauan di dapur selagi aku memanaskan dua potong roti untuk kami. Laparku sempat hilang karena kejadian memalukan tadi dan saat ini sudah kembali terasa.

“Kau kira aku bunuh diri karena tidak membalas pesanmu?” aku melihat puluhan pesan di ponselku, semuanya berasal dari pahlawan kemalaman di hadapanku.

“Ponselmu mati, aku jadi berfikiran yang tidak-tidak”.

Aku mengulum senyum. Dia terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Harusnya kau menyalakan ponselmu, bagaimana jika ada panggilan darurat? Bagaimana jika ada berita penting? Kau itu hidup di jaman apa sih sehingga-”

“Kau pernah merasa ketakutan sampai rasanya hampir gila?” aku memotong ucapannya yang tidak kuketahui kapan akan berakhir. Aku menarik kursi sehingga kami duduk saling berhadapan.

“Pernah,” jawaabnya. “baru saja” sambungnya lemah. Aku tersenyum miris. Ada perasaan menyesal karena telah membuat panik pria baik di hadapanku.

“Sejak aku melihatmu membeli obat tidur, aku tidak tenang dan-”

“Oh, waktu kau membeli kondom itu ya?” Aku kembali memotong ucapannya. Aku tidak ingin suasanya di antara kami terlalu dramatis.

“A-aku tidak beli kondom!” jawabnya kikuk dengan telinga memerah.

“Iya juga tidak apa-apa, kau kan pria dewasa.” ujarku menggodanya. Lihat, wajahnya seperti remaja yang ketahuan sedang melihat film porno. Aku tidak tahan ingin tertawa.

“Aku tau kau sedang tidak baik-baik saja_”

“Itulah yang kurasakan setiap hari.” Kurasa memotong ucapannya adalah kegemaran baruku. Aku mengambil roti di hadapanku dan menggitnya sekali. “ketakutan sampai hampir gila.” lanjutku sambil mengunyah. Seolah hal yang baru saja kukatakan bukanlah hal besar.

Soji menatapku lekat-lekat. Tidak ada tatapan mengasihani di wajahnya. Ia tersenyum perih sebelum mengalihkan pandangannya ke bawah, menunduk.

“Kau itu menyebalkan sekali.” Ucapnya sambil terkekeh.

“kau juga” ucapku acuh tak acuh sambil kembali menggigit roti di genggamanku.

Dia menyantap roti yang ada di hadapannya dengan lahap. Aku melihat rambutnya yang berantakan dan sedikit lembab. Apa tadi dia berlari?

“Sepertinya akan memakan waktu lama untuk mendapatkanmu,” ucapnya sambil mengunyah.

“Telan dulu” sanggahku. Sambil memberikan segelas air ketika dia tersedak sambil memukul-mukul dadanya.

“tapi tidak apa-apa, kulihat tadi kau nyaman sekali memelukku. Itu artinya hatimu sudah terbuka untukku kan?” Soji mengatakannya dengan wajah pongah. Ia kembali menggigit rotinya dan berkata “tenang saja, kau bisa memelukku kapanpun yang kau mau. Tapi selama aku belum menyukai wanita lain ya! Maka dari itu kau harus cepat-cepat mengakui perasaanmu padaku.”

Aku menatapnya sinis sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya satu pelukan saja sudah membuatnya besar kepala.

“Aku sungguhh-sungguh, kau bisa mengandalkanku kapanpun. Jadi, tolong jangan menyerah.”

Aku tersentuh oleh pria manis ini. Aku terus menggigit rotiku yang sedikit lagi habis, bertingkah seolah-olah tak mendengar perkataannya barusan. Aku mengamati cara makan Soji, seperti anak kecil yang senang sekali dipuji jika makan dengan lahap. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, pria besar ini masih terlihat menggemaskan.

“Aku bisa mendengarnya,” ujar Soji. Aku menatapnya keheranan. “aku sangat menggemaskan bukan? Kalau kau mau cium, aku juga tidak keberatan kok”

Jika hidup punya satu keindahan seperti Soji, maka bolehkah aku sedikit tamak dan berharap ada keindahan di hari esok?

 

 

 

 

 

 

Halo!

Jika sosok Soji tidak ada di kehidupanmu, maka jadilah Soji untuk dirimu sendiri.-Maya.

Jumat, 04 September 2020

Perempuan Bertangan Dingin

 

Penyakit ibu kambuh lagi, kali ini semakin parah. Mungkin membutuhkan waktu berminggu-minggu di rumah sakit. Penyakit ibu sering kambuh, aku sudah menganggap rumah sakit adalah rumahku juga. Ayah bekerja tak henti-henti. Ayah tidak sekarat seperti ibu, tetapi makin hari tulang wajahnya semakin timbul. Ayah bilang semuanya akan baik-baik saja. Aku tak pernah menanggapi. Dipikir bagaimanapun hanya keajaiban yang membuat semuanya baik-baik saja. Ibu bisa pergi kapan saja, aku tak bisa menyangkal itu.

Hari itu rasanya aku lelah sekali. Semalaman aku tidak bisa tidur. Takut ketika aku bangun, dada ibu tak lagi bergerak naik-turun. Dokter bilang ibu akan baik-baik saja. Nyatanya ibu tak pernah baik-baik saja. Ia selalu sakit atau sakit sekali. Aku kabur dari pelajaran olahraga saat anak-anak lain sedang berjalan menuju lapangan. Aku tidak peduli jika setelah ini aku akan menjadi buronan guru olahraga yang galak itu.

Ini bukan pertama kali aku tidak tidur, tapi kali ini rasanya berbeda. Jauh lebih melelahkan dan menyesakkan. Ketakutanku semakin menjadi-jadi sampai terkadang aku lupa bernafas nafas. Aku, ayah ataupun ibu sama-sama ketakutan walau tak satupun dari kamu yang pernah mengaku. Dari atap gedung sekolah, orang-orang terlihat kecil. Aku iri dengan mereka, kurasa mereka tidak menjalani hidup yang menakutkan sepertiku. Langit biru begitu cerah, tidak sesuai dengan suasana hatiku. Kusadari bahwa, aku benar-benar sendiri dan kesepian menanggung beban ini.

Lagi-lagi aku kesulitan bernafas, sesak. Air mataku menetes begitu saja. Belakangan aku menjadi cengeng, walau tak pernah menangis di depan siapapun. Aku cepat-cepat menghapus air mataku ketika menyadari ada keberadaan orang lain di sekitarku. Terlambat, ia melihat semuanya dan mulai menatapku dengan wajah kasihan. Awalnya kukira begitu, tetapi  bukan. Aku tidak mengerti ekspresi itu. Ia melangkahkan kakinya menjauh menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menghampiriku.

“keadaan sedang buruk sekali,ya?”

Iya. Tetapi aku menutup multku rapat-rapat.

Aku hanya diam memandangi wajahnya yang menyunggingkan senyum penuh afeksi. Mungkin hanya perasaanku, senyum itu juga terlihat rapuh.

“perlu pelukan?”  tanyanya lagi.

Aku diam beberapa detik, tapi tubuh kecil di depanku lebih dahulu memelukku dan menenggemkan wajahnya di dadaku.  

Aku runtuh seperti kastil pasir yang tersapu ombak. Aku menangis dan mendekapnya erat, tanpa tau bahwa tubuh kecil itu juga bergetar dan dingin.

Dua minggu setelahnya ibu benar-benar pergi. Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Aku tidak tau mana yang lebih hancur: aku atau ayah. Ayah tak terlihat menangis setelah pemakaman, atau mungkin ia menangis tetapi tidak di depanku. Ayah mencoba menghiburku dengan mengatakan, setidaknya ibu tidak lagi merasa sakit. Masuk akal, tetapi itu tak banyak membantu. Kami kehilangan ibu, dan bagaimanapun kami hancur. Sesuatu yang tak mungkin kami sangkal.

Gadis itu menggenggam tanganku erat, seolah tau aku sedang tak baik-baik saja. Dia selalu tau. Tangan kecil itu sering kali terasa dingin, berkeringat dan bergetar. Aku tak begitu menghiraukan sebab aku terlalu tenggelam dalam kesedihanku. Tangan ringkih itu selalu membuatku merasa sedikit lebih baik.

Waktu nyatanya memanglah obat. Aku perlahan-lahan mampu menerima kepergian ibu. Gadis bertangan dingin itu bilang, aku boleh menggenggam tangannya dan memeluknya kapanpun. Hari ini aku ingin bertemu dan memeluknya. Aku merindukan ibu dan gadis kecil itu dalam satu waktu.

Hal pertama yang kulihat ketika pintu kamarnya terbuka adalah gadis kurus yang terkulai lemah di lantai. Aku segera meraih tubuh pucat itu. Satu sayatan dalam di masing-masing pergelangan tangan dan sayatan halus yang tak terhitung jumlahnya. Aku bisa melihat dadanya yang masih sedikit bergerak walau hanya sesekali. Itu mengingatkanku pada ibu.

Orang-orang di koridor rumah sakit mengamatiku. Akhirnya aku sadar bahwa celana dan jaketku memiliki noda darah yang menyita perhatian. Aroma parfumku bercampur dengan aroma amis besi berkarat.

Di depan ruang perawatannya aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang menangis histeris. Aku merengkuhnya tanpa berkata apapun. Aku seolah menenangkannya, tetapi sesungguhnya akupun memerlukan itu untuk menenangkan diriku sendiri.

“lima kali” ujar wanita itu sesegukan. “dua kali dengan obat tidur, dua kali dengan racun, ini yang kelima. Aku ibu yang buruk, aku bahkan tak mampu mencegahnya mendekati kematian.”

Gadis itu bisa pergi kapan saja, sama seperti ibu waktu itu. Seandainya aku sedikit lebih menaruh perhatian pada tangan kecilnya yang gemetar dan dingin, mungkinkah aku sedang memeluknya sekarang? Bukankah aku terlalu sibuk dengan lukaku sendiri?

Gadis itu terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Nafasnya yang terlihat samar-samar menenangkanku. Aku bisa melihat tulang selangkanya yang menonjol dan lingkaran mata yang gelap. Dia terlihat sangat rapuh seolah-olah siap hancur kapan saja. Kedua pergelangan tangannya sudah terbalut perban. Aku kemudian teringat genangan darah di lantai kamarnya. Aku tak berani membayangkan jika aku datang terlambat.

Aku menemuinya setelah seorang psikiater keluar dari kamarnya. Aku memasang senyum terbaikku seolah tak ada hal besar yang terjadi beberapa hari lalu. Aku menyapanya. Dia membalas dengan tersenyum. Sekarang aku yakin bahwa senyum yang dulu kulihat benar-benar sarat akan kerapuhan.

“keadaan sedang buruk sekali,ya?”

Dia masih tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“butuh pelukan?”

Tanpa persetujuan, aku langsung memeluknya.

 

Tahun-tahun selanjutnya tidak begitu mudah. Ada kalanya tangan gadis itu kembali gemetar dengan keringat dingin yang mengalir deras. Dia tak pernah menyerah. Dia menjadi lebih terbuka dan menghambur ke pelukanku kapanpun 'waktu buruk' itu datang. Sering kali aku pun mengalami hari-hari sulit. Setiap hari itu datang, aku ingin segera pulang dan mendengar si gadis bertanya “butuh pelukan?”  

Selasa, 30 Juni 2020

Di Bawah Langit Biru


Aku dan Jihyun punya banyak kesamaan. Jihyun benci serangga, aku juga. Jihyun benci pada matematika, aku juga. Jihyun benci pada guru baru kami yang memberi tugas seolah kami tidak punya kehidupan. Aku juga.
Jihyun menyukai ensiklopedia bergambar, aku juga. Kami sangat suka ensiklopedia tentang mumi. Jihyun suka menguyah permen karet di tengah-tengah pelajaran, aku juga. Jihyun sangat menyukai langit biru yang cerah. Aku juga.
Hari itu, tidak ada awan di atas kepala kami. Langit seolah seutuhnya berwarna biru. Pagi itu cerah sekali. Siswa baru saling menatap dan sesekali berbicara dengan canggung satu sama lain. Aku memilih untuk menjadi mumi, sebab aku tidak pandai dalam bersosialisasi.
Jihyun cukup mencolok diantara murid lain yang berbaris di lapangan. Tidak ada siswa laki-laki yang setampan Jihyun. Menurutku sih. Pernah dengar ketika salah satu indramu tidak berfungsi, maka indra lainnya akan lebih peka? Mataku sangat lihat mengamati beberapa siswa mengamatinya. Sebenarnya tidak bisa dibilang beberapa, cukup banyak mungkin lebih tepat. Sebagian mengamatinya dengan tatapan kagum, sebagian lagi seolah hendak menerkam. Uh, agresif sekali.
Aku bisa melihat sebagian anak laki-laki menatap Jihyun dengan sinis. Pasti mereka adalah siswa yang bangun di pagi buta untuk menata rambut agar dapat terbar pesona di hari pertama. Aku bisa melihat pomade berkilau mereka dari jarak sejauh ini. Menyilaukan sekali.
Mataku bertemu dengan maniknya. Hanya sepersekian detik kemudian kami saling membuang muka. Itu bukan tatapan yang akan membuatku tidak bisa tidur karena mabuk kepayang. Itu hanya sebuah tatapan biasa karena kau punya sepasang mata.
Aku dan Jihyun berada di kelas yang sama. Siswa lain mulai mengakrabkan diri satu sama lain. Aku dan Jihyun lebih memilih menunggu siswa lain membuka obrolan dengan kami. Sudah kubilang kan, aku dan Jihyun itu memiliki banyak kesamaan. Kami sama-sama tak pandai bersosialisasi.
Percakapan kami terjadi di dalam perpustakaan sekolah saat istirahat makan siang. Aku dan Jihyun sama-sama hendak mengambil ensiklopedia mumi. Aku mengalah dan membiarkanku untuk membacanya terlebih dulu. Aku bisa membaca buku itu lain waktu, lagi pula aku sudah membacanya empat kali.
Mungkin karena hari itu juga sama birunya dengan hari pertama kali kami bertemu, kami memiliki suasana hati yang bagus. Jihyun membuka obrolan dengan mengatakan mumi dari Palermo sangat indah. Itu juga merupakan mumi kesukaanku. Aku menanggapinya dengan antusias. Itulah dialog pertama kami.
Tahun-tahun selanjutnya, aku dan Jihyun tetap menjadi teman sekelas. Seiring berjalannya waktu, kami semakin akrab. Mungkin karena kami memiliki banyak kesamaan. Aku bisa berubah sedikit lebih cerewet ketika berbicara dengan Jihyun, begitu pula sebaliknya. Kami yang asli banyak bicara. Kami membicarakan berbagai hal, mulai dari mengapa sekolah harus memberikan tugas untuk dibawa pulang hingga mengapa alien tidak kunjung menginvasi bumi.
Teman-temanku mengakui bahwa tingkah lakuku seperti Jihyun tetapi versi perempuan. Aku dan Jihyun berbaur dan berteman dengan siswa lain. Kami hanya tidak terlalu pandai bersosialisasi di awal, bukan anti sosial.
Suatu siang, kami dipulangkan lebih cepat. Aku bahkan lupa mengapa kami dipulangkan lebih cepat, tetapi aku ingat bagaimana bahagianya hari itu. Aku dan Jihyun tentu saja tidak begitu menyukai sekolah, tapi bukan itu hal yang paling membahagiakan.
Siang itu kami sudah membuat agenda akan mengerjakan tugas berpasangan yang diberikan beberapa hari lalu. Saat aku sedang memasukkan beberapa buku ke dalam lokerku, Jihyun tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Ia bergumam pelan “Hari ini tidak usah mengerjakan tugas ya.”
Aku lekas menutup lokerku dan berbalik menatap wajahnya dengan penuh tanda tanya. “Kenapa? Bukannya kemarin kita sudah sepakat?”
Jihyun tersenyum tertahan, tapi aku bisa melihat lesung pipinya dengan jelas. Telinganya memerah, begitu juga dengan wajahnya. Apa dia sakit?
“Hari ini cerah sekali. Sayang jika tidak dipakai untuk bersenang-senang. Kita kencan saja ya?”
Untungnya hari itu aku menggerai rambutku. Jihyun tidak boleh melihat telingaku yang memerah. Aku menyembunyikan semburat merah di wajahku dengan menunduk. Tanpa menunggu jawabanku, Jihyun meraih tanganku. Menggenggamnya dan tidak dilepaskan seharian itu.
Jihyun memperlakukanku seolah-olah aku adalah balon helium. Jika lepas maka aku akan hilang.
“Jihyun, aku tidak akan hilang di keramaian. Aku lahir di sini, jadi sekalipun aku hilang di keramaian , aku tidak mungkin tersesat.”
Jihyun menoleh padaku. “Namanya juga kencan. Saat kencan, kadang kau harus berpura-pura tidak dapat melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kau lakukan.”
“Jadi aku harus pura-pura akan tersesat jika melepaskan tanganmu?”
Jihyun mengangguk tetapi ia sudah buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Pasti dia menahan malu. Aku juga.
“Apa aku boleh berpura-pura tidak bisa membeli es krim padahal uang sakuku minggu ini masih utuh di dalam dompet?” Aku mencoba sedikit menggodanya. Balas dendam karena tiba-tiba mengadakan kencan.
“Wah, kau cepat belajar rupanya.”
Kami tertawa dengan tangan yang masih saling menggenggam.Tidak baik untuk jantungku memang, tetapi aku merasa nyaman dan hangat yang menjalar dari tangan kemudian menuju dadaku. Kami mengunjungi kedai es krim, perpustakaan kota, taman bermain dan memutuskan pulang ketika langit sudah mulai gelap.
Jihyun mengantarku pulang. Dia bilang akan pulang setelah melihatku masuk ke dalam rumah. Aku tidak segera masuk. Mungkin karena masih ingin bersama Jihyun lebih lama atau karena laki-laki ini seperti ingin mengutarakan sesuatu yang tersangkut di lehernya.
“Katakan saja” Bersama Jihyun selama dua tahun membuatku memehami Jihyun dengan baik.
Jihyun mengusap tengkuknya. Aku masih menunggu dalam diam.
“Apa kau senang hari ini?” tanya Jihyun ragu-ragu.
“Tentu” jawabku seenteng mungkin.
“Kalau begitu kita harus sering-sering kencan. Maksudku, kau tau..” Jihyun kembali mengusap-usap tengkuk sambil mengulum bibir bawahnya. “Kencan itu dilakukan sepasang kekasih, jadi...”
Ah, aku paham ke mana arah pembicaraan ini. Jihyun masih kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat namun segera melanjutkan “mari berkencan lagi di lain waktu sebagai sepasang kekasih.”
Sudah kubilang kan, aku dan Jihyun itu memiliki banyak sekali kesamaan. Aku mengangguk dengan seulas senyuman malu. Aku yakin kami merasakan hal yang sama. Ketika Jihyun jatuh cinta, aku juga.
Di hari-hari yang cerah kami kembali mengulangi kencan kami. Sesekali kencan kami batal karena hujan yang mendadak turun, atau karena kesibukan kami yang semakin padat seiring bertambahnya usia dan kewajiban. Itu bukan masalah, sebab aku dan Jihyun masih sama-sama jatuh cinta.
Sesekali di hari yang cerah, di bawah langit biru kami berselisih seperti pasangan lainnya. Terkadang kami juga berselisih di hari yang kelabu. Aku dan Jihyun tidak menyukainya, sebab ketika hujan kesedihan terasa semakin menyedihkan. Kami baik-baik saja, sebab kami akan berbaikan setelahnya. Kami masih jatuh cinta. Walau rasanya tidak semenggebu dulu. Tidak masalah, cinta memang begitu bukan? Seperti laut, kadang pasang dan kadang surut. Aku percaya itu, Jihyun juga.
Di hari-hari cerah selanjutnya kami tidak banyak berselisih. Kami lebih jarang berbicara dan sibuk dengan dunia masing-masing. Sesekali kami saling berkirim pesan. Rasanya ini lebih buruk ketika aku dan Jihyun sering berselisih. Aku akan menangis karena sakit tetapi akan tersenyum lega ketika kembali memeluk Jihyun. Kenapa sekarang rasanya hambar sekali? Apa Jihyun juga merasa begitu? Aku tidak berani bertanya, takut yang kukhawatirkan jadi kenyataan.
Bekerja di dalam suatu firma hukum membuatku kerap kali bertemu dengan orang-orang yang menggugat cerai pasangan mereka. Tentu kami akan menyarankan mereka berdamai dengan pasangan mereka terlebih dulu. Sebagian berhasil, sebagian lagi tetap bersikukuh untuk berpisah. Mereka yang keras kepala ini membuatku berfikir, mengapa mereka bisa bersikukuh untuk menyelesaikan sesuatu yang awalnya mereka mulai dengan harapan?
Hanya saja, melihat mereka yang datang dengan wajah kecewa aku memahami sesuatu. Tak ada satupun dari mereka yang berharap akan mengakhiri kisah cintanya dengan buruk. Membayangkannya saja barangkali mereka tak pernah. Seperti aku, yang tak pernah membayangkan akan berpisah dengan Jihyun.
Di bawah langit yang biru, Jihyun bilang apapun bisa saja terjadi. Aku percaya itu, seperti kami percaya bahwa alien itu ada dan bisa saja datang ke bumi sewaktu-waktu. Jihyun benar, di suatu hari yang cerah kami memutuskan untuk berpisah. Aku dan Jihyun tak begitu pandai soal mengungkapkan perasaan. Jihyun terlalu lama memendam perasaanya yang berubah, aku juga. Aku terlalu takut berpisah dengan Jihyun, begitu pula dengan Jihyun. Aku dan Jihyun merasakan hal yang sama, hambar.  
Untuk hari-hari yang akan datang nanti, entah cerah ataupun hujan, aku dan Jihyun memiliki harapan yang sama: bertemu dengan orang yang membuat kami saling melengkapi.

Kamis, 18 Juni 2020

Letter to Tsundere


Aku masih duduk di bangkuku. Sudah 30 menit sejak bel pulang sekolah berbunyi. Aku masih menunggu, memastikan keadaan kelas kosong sepenuhnya. Ada misi rahasia yang akan kulaksanakan. Ini misi yang sudah tertunda lama, meskipun sejak dulu sudah ingin sekali kulakukan.
Selama tiga puluh menit itu pula aku kembali merasa goyah dan menimbang-nimbang niat konyolku ini. Berkali-kali aku memandangi surat kecil di dalam genggamanku. Ini sebuah surat pernyataan yang amplopnya berwarna merah muda. Sepertinya aku salah memilih warna, Jihyun pasti tidak suka warna-warna pastel yang cerah. Jihyun selalu menggunakan warna-warna gelap. Kontras sekali dengan kulitnya yang pucat.
Jihyun itu pendiam, berbicara seperlunya, terlalu kaku dan dingin. Dia tidak punya banyak teman karena orang-orang terlalu segan untuk mendekatinya. Dia adalah tipe ‘manusia terakhir’ yang akan kau tawarkan untuk menjadi anggota untuk mengerjakan tugas kelompok.
Sungguh, Jihyun sama sekali tidak menyebalkan. Dia cerdas, namun tidak begitu populer. Jihyun juga manis, menurutku.  Jihyun punya lesung pipi saat ia tersenyum. Tidak banyak yang tau hal itu, sebab Jihyun jarang sekali tersenyum. Aku yakin Jihyun punya beberapa penggemar rahasia. Tentu saja karena mereka merahasiakan identitas mereka, aku tidak tau siapa pastinya sainganku itu.
Pada hakikatnya, cinta itu bodoh. Artinya:semakin cinta, maka kau akan semakin bodoh. Sejak kehadiran Jihyun dalam kepalaku membuatku menjadi bodoh, aku yakin aku sudah jatuh cinta. Itu kesimpulan yang kudapat setelah berbulan-bulan mengamati dan terkadang membuntuti Jihyun. Lihat, aku rela menjadi stalker karena si batu itu.
Aku rasa warna merah jambu sudah benar. Ini surat cinta, jadi mana ada surat cinta yang sampulnya hitam. Aku hanya perlu meletakkan surat ini di laci meja Jihyun kemudian pulang.
“kau tidak pulang?”
Aku terkejut ketika Jihyun sudah berdiri di depan kelas dan berjalan mendekatiku. Kedua tanganku yang masih memegang sepucuk surat itu cepat-cepat kusembunyikan. Sayangnya karena terlalu gugup surat itu lepas dari genggamanku.
Aku segera berdiri untuk mengambil surat itu. Walaupun memang surat itu untuk Jihyun, tapi bukan begini skenario yang aku harapkan. Ini terlalu mendebarkan, aku bisa mati dalam keadaan berdiri.
Jihyun lebih dulu meraih surat itu. Sial! Kenapa pula aku menulis nama Jihyun di sampulnya. Lihat! Jihyun sekarang mengerutkan keningnya sambil sesekali melirik kepadaku. Jihyun tidak mengucapkan apa-apa dan langsung membuka surat itu.

Untuk Jihyun,
Aku beruntung bisa sesekali melihatmu tersenyum. Itu indah, jadi aku harap kau selalu bahagia.  Aku bisa tersenyum seperti orang bodoh setiap mengingatmu, jadi aku yakin sudah benar-benar jatuh cinta padamu.
Scarlet.


Jihyun memang benar-benar manusia batu. Setelah membaca surat itu ekspresinya tidak berubah. Apa ini pertanda cintaku akan gugur sebelum bersemi? Ah, wajahku terasa panas. Dibandingkan malu, aku lebih merasa kecewa. Sepertinya hanya aku sendiri yang mencinta di sini.
“Aku tidak suka orang bodoh.”
Tubuhku menegang mendengar ucapan Jihyun. Penolakan ini terasa semakin jelas.
“Aku juga tidak terbiasa dengan percintaan atau sejenisnya.”
Ah iya, benar juga. Jihyun lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku dan belajar. Jadi Jihyun pasti tidak punya pikiran untuk kencan. Apalagi dengan perempuan bodoh sepertiku.
“Jadi, supaya aku terbiasa bagaimana bagaimana kita mulai dengan kencan? Bagaimana kalau hari minggu ini?”

Selasa, 16 Juni 2020

Letter from Tsundere Baby


Selembar kertas telipat menjadi dua. Warnanya agak kekuningan dan tergeletak di atas meja kerjaku.  Anehnya, aku rasa itu bukan milikku. Aku tidak ingat pernah menulis di kertas kecil itu. Aku meraih dan melebarkannya. Ah, ini tulisan Jiyhun. Kenapa harus menulis surat segala? Padahal dia masih di sini hingga pagi tadi. Dia pikir sekarang tahun berapa? Kenapa dia mendadak kuno sekali?

Untuk nona Scarlet,
Tolong dengarkan aku sesekali, aku tau kepalamu terbuat dari batu tapi tolonglah berhenti makan-makanan manis. Gigimu itu berlubang! Memangnya berapa umurmu sampai sakit gigi hanya karena terlalu banyak makan permen, coklat dan es krim? Setiap gigimu sakit kau selalu memaksaku untuk menginap di apartemenmu. Lagi pula yang sakit itu gigimu kenapa pula tanganku yang harus jadi korban? Kau punya bantal, tetapi kenapa harus tidur di lenganku sepanjang malam? Setiap kali gigimu sakit, tanganku rasanya pegal sepanjang hari.
Kau tau? Kau bertambah gemuk tetapi selalu merengek minta digendong. Yang suka minum susu vanila itu kau, bukan aku. Jadi harusnya tulangmu lebih kuat dari pada pinggangku yang rasanya hampir patah setiap kali kau tiba-tiba lompat minta digendong.
Sejek kencan denganmu uang bulananku selalu selalu menipis walau belum akhir bulan, kau tau betul kemana semua uang itu pergi. Berhentilah makan makanan aneh di sepanjang jalan, atau setidaknya tolong kurangi. Mana bisa pria sepertiku tidak membelikanmu makanan ketika kau merengek di depan penjualnya? Mau ditaruh di mana wajahku? Lagipula, semua makanan itu tidak sehat dan hanya membuat lemak di perutmu bertambah. Harusnya yang datar itu perutmu, bukan dompetku.
Kau yang pendek, kecil, dan merengek setiap tidak dibelikan permen kapas itu menyebalkan sekali, tapi kau yang seperti itu selalu membuatku ingin melindungimu. Kau itu seperti barang ringkih, aku tidak bisa tidak berlaku baik padamu. Jadi, tolonglah jangan terlalu menyiksaku. Kau yang seperti itu selalu membuatku tidak ingin jauh darimu. Rasanya dunia terlalu damai tanpa kehadiranmu. Tidak seru.
Jadi, bagaimana kalau kau menikah denganku?

Aku segera meraih ponselku dan mengirimkan pesan untuk Jihyun
“Tolong lamar aku dengan benar! Atau aku akan bilang ‘Iya’ pada pria lain!”





Terima kasih kepada yang bikin tik tok halunya Jimin: yang marahin pacarnya gara-gara sakit gigi habis makan es krim.  

Minggu, 24 Mei 2020

Eight


Suatu hari, di bawah langit sore yang jingga, kita akan bertemu lagi bukan?
Itu adalah kalimat terakhir dari novel yang baru selesai kubaca. Kalimat itu penuh harap itu membuatku ikut berharap; semoga mereka dapat bertemu lagi.  Entah itu di bawah langit yang jingga, kelam ataupun biru tak berawan. Ada rasa sesak yang kurasakan setelah membaca novel itu, sebab aku sangat mengerti; tidak semua harapan harus terwujud.
Es di dalam minumanku sudah mencair. Susu Vanila itu pasti sudah hambar. Aku larut terlalu lama dalam novel menyebalkan itu. Bisa kusimpulkan bahwa penulisnya adalah manusia yang kejam.
Perhatianku teralihkan oleh dua remaja di meja seberang. Keduanya masih menggenakan seragam sekolah.  Mereka saling berhadapan tetapi lebih banyak diam dibandingkan berbincang. Apa mereka pasangan baru? Apa ini kencan pertama mereka? Aku yakin mereka sepasang kekasih atau paling tidak salah satu di antaranya sedang berusaha merayu. Tatapan malu-malu yang bersemu itu terlalu jelas. Aku ikut menahan senyum melihat mereka.  Aku tidak punya kisah semanis itu saat seusia mereka, jadi anggaplah aku sedikit iri.
Aku bukan siswa yang cerdas ketika sekolah, sehingga aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar. Aku tidak memiliki banyak teman, karena aku tidak pandai berteman. Sejujurnya aku tidak suka belajar, tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku merasa tidak punya masa depan jika aku tidak diterima di perguruan tinggi.  
Aku tidak menonjol di bidang apapun. Aku merasa tidak ada yang spesial dengan diriku ataupun kehidupanku. Aku yakin tidak banyak teman-teman seangkatan yang ingat denganku. Itu bukan masalah. Aku tidak terlalu berharap mereka mengingatku.
Harapanku waktu itu hanyalah diterima di perguruang tinggi. Tetapi suatu hari kudapati diriku memiliki harapan lainnya , dan dari hari ke hari aku semakin tamak dalam berharap.
Aku berharap ia tidak marah padaku ketika aku sering kali tertangkap basah sedang menatap matanya. Itu adalah harapan pertamaku. Awalnya aku hanya tertarik karena mata itu terlihat tajam, dingin dan mengintimidasi. Tetapi aku juga mendapati bahwa tatapan itu sarat akan kesepian. Jika benar ia kesepian, bolehkah aku tau apa yang membuatnya kesepian? Itu adalah harapan keduaku.
Laki-laki itu tidak menghiraukan keberadaanku meskipun kami berada di kelas yang sama. Tetapi itu pula yang dilakukannya kepada semua orang di kelas bahkan seluruh sekolah. Kami berdua semacam alien; tidak berteman, tidak ingin berteman, dan jangan anggap kami sebagai teman.  Aku merasa bahwa kami sama. Mungkin karena itulah aku berharap kami dapat berteman. Itu adalah harapanku yang ketiga.
Dia adalah siswa pindahan dari kota lain. Dia jarang berbicara, tetapi aku pernah mendengarnya berbicara beberapa kali. Dia berbicara dengan dialeg daerah selatan. Karena dia jarang berbicara atau rasa ketertarikanku yang tinggi, aku ingin mengenalnya lebih dalam. Itu harapanku yang keempat.
Aku terbiasa ke perpustakaan kota seusai sekolah. Aku tidak bisa belajar di rumah karena kedua adikku sangat berisik. Perpustakaan kota tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya butuh berjalan kaki sekitar 15 menit. Tepat dua bangunan sebelum perpustakaan kota, berdiri sebuah kedai es krim kecil. Aku sering mampir membeli satu atau dua scoop eskrim vanila sebelum masuk ke perpustakaan.  Dinginnya es krim mampu mencairkan otakku yang beku, setidaknya begitulah menurutku.
Hari itu, setelah aku menerima dua scoop es krim dari penjaga kasir aku tidak sengaja bertemu dengan laki-laki itu. Aku hanya melihatnya sekilas kemudian membuang muka ke arah lain. Aku rasa kami tidak sedekat itu untuk berbincang-bincang atau sekedar basa-basi. Kami bahkan tidak pernah berbicara sebelumnya. Aku memilih tempat duduk di pojok belakang, sedangkan laki-laki itu duduk di pojok depan. Dia menghabiskan es krimnya sambil menatap ke luar jendela. Entah apa yang menarik di luar sana. Aku rasa apa yang sedang dia pikirkan jauh lebih menarik dari pada apa objek yang sedang ditatapnya.  
Aku masih ingin lebih lama di sini, tapi setumpuk tugas di dalam tasku seolah meronta-ronta meminta segera dikerjakan. Sebelum aku berdiri, kutatap laki-laki itu sekali lagi. Bibirnya kecil dan jarang tersenyum. Apa kira-kira yang membuatnya tersenyum? Matanya berkantung dan gelap. Apa dia kurang tidur? Atau dia kesulitan tidur? Aku menghentikan berbagai pertanyaan di dalam kepalaku, kemudian meraih tasku dan berjalan menuju pintu keluar. Aku berjalan dan mengarahkan pandanganku ke arah yang berlawanan dari tempat duduknya. Kontak mata hanya akan membuat suasana semakin canggung.
Setelah meloloskan diri dari pintu kedai, aku menarik nafas panjang. Aku berusaha untuk berhenti memikirkan laki-laki itu dan mulai menyibukkan pikiranku seputar tugas yang harus kukerjakan. Aku melangkah menuju perpustakaan kota.
Aku memilih duduk menghadap jendela dan mulai membuka buku. Suasana perpustakaan yang sepi bertolak belakang dengan pikiranku. Kepalaku masih dipenuhi dengan laki-laki bermata dingin itu. Apa yang dia lakukan setelah keluar dari kedai itu? Apa dia akan mengerjakan tugas juga? Apa dia kesulitan mengerjakan tugas?  Ah, sepertinya dia cukup pintar.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku dan mulai membaca soal-soal di buku. Ah, ini sulit. Aku lebih suka memikirkan laki-laki itu dibanding mengerjakan tugas ini. Tidak, tetaplah waras, kerjakan tugas ini dan masuklah ke perguruan tinggi. Apakah dia juga ingin melanjutkan ke perguruan tinggi? Ah, ada apa denganku. Kenapa semuanya harus jadi berkaitan dengan laki-laki itu.
“Keberatan aku duduk di sini?”
Aku mendongak pada sosok yang berdiri di hadapanku. Wajahnya datar, tatapannya tegas dan dingin. Siapa yang berani bilang tidak padanya.
Aku mengangguk. Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba menghilangkan laki-laki itu dari pikiranku tapi dia malah berada di hadapanku sekarang. Menarik kursi di hadapanku dan mulai membuka buku. Sepertinya aku hari ini aku akan kesulitan mengerjakan tugasku.
Apa yang membuatnya harus duduk di hadapanku? Bukankah tadi kami berpura-pura tidak kenal di kedai es krim? Aku meliriknya sekilas. Tidak ada kemarahan di wajahnya walaupun ekspresinya selalu dingin. Sepertinya dia tidak berniat buruk atau semacamnya kepadaku.
“Ducan. Kita satu kelas. Ingat?”
Dia tak menatapku dan sibuk membolak-balik halaman bukunya.  Aku menjawab “Ya” sambil mengangguk. Padahal Ducan sama sekali tak melirikku.
Akhirnya tercipta sebuah percakapan di antara kami. Walaupun sedikit dan canggung, aku merasa senang. Mungkin kecanggungan akan menjadi awal bagi kamu untuk lebih dekat. Itulah harapanku yang kelima.
“Apa ada yang tidak kau mengerti?”
Ada. Banyak. Aku tidak mengerti sama sekali tentangmu.
Aku tersadar, sejak tadi aku hanya membolak balik halaman buku di pangkuanku. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Ducan sudah meningalkan tempat duduknya. Mataku tak dapat lepas darinya ketika di berjalan mendekat ke arahku. Ia menarik satu kursi di sebalahku.
“Yang mana?” seraya meraih buku di pangkuanku dan meletakkannya di atas meja.
Aku tidak mampu berfikir ketika sepasang iris hijau itu menatapku. Dia tidak tersenyum, tetapi aku merasakan mata yang dingin itu berubah hangat. Dengan jarak sedekat ini aku dapat melihat tahi lalat kecil di pelipisnya serta bekas luka kecil di dekat kelopak matanya. Dia manis dan hangat.
Aku menunjuk nomor soal secara acak. Aku tidak mampu berfikir. Rasanya selama Ducan berada di sekitarku, aku tidak bisa mengerjakan soal manapun. Dia mengambil alih atensiku seluruhnya tanpa menyisakan sedikitpun. Dia mulai menjelaskan cara mengerjakan soal yang tadi kutunjuk. Aku tidak paham sedikitpun tentang apa yang dia katakan. Aku menikmati suaranya yang berat. Sesekali ia menoleh ke arahku, memastikan bahwa aku tidak kebingungan. Aku hanya mengangguk-angguk tanpa paham sedikitpun. Aku berharap waktu berhenti atau setidaknya berjalan lebih lambat. Itulah harapan keenamku.
Ducan menatap jauh ke luar jendela saat kami baru saja menyelesaikan soal ke delapan. Langit sudah seutuhnya berubah kelam. Waktu tidak berhenti ataupun berjalan lambat. Aku terlalu menikmati dan mulai tamak.
Kami mengemasi buku-buku di atas meja untuk bersiap pulang. Tentu saja aku mengemasi barang-barangku dengan berat hati. Ducan memintaku meminjamkannya salah satu buku catatanku. Aku memberikannya dan mengemasi barangku yang lainnya. Aku kira dia akan meminjamnya hingga besok, tetapi hanya selang beberapa menit dia mengembalikan catatanku. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Kami memang tidak banyak berbicara, tetapi hari ini aku senang bisa mendengar Ducan berbicara lebih banyak. Dan semua yang dia ucapkan itu, untukku.
Aku dan Ducan berjalan pulang bersama. Di tengah perjalanan kami, kuketahui bahwa rumahnya berlawanan dengan rumahku, tetapi dia tetap bersikeras untuk mengantarku. Tidak, dia tidak bersikeras. Dia hanya mengatakan ‘tidak masalah’ dengan tatapan dingin. Aku tidak berani menolak dan sejujurnya hatiku bersorak karena bisa sedikit lebih lama bersama Ducan.
Kami berjalan berdampingan dan tak banyak bicara. Sesekali aku menunduk atau mengarahkan wajahku menjauh dari Ducan dan tersenyum. Wajah manis di bawah remang lampu jalan ini tidak mungkin akan ku lupakan. Aku menjadi sedikit lebih tamak dan berharap ini akan terulang. Itu adalah harapan keketujuhku.
Hari-hari setelah itu aku sama sekali tidak melihat Ducan. Dia menghilang. Sayup-sayup kudengar dari bangku belakangku bahwa Ducan mengalami kecelakaan satu hari setelah kami bertemu. Seorang pengendara mabuk menabraknya hingga nyaris tewas. Pengemudi itu tewas di tempat. Ducan dibawa ke rumah sakit yang lebih besar di kota lain. Setelah itu Ducan tidak pernah kembali dan orang-orang tidak membicarakannya lagi.
Dibandingkan khawatir aku lebih merasakan kehilangan. Aku selalu membawa buku catatanku ke manapun. Itu adalah buku catatan yang pernah dipinjam Ducan selama beberapa menit di perpustakaan. Aku yakin beberapa menit itu digunakannya untuk menyelipkan secarik kertas di antara halamannya. Aku melihat tulisan di secarik kertas itu sehari setelah pertemuan terakhir kami. Ducan meninggalkan sebuah pesan untukku.
Kau manis. Kuharap kau selalu bahagia.  
Singkat dan lugas, aku yakin itu Ducan. Kuanggap itu sebagai surat cinta. Orang-orang bilang cinta pertama tidak pernah berhasil. Aku tidak peduli. Aku ingin bertemu sekali lagi dengan Ducan suatu hari nanti. Itu adalah harapanku yang kedelapan.

Sepasang kekasih di depanku sudah mengalami kemajuan. Mereka mulai tertawa bersama dan sesekali si laki-laki mengacak-acak rambut kekasihnya dengan gemas. Aku yang tidak ingin semakin iri dengan pasangan muda itu beranjak dari tempat dudukku.
Pada dasarnya manusia itu tamak. Mereka mengharapkan banyak hal bahkan hingga tak jarang mereka lupa dengan apa yang mereka harapkan. Harapan adalah salah satu yang membuat manusia menjadi hidup. Harapan bisa jadi terwujud ataupun tidak. Tetapi terlepas dari itu semua, kebahagiaan manusia ada di tangan mereka sendiri. Ingin berlarut dalam kekecewaan atau melanjutkan dan memulai harapan baru.  
Langkahku terhenti ketika seorang bocah kecil tersandung di hadapanku. Kulihat lututnya merah dan sedikit berdarah. Dia menangis melihat darahnya yang tak seberapa. Aku segera meraih bocah itu dan menggendongnya.
“Ayah!” bocah itu meraung  sambil memanggil ayahnya. Kudegar langkah kaki yang semakin dekat denganku. Aku berbalik dan anak itu langsung mengulurkan tangannya kepada pria di depanku. Dengan sigap pria itu meraih bocah kecilnya.
Anak itu sudah berada di gendongan ayahnya dan tangisnya mulai mereda. Aku memperhatikan lekat-lekat wajah pria di hadapanku ketika ia hendak mengucapkan terima kasih.
Iris hijau itu terlihat hangat saat ini. Tahi lalat di pelipis, bekas luka di kelopak mata, dan ada beberapa bekas di bagian lain. Tetapi aku yakin, dia pria yang meninggalkan secarik kertas di buku catatanku.
Aku mendapati dia menunjukkan wajah sama terkejutnya denganku. Aku yakin dia mengenaliku. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama, tapi aku yakin dia masih mengenaliku.
“Mama!” Aku sedikit kaget dengan gadis kecil yang tiba-tiba memeluk pinggangku dari belakang. Tubuh kecilnya membuatku sedikit menunduk, kemudian kuacak surainya dengan gemas. Aku menoleh ke belakang kemudian tersenyum pada William, suamiku.  
Kualihkan kembali atensiku pada Ducan. Kami berdua tersenyum. Hari ini, di bawah langit jingga kami bertemu kembali. Aku lega, bahwa kami berdua bahagia.



Terima kasih kepada IU dan Suga atas lagu Eightnya, serta lagu Haruman (Just One Day)-BTS. 

Senin, 18 Mei 2020

Perjalanan Satu Scoop Es Krim


“Kepada para pemenang silahkan naik ke atas panggung”
Aku hanya duduk di kursiku. Nama timku tidak disebutkan. Aku sudah menduga, dan aku sudah menyiapkan diriku. Kenapa dadaku tetap terasa nyeri?
Aku mencoba menjaga ekspresiku dan bertepuk tangan, sama seperti orang-orang di sekitarku. Ini bukan kekalahan pertamaku. Aku bahkan tak pernah memenangkan apapun. Kenapa aku tetap tidak terbiasa. Apa aku kurang keras pada diriku sendiri? Atau memang aku tidak berbakat?
Teman-temanku setidaknya memiliki suatu keahlian. Awalnya aku kira aku juga begitu. Aku hanya perlu melihat diriku sendiri dan menemukan apa keahlianku. Semakin kudalami ternyata aku malah tersesat. Aku tidak tau harus berjalan ke arah mana. Berjalan ke arah manapun tidak menjanjikan kepastian yang aku inginkan.
Ah, lihat itu. Betapa sumringah senyum seorang pemenang. Setidaknya aku ingin sekali saja memegang sebuah tropi kemenangan. Aku terlalu sering mengalami kekalahan hingga rasanya aku benar-benar malu. Aku malu pada diriku yang tidak mampu tetapi selalu keras kepala untuk mencoba. Apa aku terlalu tidak tau diri?
Sewaktu kecil aku ingin sekali menjadi penari balet. Aku tinggal di daerah terpencil. Tidak ada kursus balet di sana. Aku melampiaskannya dengan berlatih senam lantai. Aku tau dua hal itu berbeda. Aku hanya merasa bahagia setiap melakukannya. Seiring berjalannya waktu, aku bosan dan berhenti melakukannya.
Saat remaja aku mulai tertarik dengan piano. Di kota itu, tak ada seorang pun yang memiliki piano. Aku mendapatkan sebuah keyboard bekas keluaran lama, tetapi aku tetap menyebutnya piano. Bagiku mereka sama saja. Toh aku tidak pernah melihat bagaimana bentuk piano sungguhan, jadi aku tidak bisa membandingkan mereka.  
Aku berlatih hampir setiap hari. Rasanya menyenangkan sekali ketika memainkan sebuah lagu yang kusuka. Aku melupakan hari-hari berat yang kulalui di sekolah. Tidak memiliki teman itu cukup berat buatku, meskipun itu sudah terjadi dari dulu.   
Ibu dan ayah jarang memujiku terang-terangan, tetapi nampaknya mereka cukup bangga padaku. Aku mulai mendapat pujian dari beberapa orang, itu membuatku semangat untuk terus berlatih. Suatu waktu aku mendapatkan diriku tidak memiliki perkembangan. Rasanya permainanku tidak sebagus seorang teman yang kukenal. Aku berusaha untuk tidak berkecil hati dan tetap berlatih.
Suatu hari aku mampu membuat lagu pertamaku. Aku sangat bangga. Ibu bahkan menyimpan rekaman lagu itu hingga sekarang. Aku senang sekali. Aku berlatih membuat beberapa lagu setelah itu.
Kurasa, lagu-lagu yang kutulis tidak cukup bagus. Mereka terdengar terlalu biasa bagiku, tidak ada yang menarik. Aku tidak puas. Aku mulai berkecil hati, dan lama kelamaan semakin jarang menulis lagu.
Aku sibuk belajar saat kusadari nilai-nilaiku tidak sebagus teman-teman yang lain. Meskipun aku belajar dengan giat, aku tidak menjadi siswa terbaik di kelas. Aku tak masalah dengan itu, setidaknya teman-teman dan guruku menganggapku siswa yang cerdas. Aku senang dianggap demikian. Itu artinya kecerdasanku diakui.
Aku tidak suka belajar, tetapi aku tetap memaksakan diri. Aku harus tetap menjadi si cerdas yang diakui. Itu sulit. Semakin lama aku semakin terpuruk, sebab perlahan-lahan aku tertinggal. Siswa lain berada di depanku. Merekalah yang memegang predikat ‘si cerdas yang diakui’ sekarang.
Aku memutar otak. Apa yang harus aku lakukan agar aku diakui? Aku mulai berfikir, mungkin saja aku memang tidak terlalu baik di bidang akademik. Aku mulai menggeluti bidang lainnya. Aku mendaftarkan diri pada lomba menulis puisi. Aku kalah. Aku sedih, tentu saja. Mungkin itu sebuah permulaan, jadi aku tidak terlalu merasa itu sebuah masalah. Aku mulai mendaftarkan diri di berbagai kompetisi. Tak satu pun dapat kumenangkan.
Hari ini aku kembali merasakan kekalahan. Aku menoleh ke kiri kananku, raut wajah teman satu band-ku sama kecewanya denganku. Aku hampir menangis, tetapi kutahan sekuat tenaga. Aku tidak ingin terlihat lebih menyedihkan lagi.
Aku berpisah dengan teman-temanku dan memutuskan untuk pulang sendiri. Aku merasa tidak dapat melakukan apa-apa, dengan kata lain aku adalah ‘si tidak berguna’. Aku tidak cukup baik memainkan pianoku, aku tidak cukup pandai menulis lagu, aku tidak  mahir menulis karya sastra, aku tidak si cerdas di sekolah,  sekalipun aku menyukai musik aku tidak punya musikalitas yang baik, dan aku tidak mungkin menjadi seorang balerina. Aku, si tidak berguna yang menyedihkan.
“hei jelek!”
Aku menoleh. Ah benar. Satu lagi, aku juga jelek.
“kau kalah lagi?”
Aku tidak menjawab. Kurasa wajahku sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya. Wajahku ini adalah wajah pecundang.
“Aku yakin satu scoop es krim vanila tidak cukup untuk seorang pekerja keras sepertimu.”
Laki-laki itu meraih tanganku.
“tapi aku tidak punya cukup uang untuk membelikanmu hal lainnya”
Aku mulai berjalan mengikutinya, tanganku masih dalam genggamannya.
Pekerja keras ya? Apa benar aku sudah berusaha sekeras itu? Nyatanya yang kutemui hanyalah kegagalan.
“Kau tau? Ada hal-hal yang harus kita pelajari sumur hidup.”
“maksudmu aku akan berhasil setelah aku mati?”
“ah bukan” laki-laki itu berbalik kemudian mengacak-acak rambutku. “kurasa kau memang tidak cukup pintar.”
Memang, batinku.  Ia kembali menyeretku.
“Jangan terlalu memaksakan diri. Lakukan saja hal yang sungguh-sungguh kau sukai. Kau mungkin kebingungan tentang apa yang sebenarnya kau sukai sekarang. Tapi itu bukan masalah, kau masih punya waktu. Jangan terburu-buru. Oh! Dan satu lagi. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Kau sering sekali melakukan itu!”
Aku menatap bahu tinggi di hadapanku. Laki-laki ini cukup jarang berbicara serius denganku. Tapi aku tidak yakin dia memahami perasaanku sekarang.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, aku pun ikut berhenti. Ia berbalik dan kami saling bertatapan.
“Kau tidak semenyedihakan itu.”
Bagaimana dia tau pikiranku? Cenayang? Atau dia hanya berusaha menghiburku, meski dia sudah tau betapa menyedihkannya diriku.
“Berhentilah menganggap dirimu menyedihkan. Memang apa untungnya jika kau terus menganggap dirimu seperti itu?”
Aku tidak menjawabnya. Apa yang dikatakannya benar. Meskipun aku juga tidak pantas menganggap diriku hebat.
“Kau tidak perlu membuktikan apapun pada orang lain. Berhentilah menyiksa diri sendiri dan berbahagialah. Lakukanlah hal-hal yang kau sukai, jadi mulai sekarang kau hanya harus fokus mencari hal yang kau suka dan pelajari itu. Mengerti?”
Aku ragu, apakah hal yang kusukai akan sekaligus menjadi hal yang aku kuasai. Aku terlalu sering gagal hingga segan berpikir untuk sebuah keberhasilan. Rasanya terlalu sombong.
“Apa aku bisa?”
“entahlah.” Pria itu mengankat bahunya sekilas. “tetapi melihat kau adalah seorang pekerja keras, aku rasa kau bisa. Kau punya waktu seumur hidup untuk mempelajarinya. Selama kita hidup, kita memang harus terus berusaha.”
Aku mulai memikirkan perkataannya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah selama ini aku sudah melakukakn hal-hal yang sungguh aku sukai, atau aku hanya terjebak dalam pembuktian agar diakui. Apa yang benar-benar aku sukai?
“ngomong-ngomong, kau memenangkan sesuatu hari ini.”
Aku menatapnya dengan wajah tak mengerti.
“Hatiku” jawabnya singkat dan samar, kemudian mengalihkan pandangannya ke tembok tinggi di samping kami. Tidak ada apa-apa di sana. Aku bisa melihat telinganya berubah merah.
“karena kau memenangkan hatiku, sebagai hadiah aku akan menjadi kekasihmu dan anggaplah ini sebagai kencan pertama. Bagaimana?”
Aku menahan senyum. Aku bahkan tidak mendaftarkan diri, bagaimana bisa aku menang? Mungkin karena sejak awal hidup ini bukanlah kompetisi. Sekalipun, manusia selalu berusaha untuk menjadi pemenang.







“Aku rasa kegelisahan dan kesepian itu ada bersamamu sepanjang hidupmu. Aku memberikan makna yang dalam dan pemikiran tentang bagaimana menemukan jalan untuk melewatinya, tapi itu adalah sesuatu yang perlu kita pelajari selamanya,”-Suga (m.dreamers.id)