Minggu, 26 April 2020

Vanilla Cookies 1 (Teh Tanpa Gula)


Semalaman Scarlet terjaga. Efek kafein, esai dan mungkin juga Kim Taehyung. Pria itu mengucapkan “Sampai jumpai jumpa lagi” di akhir percakapan. Entah pria itu benar-benar ingin bertemu kembali atau sekedar basa-basi. Scarlet tidak berharap akan bertemu dengan Taehyung lagi. Sekalipun mereka bertemu, Scarlet harap Taehyung tidak mengungkit-ngungkit masa lalu mereka. Atau mungkin lebih baik Taehyung menganggapnya sebagai orang asing saja. Ah, bukankah sesungguhnya mereka layak disebut dua orang asing?
Bertemu dengan Kim Taehyung dewasa membuatnya kembali mengingat Kim Taehyung lugu yang sangat belia. Dunianya yang runtuh dan meninggalkan rasa pahit seolah terlupakan ketika Tehyung remaja bersamanya. Taehyung pernah menjadi gula dalam kopi kehidupannya.
Scarlet tidak menyukai kopi, tetapi tetap meminumnya di saat-saat tertentu. Kadang rasa bukan menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. Seperti meminum obat. Pahit bukan masalah ketika keinginan untuk sembuh lebih besar dibanding rasa pahit itu sendiri.
Tiga menit lalu, secangkir teh di hadapan gadis pirang itu masih menghasilkan asap tipis. Tidak ada keinginan untuk meniup teh hangat itu. Tidak ada alasan untuk segera menyesap teh tanpa gula tersebut. Teh tawar bukanlah kesukaan Scarlet. Ia hanya tidak ingin mengonsumsi gula berlebih. Semua kue di kedai ini manis dan Scarlet tidak punya pilihan lain sebab ia belum mengisi perutnya dengan apapun sejak pagi. Terimakasih kepada esai sialan itu.
“Scarlet!”
Scarlet tak lagi menatap cangkir teh di hadapannya dan menoleh pada sosok yang memanggilnya. Terkejut, tetapi sebisa mungkin ia bersikap tenang.  Menutup-nutupi, itu keahlian Scarlet. Ya, bertemu Kim Taehyung lagi tidak ada di rencana hidupnya.
Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis, sebagai balasan kepada lelaki di hadapannya.
“Kau sendiri? Boleh aku duduk di sini?” kursi di depan Scarlet yang Kim Taehyung maksud. Scarlet mengangguk, belum menemukan ide untuk kabur dari Kim Taehyung. Setidaknya dia harus kabur dengan cara yang elegan, atau natural setidaknya.
“Ini kedai langgananmu?”
Scarlet menggeleng. “Hanya sesekali, karena kampusku di seberang sana”
Pria itu mengangguk sambil melemparkan pandangan ke seberang jalan. Padahal Taehyung sudah melihat bangunan kampus itu sebelum tiba di kedai ini.
“Penginapanku di sekitar sini” ujar Taehyung, takut jika dirinya dituduh stalker atau sejenisnya. “aku hanya ingin jalan-jalan dan tidak sengaja melihatmu.”
Scarlet mengangguk dengan  masih menyunggingkan senyum tipis, kemudian keduanya hening. Tidak tau bagaimana cara memulai sebuah konversasi. Apa layak jika Taehyung memperlakukannya sebagai teman lama mengingat mereka tidak berakhir dengan baik-baik saja. Tetapi bertingkah sebagai orang asing pun rasanya tak pantas. Gadis ini pernah singgah dan membahagiakannya.
“Aku tau ini terasa canggung” Taehyung mengulum bibir bawahnya sedangkan Scarlet hanya menatap lantai, walau tak ada apapun di sana.
“Aku rasa, aku paham mengapa kau pergi waktu itu” sambung Kim Taehyung.

*

Makin hari Scarlet makin menganggap dongeng-dongeng yang ia dengar dulu hanyalah bualan. Tentang setiap pangeran dan putri yang selalu bersama dan berbahagia selamanya. Mereka hanya perlu melawan beberapa orang jahat kemudian berbahagia.
Scarlet tak tau apa yang harus ia lawan agar ia mampu bahagia. Waktu itu Scarlet kecil tidak begitu paham apa yang terjadi. Ayah dan ibunya jarang bicara berdua, tetapi tak ada juga suara; piring yang dibanting, umpatan yang memekakkan telinga, ataupun suara jeritan tangis. Sang ayah hanya mengecup Scarlet, begitu juga dengan ibunya. Dua orang itu, entah sejak kapan tak saling memberi kecupan atau pelukan. Scarlet tidak menyadari apapun pada awalnya.
Suatu malam, sepasang mata kecil Scarlet perlahan-lahan terbuka. Kesadarannya perlahan-lahan terkumpul, kemudian dengan langkah terseok-seok hampir tersandung berjalan ke kamar mandi. Gadis dua belas tahun itu merasa terlalu tua untuk ngompol di kasur.
Samar-samar Scarlet mendengar suara sesegukan. Awalnya Scarlet agak ngeri mendengar suara tangisan di malam hari, tetapi sebuah suara lain yang ia kenal masuk ke dalam rungunya. Terdengar samar, tetapi Scarlet yakin jika pemilik suara itu adalah ayahnya. Scarlet agak tenang karena ternyata ayahnya belum terlelap. Jika tangisan itu suara makhluk yang bukan manusia, Scarlet hanya perlu berteriak maka ayah pasti akan menyelamatkannya. Selalu begitu, ayah akan menyelamatkannya dari apapun; teman-temannya yang jahat di sekolah, anjing kakek Tom yang suka mengejar orang, ataupun bunga tidur yang membuat putri kecilnya ketakutan.
Scarlet berjalan mendekati pintu tinggi di hadapannya. Kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya. Awalnya Scarlet ingin langsung membuka pintu itu ketika ia yakin suara tangisan tadi adalah milik ibunya.
“Bagaimana dengan Scarlet?”
Scarlet mengurungkan niatnya untuk menarik gagang pintu yang hampir diraihnya. Scarlet tidak salah dengar. Ia yakin namanya disebut.
“Aku, sampai kapanpun adalah ayahnya. Tidak akan berubah.”
Walaupun samar, tetapi gadis itu yakin ayahnya mengucapkan kalimat itu dengan mantap.
Isakan ibunya belum berhenti. Susah payah wanita itu berusaha untuk kembali bicara.
“Bagaimana denganku?” ia mencoba mengendalikan tangisnya, berusaha agar pria di hadapannya dapat mendengar ucapannya dengan jelas. “Aku mencintaimu”
Scarlet hanya mendengar suara sesegukan ibunya selama beberapa saat. Scarlet masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Apa saja yang sudah ia lewatkan selama tertidur tadi?
“Maaf” Scarlet kembali menaruh atensinya, menunggu apa yang selanjutnya akan ia dengar.
“karna pada akhirnya hanya tersisa kau yang mencintaiku, tanpa aku yang mampu mencintaimu lagi.”
Mungkin sejak saat itu Scarlet mulai menyangsikan seluruh kisah cinta abadi yang ia dengar, sebab; bahkan dalam mencintai pun seseorang bisa menyerah.


Sabtu, 11 April 2020

Vanilla Cookies


Scarlet buru-buru melangkahkan kakinya menuju rumah. Angin malam menerobos kerah mantelnya. Dingin dan sedikit menusuk. Ditengah langkahnya yang terburu-buru, Scarlet pikir ada baiknya dia mampir ke toko terdekat untuk membeli kopi kalengan. Scarlet tidak yakin dapat terjaga dalam waktu lama jika sudah melihat kasur. Terlalu menggoda.

Gadis berbadan mungil itu harus menahan kelopak mata untuk terus terjaga. Ada Essai yang harus ia kumpulkan besok pagi. Scarlet sudah pasti akan membuat Essai tersebut asal-asalan agar ia bisa segera tidur. Tidak peduli akan seperti apa hasilnya. Persetan dengan nilai.

Scarlet memutuskan masuk ke swalayan di dekat perempatan jalan. Tidak banyak orang di dalam mengingat sekarang sudah cukup larut. Rungunya dapat mendengar langkah kakikanya dan sepasang langkah kaki dari rak di sebelahnya. Sambil menimbang-nimbang kopi mana yang akan ia bawa ke kasir. Ia menunduk, mengarahkan jari terunjukkan untuk membaca berbagai rasa yang tertera pada kaleng kemasan. Scarlet tidak begitu paham soal kopi, hingga akhirnya ia hanya menjatuhkan pilihan pada kemasan yang paling menarik.

Setelah mengambil sekaleng kopi Scarlet menegakkan badannya dan segera menuju kasir, tetapi tak jauh dari tempatnya berdiri ada sosok tinggi yang menyita perhatiannya. Dari wajahnya jelas sekali pria itu keturunan Asia, matanya sipit dan kulitnya pucat. Scarlett tertegun, pria ini mengingatkannya akan kenangan manis dan pahit yang bercampur menjadi satu. Seperti meminum kopi hitam. Sekalipun sudah dicampurkan dengan gula rasanya akan tetap pahit. Tetapi tetap saja, kehadiran gula itu tidak bisa diabaikan bukan?
Pria yang merasa diperhatikan itu menoleh. Kedua irisnya bertemu dengan milik Scarlet. Seketika itu Scarlet yakin sekali, pria ini pasti ‘dia’.

Keduanya terkejut, kemudian menjadi kikuk. Tetapi beberapa detik kemudian pria itu memulai konversasi.
“Scarlet?” pria memastikan. Sekalipun ia benar-benar yakin sosok di hadapannya adalah gadis yang ia kenal 5 tahun lalu. Tidak ada yang berubah, wajahnya masih sepucat yang Taehyung ingat. Begitupula dengan rambut pirangnya yang bergelombang dan sedikit berantakan. Ah, gadis itu sudah menggunakan pewarna bibir sekarang, itu saja perbedaannya.

Scarlett tersenyum canggung. Bertemu lagi dengan Kim Taehyung tidak ada dalam rencana hidupnya. Baik kemarin, hari ini, besok ataupun selamanya. Ini sebuah kebetulan yang tak disangka-sangka. Susah payah ia melupakan Kim Taehyung, cinta pertamanya yang harus berakhir konyol. Tidak, Scarlet saja yang konyol. Sedangkan Kim Taehyung tidak seberapa konyol dibanding dirinya.

Kim Taehyung mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Scarlet hanya diam dan menahan senyum canggungnya yang kelewat kaku. Kim Taehyung terlihat lebih santai, bahkan terkesan hangat seperti bertemu teman lama. Sesuatu yang tak Scarlet sangka juga, mengingat bagaimana hubungan mereka berakhir dengan tidak baik. Bukan, tidak wajar lebih tepatnya.

“Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Sudah lama sekali ya”
Ah, kalimat itu membuat Scarlet ingin segera dienyahkan dari permukaan bumi. Itu artinya,Taehyung masih mengingat bagaimana mereka berpisah. Harusnya pria itu lupa saja, atau pura-pura tidak kenal malah jauh lebih baik.

Scarlet mengangguk. “Aku juga tidak menyangka” hanya itu yang dapat ia ucapkan. Itupun terdengar lirih karena diucapkan dengan susah payah. Scarlet tidak tau harus berujar apa.
Scarlet memutar otaknya agar suasana tidak bertambah canggung.

“Apa yang membawamu kemari?” Scarlet berhasil memeras isi kepalanya. Apa yang membuat Kim Taehyung meninggalkan negara asalnya dan sekarang malah berada dalam swalayan kecil di kota Rouscar,

Taehyung menjawab dengan santai “Aku ingin membuka distro di kawasan ini. Aku baru sampai beberapa hari di sini untuk survei lokasi. Ternyata benar, Rouscar kota yang nyaman.”

Scarlet mengangguk. Dilihat-lihat Kim Taehyung yang saat ini di depannya terlihat lebih stylish dari pada yang ia ingat dulu. Pun terlihat lebih manis dan dewasa.

Scarlet mengenal Taehyung terlalu singkat. Ia bahkan tak tau jika Taehyung tertarik dengan dunia fashion. Begitu juga sebaliknya, Taehyung mengenal Scatlet hanya dari apa yang dilihatnya tanpa sempat masuk dan menyelami pemikiran rumit si gadis pirang.

Mereka menjadi dua orang asing sekarang. Atau mungkin sejak dulu mereka tidak pernah lebih dari sekedar dua orang asing. Hanya saja, dulu keduanya malu-malu saling mengaggumi, saling mempercayai bahwa diantara mereka ada cinta, dan pertemuan mereka adalah takdir.



Bersambung

Senin, 21 Oktober 2019

Under The Smile


Bagaimana bisa pria di sampingku tidur dengan begitu damainya? Tidakkah dia harusnya merasa bimbang sama sepertiku? Kubelai rambutnya selembut mungkin, takut jika pria ini terbangun. Aku bisa saja membenci pria ini, tetapi sedikitpun aku tak ingin menyakitinya.  
Jemariku mulai beranjak dari rambut menuju hidung mancungnya, kemudian turun dan hinggap di bibirnya yang mungil. Tuluskah setiap kata cinta yang terucap dari bibirnya? Apakah saat ia menciumku kami memiliki perasaan yang sama?
Jeon Jungkook bergeming kemudian membuka matanya dengan susah payah
“kau belum tidur?” pria itu langsung mengangkat tangan kirinya. Mengajakku masuk ke dalam pelukannya.
Aku hanya menggeleng sambil menatap lembut wajahnya. Dalam keadaan seperti ini pun aku masih dibuat terpesona olehnya. Aku menuruti perintahnya, membenamkan tubuhku dalam pelukannya yang besar.
Hatiku nyeri. Aku tak tau pasti sejak kapan pelukan ini terasa hampa. Hangat, tetapi tidak menghangatkan hatiku. Kokoh, tetapi membimbangkan hatiku.
Aku membenamkan wajahku ke dadanya yang bidang. Mencoba mencari tau apakah jika aku mencoba lebih erat memeluknya, aku akan menekukan rasa hangat yang dulu? Jungkook yang belum sepenuhnya terlelap membalas pelukan eratku.
Hatiku semakin sakit karena tidak menemukan kehangatan yang dulu kurasakan. Tidak ada yang berbeda. Hanya ada kehampaan dan kebimbangan yang terasa di dalam pelukannya. Aku mengendorkan pelukanku dan menatap wajahnya. Aku belum menyerah. Aku mencoba mencium bibirnya yang sedikit terbuka. Tetapi hasilnya tetap sama.
“Ada apa?” tanya pemilik bibir itu lembut, tetapi terasa ada kebingungan di dalamnya.
Aku hanya tersenyum, kemudian menggeleng. Aku kembali menenggelamkan diri dalam pelukannya. Ia kembali memelukku erat. Rasanya aku tidak ingin menyerah. Tetapi bukankah aku terlalu egois jika terus bertingkah kekanakan seperti ini?
Wajahku memanas dan dadaku terasa sesak. Tidak, aku tidak boleh menangis. Jungkook tidak boleh melihatku menangis. Mungkin sebentar lagi. Biarkan aku menunggu sebentar lagi. Mungkin kehangatan yang menangkan itu akan datang kembali, nanti.
*
Aku tidak tau sudah berapa lama aku terjaga. Pria yang tadi memelukku sudah membelakangiku dan sudah tertidur lelap. Rasa yang kutunggu tak kunjung muncul. Apa ini sudah menjadi akhir dari kita? Jadi kita berakhir seperti ini? Aku tidak siap, aku bahkan tidak pernah membayangkan memiliki akhir jika bersamamu.
Aku ingin terus berusaha untuk tetap bersamamu, Jungkook.
Aku bangkit dari tidurku dan duduk di pinggiran kasur. Rasanya berat untuk beranjak dari ranjang ini. Pria yang paling aku cintai terbaring di sana, dia bisa saja memelukku malam ini dan malam-malam selanjutnya. Aku bisa saja terus menerus menjadi orang bodoh yang menyedihkan agar bisa bersamamu. Tetapi bukankah kaupun juga harus bahagia?
Dengan berat aku beranjak dan berjalan ke arah meja kerjanya.  Kutatap kursi di belakang meja itu.  Dulu ia sering memangkuku di dana. Dia tidak pernah marah saat aku mengganggunya bekerja. Kami bahkan tertawa lepas. Aku bebas mencuri ciumannya saat ia tertawa dan sebaliknya. Bukankah saat itu kita sangat bahagia? Apa tidak bisa kita terus menerus seperti itu? Apa tidak bisa jika aku saja yang membuatmu bahagia?
Aku mengambil pena kemudian menduduki kursi di belakang meja. Kubuka laci di bawah meja itu dan mengambil selembar kertas. Kertas itu sudah ada di atas meja sekarang dan aku mulai berfikir, apa yang pertama-tama harus aku tuliskan. Aku kembali menatap pria yang tertidur lelap itu. Setelah ini aku pasti akan merindukannya setengah mati.
Aku menarik nafas panjang hingga dadaku terasa sesak, kemudian menghempaskannya.

“Kau tidur begitu damai, aku tidak tega membangunkanmu.
Maafkan aku karena pergi dengan cara seperti ini. Aku percaya jika dulu kau benar-benar mencintaiku. Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Hanya saja, aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa kau mencintaiku hingga saat ini. Aku bisa saja terus menerus menjadi si bodoh yang menyedihkan agar terus bersamamu. Tetapi bukankah kita berdua pantas untuk menjadi lebih bahagia? Meskipun aku tidak tau apa lagi yang membuatku bahagia selain dirimu.
Kerjarlah Kim Sohe, aku tau kau mencintainya. Hiduplah dengan bahagia bersamanya. Jangan pernah mencariku lagi karena itu hanya akan membuatku semakin terlihat menyedihkan. Kau harus hidup bahagia, dengan atau tanpa diriku.
Aku memang kecewa dan marah. Aku benci karena pada akhirnya bukan aku yang membahagiakanmu. Aku benci karena pada akhirnya kita harus berakhir.
Jangan merasa bersalah, kumohon. Jaga kesehatanmu. Kau harus hidup dengan baik dan bahagia.
Selamat tinggal.

Aku ingin mengungkapkan betapa aku mencintaimu. Seandainya jika itu dapat membuat hatimu kembali kepadaku. Tetapi sekarang apa gunanya? Itu hanya akan membuatmu semakin merasa bersalah.
Air mataku jatuh tak tertahan. Hatiku terasa sesak, tetapi ada sedikit perasaan lega. Lega karena telah melepaskanmu. Lega kerena mampu melakukan sesuatu untuk kebahagiaanmu.  Aku berjalan perlahan ke arah Jungkook. Kutatapi wajahnya sekali lagi. Tanpa sadar tanganku meraih dan mengelus pipinya.
‘Aku mencintaimu’ bisikku dalam hati.
*
Belakangan Busan terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Musim gugur akan segera tiba. Aku melirik jam tanganku. Aku harus segera menuju stasiun jika tidak ingin ketinggalan kereta selanjutnya.
Di sepanjang jalan daun-daun mulai berguguran. Mereka jatuh dengan indah hingga orang-orang lupa bagaimana setiap yang jatuh itu sakit. Walau itu jatuh cinta sekalipun. Aku merapatkan jaketku kemudian memasukkan kedua tanganku ke saku.
Aku berhenti melangkah. Tatapanku tertuju pada seseorang di seberang jalan. Senyuman itu, sudah pasti itu dia. Bahkan setelah sekian lama, aku masih terpesona dengan senyumnya. Hatiku terasa hangat setiap kali melihatnya. Senyumnya kontras sekali dengan suasana Busan hari ini. Aku ikut tersenyum, meskipun senyum itu ditujukan untuk wanita mungil yang berdiri di sebelahnya.
Pria itu meraih tangan wanita di sampingnya dan menggenggamnya erat. Wanita itu tersenyum. Mereka terlihat bahagia.
Sadar dengan keberadaanku, Jungkook menatapku kaget. Tetapi kemudian ia tersenyum. Senyum itu begitu cerah. Lewat senyum itu aku tau bahwa ia telah hidup dengan bahagia. Dia sudah melakukannya dengan benar. Aku menghembuskan nafas lega kemudian tersenyum kepadanya.
Aku kembali melangkahkan kakiku, melanjutkan perjalananku yang sempat terhenti.

Sabtu, 19 Oktober 2019

Di Bawah Langit

Halo teman-teman, aku rekomendasikan lagu Ending Scene-IU (versinya Jungkook juga boleh, silahkan sengarkan di Soundcloud-nya BTS)


Aku menatap diriku di depan cermin. Aku kantung mataku terlihat menghitam, hari inipun aku masih kesulitan untuk tidur. Aku menatap jauh melalui jendela. Aku heran, mengapa semua terasa terus berjalan sedangkan aku jauh tertinggal. Matahari terus bersinar, awan terus berarak, dan hujan turun sesuka hatinya. Aku bersaha mengikuti mereka, tapi rasanya aku masih terseok-seok.
Sudah satu bulan aku meninggalkan Seoul, tetapi rasanya aku masih belum terbiasa dengan suasana di Busan. Seoul terasa jauh lebih hidup sedangkan Busan terasa.... entahlah. Aku tidak benci tinggal di sini, ada perasaan yang sulit kudeskripsikan tentang Busan.
Pikiranku kembali melayang ke hari terakhir aku bertemu dengan Jeon Jungkook. Iya, baru sebulan aku tidak bertemu dengan pria itu, tapi rasanya sudah lama sekali. Rasanya dadaku nyeri karena sangat merindukan senyumnya.
“Jadi hari ini kita harus melakukan segalanya!” Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “hari ini tidak akan ku lepas.” Rasanya hatiku tersayat. Sejujurnya dibandingkan tersayat, aku merasa sangat bahagia hingga aku merasa berdosa. Betepa egoisnya kau Cha Chan-sol!
Setelah hari itu aku tidak bisa menggenggam tangannya lagi.
Ah iya, hari ini aku harus bertemu dengan dokterku untuk konseling. Aku harus segera berangkat. Melihat botol-botol obat di atas meja membuatku bertanya-tanya, apa aku bisa sembuh? Atau setidaknya lebih baik dari saat ini?
Aku tidak tau pasti sejak kapan aku mulai terkena penyakit aneh ini. Aku terlalu terobsesi dengan kesempurnaan, hingga aku sadar bahwa obsesiku sudah keterlaluan. Sepertinya sejak kecil aku sudah merasakannya. Aku memberanikan diri untuk mengunjungi seorang psikolog kira-kira 3 tahun lalu karena tidak tahan dengan kondisiku. Akhirnya setelah sekian lama aku paham bahwa aku adalah salah satu dari penderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder).
Selama bertahun-tahun aku mencoba hidup senormal manusia pada umumnya. Setidaknya di depan orang-orang. Aku tidak ingin orang-orang mengetahui penyakit ini. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan normal, sesulit apapun itu. Meskipun nyatanya kehidupanku tidak bisa senormal yang aku harapkan. Sejak kecil aku terobsesi untuk menjadi siswa yang sempurna, meskipun tidak ada yang menuntutku untuk menjadi demikian. Aku sungguh takut dengan nilai yang jelek, aku tak pernah berani mengerjakan tugasku dengan sembarangan, aku takut jika aku tidak berusaha semaksimal yang aku bisa. Ambisi tersebut membuat aku tidak begitu banyak memiliki waktu luang untuk bermain.
Aku sangat suka membaca cerita-cerita romantis di novel ataupun komik. Aku berharap masa remajaku bisa seperti yang terjadi di novel-novel. Sepulang sekolah, ada pria tampan yang menungguku di pagar sekolah dengan malu-malu. Mengulurkan tangannya supaya kami bisa pulang bergandengan tangan. Nyatanya, aku terlalu sibuk dengan tugas, ujian dan ulangan. Aku sungguh iri dengan teman-temanku yang melalikan tugas-tugas mereka, mengerjakan tugas dan ujian mereka sekedarnya dan tetap tertawa ceria. Andai aku bisa seperti mereka. Setiap obsesiku kambuh, aku membenci diriku. Aku membenci diriku yang tidak bisa bertindak seperti orang normal. Aku benci diriku yang penakut. Aku benci diriku yang tidak mampu mengendalikan diriku ketika obsesiku kambuh. Aku sudah tidak tau berapa kali aku menangis setiap OCD-ku kambuh hingga 3 tahun lalu aku sudah tidak kuat lagi dan memutuskan untuk menemui seorang psikolog.
Mengapa baru 3 tahun lalu aku menemui psikolog? Aku tidak ingin membuat siapapun khawatir kepadaku, terutama ayah dan ibuku. Rasanya mereka sudah cukup sulit mengurusi aku dan kakakku. Ayah dan ibuku harus bekerja keras untuk membesarkan aku dan kakakku. Aku berasal dari keluarga sederhana yang nyaris-nyaris bisa dikatakan miskin. Ibuku bekerja sebagai penjaga toko di sebuah toko buah milik temannya. Sedangkan ayah hanya bekerja sebagai supir truk di sebuah pabrik. Entah siapa yang mengajariku tetapi sejak kecil aku tidak berani membuat orang tuaku kerepotan. Mungkin karena sejak kecil kakaku tidak pernah meminta apapun kepada orangtuaku, akupun terdoktrin untuk tidak boleh meminta hal-hal besar ataupun merepotkan mereka. Dulu setiap kali kondisiku memburuk, aku akan menangis sendiri di tempat sepi. Pernah sekali aku mencoba mengungkapkan kepada orang tuaku, sangkin bingungnya aku untuk menjelaskan kondisiku kepada mereka, aku hanya menangis.
Beberapa tahun lalu aku mampu menghasilkan uang sendiri dengan cara menyanyi di berbagai cafe. Setelah memiliki cukup uang aku memberanikan diri untuk menemui psikolog. Setelah itu aku mencoba memberitahu keluargaku. Seperti yang sudah kuduga, mereka sangat mengkhawatirkanku. Tetapi aku selalu meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Penyakit itu tidak akan membuatku kesusahan. Meskipun kenyataannya bertolak belakang.
Bernyanyi. Rasanya hal itu selalu bisa menenangkanku, walau hanya sedikit. Bernyanyi juga yang membuatku bertemu dengan pria bernama Jeon Jungkook. Hari itu seperti biasa, aku menyanyi di cafe tempatku bekerja. Jungkook datang sambil merangkul pinggang seorang wanita. Awalnya aku tidak begitu mempedulikan kehadiran mereka berdua. Mereka memilih kursi di bagian pojok cafe. Karena Cafe tersebut sedang sepi, seringai gadis di hadapannya menjadi sesuatu yang cukup mencolok. Itulah pertama kali aku melihat Jungkook tersenyum. Senyum itu begitu indah, meskipun senyum itu bukan untukku. Saat aku sedang terkesima dengan senyumannya, Jungkook menoleh ke arahku. Aku tertangkap basah sedang memandanginya, aku harap dia tidak tau bahwa aku terkesima dengannya. Jungkook tersenyum padaku, dan rasanya jantungku berhenti berderak selama sedetik, kemudian berdetak cepat. Setelah itu aku Jungkook tidak pernah kembali ke cafe tersebut dengan wanita itu. Ia berangkat seorang diri.
Bagiku Jungkook adalah pria yang punya senyuman paling cerah di dunia. Sialnya hingga saat ini aku masih berpendapat demikian.

*

Aku sudah menyelesaikan sesi konselingku. Di jalan pulang aku berpapasan dengan sepasang kekasih berseragam. Mereka bergandengan tangan dan terlihat malu-malu. Aku tersenyum dan teringat dengan impianku. Dan aku juga teringat dengan Jungkook.
Kira-kira dua bulan lalu Jungkook menemuiku dan membawa dua pasang seragam sekolah.
“Aku rasa ini sesuai dengan ukuranmu, ini seragam sekolah terimut yang aku temukan. Pakailah”
Aku yang kebingungan dengan tingkahnya. “untuk apa?” tanyaku.
“Besok kan ulang tahunmu Chansol! Kau selalu bilang kau menyesal karena tidak kecan ketika masih SMA. Jadi hari ini aku akan menjadikanmu anak SMA, dan kau akan kencan denganku.” Aku harap waktu itu aku dapat menahan pipiku yang memerah. Jantungku berdetak keras dan cepat, sampai-sampai aku takut Jungkook mendengarnya.
“Hari ini aku akan melakukan apapun yang diinginkan Chansol.”
Jungkook menepati perkataannya. Hari itu aku memintanya untuk pergi dan jangan menemuiku lagi.
Aku berhenti di salah satu cafe dan memesan secangkir teh. Aku duduk dan mengeluarkan buku harianku. Dokterku menyarankan untuk menulis buku harian untuk membantu menangani OCD-ku. Aku mulai membuka lembar-demi lembar dan mencari lembar yang masih kosong. Rasanya setiap lembar buku itu tertulis nama pria kesayanganku, Jungkook. Aku mengeluarkan pulpennku dan mulai memikirkan apa yang ingin kutulis. Ah, rasanya aku sangat ingin bertemu dan berbicara dengan Jungkook. Apakah Jungkook sudah melupakanku? Padahal aku sama sekali tidak ingin melupakannya walau aku dadaku nyeri setiap kali aku mengingatnya.
“Jungkook...” tanganku menuliskan nama itu begitu saja.
“bagaimana ini? hari inipun aku masih memikirkan dan merindukanmu. Aku benci sekali denganmu, mengapa aku harus mencintaimu. Mengapa kau harus mencintaiku? Aku sangat bahagia karena ternyata kau juga mencintaiku, sangkin bahagianya rasanya aku ingin menciummu waktu itu.
Astaga.. maafkan aku yang sangat egois. Maafkan aku, waktu itu aku dengan bahagianya menerima ajakan kencanmu. Maafkan aku hari itu dengan serakahnya tidak ingin melepaskan tanganmu walau sedetikpun. Maafkan aku hari itu dengan egoisnya aku tertawa dan menikmati kencan seragam kita. Maafkan aku karena tersadar bahwa aku egois ketika matahari terbenam. Maafkan aku karena tiba-tiba mengusirmu. Maafkan aku..
Jungkook, kuharapkan kau mendapatkan hidup yang bahagia. Kuharap kau mendapatkan wanita yang lebih baik dibandingkan aku. Meskipun aku ingin sekali menjadi wanita itu. Rasanya setiap hari aku ingin berangkat ke Seoul dan menemuimu. Tapi kau harus mendapatkan wanita yang pantas untukmu. Kau pria baik, kau tidak seharusnya mendapatkan wanita sepertiku.
Orang-orang akan menganggapku tidak waras, dan kau akan dianggap bodoh karena mau bersama wanita sepertiku. Aku ini perempuan aneh Jungkook, aku bahkan mengecek sampai tiga kali isi tasku saat berpindah tempat sangkin takutnya aku jika ada barang yang tertinggal. Aku bisa menangis kebingungan saat sedang mengerjakan pekerjaanku. Aku sangat takut jika hasil kerjaku tidak sempurna, itu sebabnya aku berhenti dari perusahaan waktu itu. Maafkan aku yang tidak bisa memberitahumu tentang kondisiku.
Kuharap aku dapat mengatakan padamu betapa aku sangat mencintaimu. Jungkook, aku harap kau selalu bahagia sehingga senyumanmu dapat selalu mekar. Semoga suatu saat aku bisa melihat senyumanmu lagi, meski dari jauh sekalipun.”
Tanpa sadar air mataku jatuh dan membasahi buku harianku. Cepat-cepat aku menyeka air mataku agar tidak terlihat mencolok diantara pengunjung lain. Aku menutup buku harianku. Kutarik nafas panjang hingga dadaku terasa nyeri kemudian menghembuskannya. Sudah satu bulan lebih aku menjadi pengangguran, tidak seharusnya aku menghabiskan waktuku dengan menjadi anak cengeng begini.
Di saat Jungkook mulai sukses sebagai seorang musisi di Seoul aku diterima di sebuah perusahaan rekaman di Seoul. Karir Jungkook semakin sukses sedangkan keadaanku makin lama semakin menyedihkan. Karena OCD-ku sempat bertambah parah aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku di Seoul. Setelah menjadi pengangguran di Seoul aku merasa tidak punya alasan untuk tetap tinggal di sana. Ditambah lagi Jungkook yang tiba-tiba menyatakan perasaannya. Rasanya aku harus segera menyingkir dari sana. Jungkook tidak seharusnya punya kekasih yang statusnya pengangguran. Sejujurnya, untuk menjauhi Jungkooklah maka kembali ke di Busan.
Matahari masih bersinar cerah, berbanding terbalik dengan suasana hatiku. Aku harus segera bangkit dan mulai mencari pekerjaan. Aku tidak boleh salamanya menjadi pengangguran.
Aku melihat sebuah tulisan di dekat kasir. Tertulis jika Cafe ini sedang membutuhkan penyanyi. Aku segera menghampiri kasir untuk bertanya apakah lowongan itu masih tersedia.

*

Aku kembali ke Cafe yang kukunjungi tadi siang. Aku segera mengunjungi menemui salah seorang pelayan di sana.
“Apakah buku saya ditemukan?” tanyaku tanpa dengan penuh harap.
“maaf” wajah pelayan tersebut tampak khawatir untuk melanjutkan perkataanya. Mungkin karena ekspresiku yang sangat berharap. “tapi kami tidak menemukan buku catatan anda.”
Begitu aku mendatangi kasir tadi siang aku meninggalkan barang-barangku begitu saja karena sangkin semangatnya aku dengan tawaran pekerjaan tersebut. Begitu kembali ke mejaku, aku tidak menemukan buku catatanku di manapun. Aku bahkan sudah menggeledah seluruh tempat duduk pengunjung dan tidak menemukannya. Anehnya yang hilang hanya buku harianku saja dan tidak ada barang berharga lainnya yang hilang. Jika ini adalah sebuah pencurian bagaimana aku akan melapor kepada polisi?
“oh, begitu... maaf sudah merepotkan anda karena keteledoran saya” aku membungkuk dalam karena merasa bersalah.
“tidak masalah, saya juga minta maaf karena tidak mengawasi pengunjung dengan benar.”
“Ah iya, bagaimana dengan rekaman CCTVnya?”
“Ah, maaf..” lagi-lagi ia terlihat tidak enak. “tadi sore saya sudah menemui karyawan lain yang biasanya mengecek CCTV, ternyata CCTV kami mengalami kerusakan, sehingga rekman hari ini tidak tersimpan”
Aku tidak dapat menyembunyikan kekecewaaanku. Tetapi mengingat usaha yang sudah dilakukan akibat keteledoranku, aku merasa bersalah jika menunjukkan kekecewaanku padanya.
“ah, terimakasih banyak sudah membantu saya. Maafkan saya yang teledor ini malah membuat anda kerepotan.”
“ah tidak, saya minta maaf karena tidak bisa langsung mengecek CCTV tadi siang. Saya tidak paham cara kerja komputer CCTV sehingga saya harus minta teman yang shift sore untuk mengeceknya.”
“Ah, tidak apa-apa. Terimakasih banyak!” aku membungkuk dalam sekali lagi.
“Apakah nona Cha sudah siap untuk tampil perdana malam ini?” tanya pelayan itu dengan ramah.
“Ah iya, tentu saja” jawabku bersemangat, meskipun sebenarnya aku lumayan panik dengan buku harianku. Bagaimana jika buku harian tersebut dibaca orang lain? Itukan privasiku. Aku mencoba fokus pada pekerjaanku, bagaimapun aku harus mendapatkan pekerjaan ini. Aku tidak bisa selamanya menajdi pengangguran.
Aku mengeluarkan gitarku dan menyambungkannya dengan amplifie di belakangku. Meskipun penghasilan dengan cara menyanyi seperti ini kecil, setidaknya pekerjaan ini membuatku nyaman. Aku hanya harus mencari caffe-caffe lainnya dan mencoba melamar ke sana. Aku memulai pekerjaan baruku dengan menyanyikan ‘Ending Scene’.
’Jadaero jal meogeo da jinaganikka
(Pastikan kau makan dengan baik, karena semuanya akan berlalu)
Yajeoncheoreom jamdo jal jage doel geoya
(Kau akan dapat tertidur seperti yang biasanya)
Jinsimeuro bilge
(Aku benar-benar serius)
Neoneun deo haengbokhal jagyeogi isseo’
(Kau pantas menjadi lebih bahagia)

Jantungku melewatkan satu detakannya. Jantungku berdebar hingga suaraku bergetar. Aku hampir tidak mampu melanjutkan laguku. Seorang pria melintas dari pintu masuk dan duduk di pojok. Rasanya seperti bertemu saat kami bertemu pertama kali. Hanya saja kali ini ia datang sendiri.

Aku menatap Jungkook dan ia menatapku kemudian tersenyum. Senyum itu sama seperti pertama kali aku melihatnya. Seketika rasanya hatiku menjadi hangat seperti disinari matahari musim semi. Aku merasa bersalah karena terlalu bahagia ia ada di hadapanku. Aku berkali-kali meliriknya, mematikan apakah aku berhalusinasi.  

Kita bertemu seperti mimpi yang aku impi-impikan, bolehkan aku berharap lebih? Bukankah itu terlalu egois?

*

Aku mengemasi gitarku setelah menyanyikan lagu terakhir. Jungkook masih duduk di sana. Aku segera mengemasi gitarku. Aku merasakan ada seseorang yang mendekat. Wangi ini, pasti Jungkook. Aku menarik nafas dalam dan menyiapkan diriku untuk menatap Jungkook.
‘Jangan terlihat terlalu bersemangat Chansol. Kau harus terlihat biasa’
“Chansol..”
Astaga.. suara itu. Aku rindu sekali dengan suara itu.
“iya, Hai” aku berbalik. Berusaha bersikap biasa walaupun aku sangat gugup dan tidak dapat menutupinya. “Bagaimana..”
“Bagaimana aku bisa ada di sini?” Jungkook langsung mengetahui isi pikiranku. “itu kan yang ingin kau tanyakan?”
Aku hanya mengangguk lemah.
“Chansol” nada bicaranya terdengar serius dan tegas. “berhentilah lari dariku”
Tubuhku terasa lemah mendengar kalimat itu. Lagi-lagi pria ini membuatku lemah, membuatku ingin jatuh ke pelukannya dan tidak akan kulepas.
Untungnya akal sehatku segera kembali, aku membuka mulutku setelah menemukan sebuah ide untuk menepis perkataannya. Tetapi aku kalah cepat dengan Jungkook
“Aku sudah tau mengapa kau pergi.”
Sekali lagi jantungku berhenti berdetak sesaat. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan pria ini?
“Jika kau ingin menyembunyikan sesuatu harusnya kau bertindak lebih cerdas.” Nada bicaranya terdengar seakan-akan meledekku.
“Aku pernah menemukan resep di dekat tempat sampah, di apartemen lamamu.”
Astaga kapan pria ini menemukan resep dokterku? Apakah dia curiga padaku. Aku hanya menunggu kata-kata selanjutnya.
“Awalnya aku heran kenapa di sana ada obat penenang yang biasa digunakan Suga, tetapi karena tidak inginmembuatmu merasa tidak nyaman aku tidak menanyakan apapun.”
“itu bukan milikku” tepisku.
“tentu saja itu milikmu. Ada namamu tertera di sana.” Jawab Jungkook cepat.
Habislah aku.
“Kau tiba-tiba menyuruhku pergi, padahal aku kira kau bahagia bersamaku. Kau terlihat sangat bahagia saat kencan menggunakan seragam denganku. Karena itu aku..”
“Nona Cha!” panggil pelayan yang tadi membantuku. Aku selamat...
“Ah, iya.”
“Penampilan ada sangat memuaskan, menejer kami ingin menemui anda.”
“Ah baiklah, dimana menejer anda?” tanyaku cepat.
“Anda dapat menyelesaikan pembicaraan anda dulu..”
“Ah tidak” ujarku cepat. “kami sudah selesai kok”
Pelayan tadi terlihat sedikit tidak enak kepada Jungkook. Aku bisa melihat ekspresi kecewa bercampur jengkel di wajah Jungkook.
“kalau begitu mari ikut saya nona Cha”
Aku mengangguk dan segera mengikuti pelayan itu.
“Terimakasih atas bantuan anda nona Kim!” ujar Jungkook kepada pelayan di depanku.
Apa maksudnya ini?

*

Aku mendapatkan pekerjaan baruku. Menejer Cafe itu memintaku untuk datang setiap hari Jumat, Sabtu dan minggu dan aku langsung menyanggupinya. Aku terbebas dari predikat pengangguran.
Terkejut melihat Jungkook masih duduk di kursinya tadi. Aku ingin segera lari namun aku telah tertangkap basah oleh Jungkook. Jungkook berjalan cepat ke arahku dan menarik tanganku. Aku ingin meronta tetapi genggamannya kuat sekali dan tatapan tajamnya membuahku takut dan memilih untuk mengikutinya.
Ia menarikku keluar dan menjauhi cafe tersebut. Selama beberapa detik aku mengikuti langkah kakinya. Tidak ada kata yang terucap diantara kami, hanya ada keheningan yang mencekam.
Jungkook berhenti tepat di bawah sebuah lampu di pinggir taman. Akupun ikut berhenti. Berbalik dan tidak melepaskan genggamannya.
“Maafkan aku” gumamnya lirih “hari ini tidak akan ku lepas”
Sekali lagi aku mendengar kalimat itu terucap dari bibirnya yang tipis. Bibir itu terlihat pucat.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”  
Jungkook, kau membuat jantungku berhenti berdetak lagi.
“Aku ke Busan mencarimu.” Ungkap Jungkook terang-terangan. “Kau menyuruhku untuk tidak menemuimu lagi. Aku mengirim pesan perminta maaf, tetapi tidak ada balasan. Aku kira kau semarah itu denganku, sehingga aku harus minta maaf langsung kepadamu. Aku ke apartemenmu, tetapi ternyata kau sudah pindah. Aku mencoba menemuimu di kantor, ternyata kau sudah berhenti bekerja.”
Aku merasa bersalah kepada Jungkook karena telah membuatnya khawatir. Harusnya dia tidak perlu mengkhawatirkan aku. Harusnya dia melanjutkan hidupnya dengan bahagia.
“Aku mengkhawatirkanmu karena kau tiba-tiba menghilang dan saat itu aku juga teringat dengan resep obat yang pernah kutemukan. Sebenarnya aku ingin segara mencarimu ke Busan, tetapi aku takut kau akan semakin marah padaku jika aku mengejar-ngejarmu. Tetapi aku sudah tidak tahan lagi. Hari ini aku berangkat ke Busan untuk mencarimu.”
Jungkook menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya. Ia tersenyum jengkel bercampur frustasi.
“Lihat apa yang kau lakukan padaku Chansol! Hari ini aku menjadi penguntit karena dirimu. Aku sudah berada di depan rumahmu tetapi karena takut kau akan marah padaku, aku membatalkan niatku.”
“Kau mengikutiku?!”
“Ya! Aku mengikutimu menemui psikeater, aku mengikutimu ke cafe tadi. Aku melihatmu menangis dan aku yang mencuri buku harianmu.”
Jungkook mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Ah, benar saja. Ia memiliki buku harianku.
“CCTV di cafe itu tidak rusak. Aku yang menyuruh nona Kim untuk berbohong padamu. Aku bilang aku akan mengembalikannya.”
Matilah aku. Aku sudah benar-benar tidak dapat mengatakan apapun pada pria ini. Dia sudah tau penyakitku. Aku merasa malu. Aku menunduk dalam.
“Aku sudah membaca semuanya”
‘Ya tentu saja’ gumamku dalam hati.
“Seperti yang aku katakan, kau tidak akan kulepas.”
Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya, meskipun aku takut Jungkook menyadari wajahku yang memerah. Aku perlu memastikan apakah orang ini serius dengan ucapannya.
“Ya benar begitu, Chansol. Tatap aku baik-baik.” Mata hitamnya menatapku dalam-dalam. “Aku sudah tau mengapa kau tiba-tiba menyuruhku pergi.” Jungkook meraih satu tanganku lagi dan menggenggamnya erat. “Kau berusaha begitu keras selama ini Chansol. Berhentilah, kau tidak perlu lari lagi. Aku tidak akan pergi ke kemana pun, meski kau mengusirku berkali-kali.”
Wajahku memanas dan tanpa sadar air mataku menetes. Jungkook cepat-cepat menyeka air mataku dan memelukku.
“hey, kau sedang menerima pernyataan cinta. Mengapa kau membuatku seperti seorang pria jahat yang membuat pacarnya menangis?”
Aku tersenyum di dalam pelukannya.
“Aku tidak akan melihatmu sebagai orang aneh seperti yang kau takutkan. Kau adalah Chansol-ku. Aku ingin memelukmu saat kau merasa terpuruk. Aku tidak ingin lagi membiarkanmu terpuruk seorang diri. Sudah cukup Chansol.”
Aku merasa egois karena merasa sangat bahagia berada di pelukannya.
“kau tidak perlu merasa bersalah karena mencintaiku.” Bagaimana orang ini bisa tau isi kepalaku?
“Karena aku tampan, aku bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dan lebih seksi darimu.”
Ah orang ini... Aku membencimu Jungkook. Aku tertawa di dalam pelukannya.
“Tetapi aku hanya ingin Chansol. Aku hanya ingin Chansol entah bagaimanapun kondisinya.”
Aku mencoba melepaskan pelukannya, supaya aku bisa menatapnya.
“Tidak!” seru Jungkook seraya memelukku lebih erat. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”
Aku ingin tertawa melihat sikapnya seperti anak kecil yang tidak ingin bonekanya diambil.
“Aku ingin menatapmu..” gumamku dalam pelukannya.
“oh..” gumamnya. Ia melonggarkan pelukannya dan menggenggam kedua tanganku. “Silahkan tatap aku sepuasmu Chansol. Nikmati ketampanan Jeon Jungkook.”
Aku tersenyum menahan tawa kerena tingkahnya yang menggemaskan.
“Kau yakin ingin bersamaku? Aku ini sulit dimengerti dan sulit dikendalikan.” Aku menarik nafas dalam. “Seperti yang kau katakan, kau bisa mendapatka wanita lain yang lebih baik dariku. Apa suatu saat kau tidak akan menyesal karena memilihku?”
“Tidak akan.” Jawabnya tegas. “Jangan mengkhawatirkan masa depan Chansol, karena di sana pasti ada aku yang akan selalu mendampingimu.”
Entah sihir apa yang digunakan pria ini hingga aku merasa tenang mendengarkan perkataannya. Rasanya seperti mengonsumsi obat penenang, hanya saja obat penenang tidak membuatku tersenyum sebahagia ini.
“Besok aku akan mencarikan seragam sekolah lagi. Ayo kita kencan besok! Ah, rasanya besok terasa lama. Bagaimana jika sekarang? Ayo cari seragam! Kita ulangi kencan yang waktu itu dan jangan berani menolakku lagi!”
Aku kembali tersenyum menahan tawa.
“Mana bisa aku kencan dengan wajah bengkak begini.” Aku cemberut seolah-olah menyalahkan Jungkook karena telah membuatku menangis. “tetapi besok memang terasa lama..” gumamku malu-malu.
“Sudah ditentukan!” ujar Jungkook penuh semangat. “Kita akan kencan saat ini. Ayo kita cari tempat penyewaan kostum, aku rasa masih ada yang buka.”
“jangan lepaskan aku..”entah bagaimana kalimat itu terucap begitu saja.
“Tidak akan” Jungkook menggenggam tanganku erat.
Aku tidak tau mana yang lebih hangat. Perasaanku yang seperti musim semi atau tangan besar yang menggenggam tanganku. Dan benar, hari itu dia tidak melepaskan genggamannya.



Kencan seragam terinspirasi dari Webtoon berjudul Between Us. Imut sekali ya kencan dengan seragam? :) 

Selasa, 13 November 2018

Laut dan Bunga Matahari


Waktu itu hujan ketika aku melihatnmu melintas di seberag jalan. Kau terlihat sedikit berbeda dengan orang-orang diselilingku. Entahlah, mungkin karena kau terlihat manis. Ah, aku masih ingat bagaimana rambut keemasan itu terguyur rintik-rintik hujan. Wajahnya putih pucat, perawakannya tinggi, dan dari seberang ini aku tau warna matanya sebiru laut. Mantelmu sedikit basah, waktu itu kau ingin merapikan ikatan pada mantelmu kemudian kau sempat melihat ke arahku. Ya jelas sekali waktu itu aku tertangkap sedang mengamatimu. Harusnya hari itu aku tidak usah membuang wajahku. Seandainya hari itu aku berjalan ke arahmu setidaknya, aku mengenalmu beberapa hari lebih banyak dibandingkan saat ini. 

Beberapa hari setelah itu hujan tiba-tiba turun di tengah-tengah perjalananku pulang. Untungnya aku lupa membawa payungku. Aku menepi dan berteduh di sebuah kedai kopi. Waktu itu aku memesan Piccolo namun pria tua yang menjaga kedai itu malah membuatkanku espresso. Aku tidak begitu menyukai espresso, dan kemudian kau sudah berdiri di sebelahku.
“Aku ingin espresso, Allejandro.” Kau menoleh ke arahku sebentar, “Aku tidak yakin nona ini akan menikmati espresso, biar aku ambil espresso ini dan kau buatkan piccolo untuknya”. Sepertinya kau mendengarkan percakanku dengan pria yang ternyata bernama Allejandro ini.

“Dia memang agak tuli.” Bisikmu ketika Allejandro membuatkan Piccoloku. “Tapi apapun yang ia buat terasa enak, itu sebabnya aku tidak pernah keberatan ketika ia membuatkan pesanan yang salah untukku.”
“Ah, terimakasih banyak. Aku baru pertama kali ke kedai ini.”
Entah bagaimana kita bisa duduk saling berhadapan di bangku kedai itu. Kita berbicara begitu akrab, seperti teman lama. Kau berbicara dengan penuh percaya diri dan kenyamanan, tapi tidak membuatmu terkesan seperti pria genit. Mungkin kau orang pertama yang bisa seakrab itu denganku di kota kecil yang baru saja kutinggali.
“Ini Cappucinomu, nona” ujar Allejandro sambil meletakkan cangkir di meja kami.
Aku hanya tersenyum. Berkat hujan dan Allejandro, aku beruntung hari itu. 
Tak lama setelah itu, aku beberapa kali mampir ke toko bunga tempatmu bekerja. Toko bunga itu berada tepat di samping kedai kopi milik Allejandro. Kadang aku sengaja mampir ketika jam istirahatmu dan kau tidak pernah terlihat keberatan atas kedatanganku, seperti aku tidak pernah keberatan ketika Allejanro mebawakan pesnanan yang salah keapdaku. Dia benar, apapun yang dibuat Allejandro terasa nikmat.  

Aku benar-benar menikmati percakapan dengamu. Aku mengagumi cara pandangmu, cara berfikirmu, dan aku benar-benar menikmati pancaran matamu yang jujur dan tulus ketika berbicara. Ah, Muriel. Aku tidak tau sejak kapan, tapi aku yakin, aku pasti sudah jatuh cinta denganmu.
“Scarlet, sepertinya kau harus membawa beberapa buah bunga matahari dariku.”
“kenapa?” tanyaku heran.
“Kau mirip bunga matahari, setiap aku melihat bunga matahari aku langsung mengingatmu.”
“bagaimana bisa aku mirip dengan bunga matahari?”
Aku ingat bagaimana binar matamu ketika mengucapkan “Aku begitu menyukai bunga matahari sejak dulu, dan aku rasa aku juga begitu menyukaimu. Rasanya seperti aku sudah menyukaimu sejak dulu sampai-sampai aku tak sabar ingin mengungkapkannya.”

Beberapa bulan kemudian, terbangun dalam pelukanmu adalah hal yang kualami setiap pagi. Kau tak pernah beranjak dari kasur tanpa menciumku terlebih dulu. Kau selalu menciumku sebelum mematikan lampu dan memelukku sampai aku tertidur. Kau suka bangun pagi kemudian membeli beberapa bahan makanan untuk sarapan, mengganti bunga di vas, atau hanya sekedar melihatku masih tertidur pulas.

Bagaimana bisa aku tidur tanpamu di sampingku ranjang yang luas itu? Aku masih bisa mencium wangimu di sprei dan bantal ini. Tetapi hatiku sakit karena tidak menemukanmu di sisiku. Hatiku hancur mengetahui bahwa aku tidak akan bisa memelukmu lagi. Aku kadang berbohong dengan diriku sendiri, aku menutup mata dan membuat bayangan seolah-olah kau masih ada di sini.

Di hari badanmu dipenuhi perban dan selang aku tak kuasa berharap agar kau dapat terus bertahan. Aku tak kuasa membayangkan rasa sakit yang harus terus menerus kau hadapi. Aku ingin kau kembali, memelukku, menciumku, berjalan denganmu kemanapun itu. Aku berharap dikala hujan sore itu aku segera menemuimu, berkata bahwa kita memang ditakdirkan bersama.

Hari di mana kau pergi membuatku sedikit lega. Setidaknya aku tidak melihatmu menderita lagi. Tetapi hatiku selalu hancur ketika tidak menemukanmu di saat aku benar-benar merindukanmu.

Hari ini hujan kembali turun. Rasanya seperti hari di mana aku pertama kali melihatmu. Aku menatap ke seberang jalan tempat di mana dulu kau berdiri. Aku ingat warna mantel yang kau gunakan, bagaimana rambutmu basah terpercik air hujan, dan mata sebiru laut itu ketika menatapku.

Kemudian aku menyadari, sebetulnya kemana kau pergi Maurel? Rasanya kau ada di setiap sudut tempat yang pernah kita lewati. Di seberang jalan itu, di kedai kopi Allejandro, bahkan rasanya sekarang kau sedang memelukku. Ah, rasanya aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kau tak pernah benar-benar pergi Mauriel. Kau masih ada di hatiku yang paling dalam, dan akan selalu begitu.