Rabu, 17 November 2021

Di Samping Kedai Kopi

 Toko Buku

Hari ini pun sama seperti tiga belas hari sebelumnya. Jumlah pengunjung toko hampir tidak ada. Dalam dua jam ini, Aka sudah tujuh belas kali memeriksa situs Toko Buku Aka. Belum ada pesanan buku yang masuk, sama seperti seminggu terakhir.

Sesekali Aka membalas beberapa pertanyaan calon pembeli mengenai ketersediaan buku. Kebanyakan dari mereka hanya menjadi calon tanpa pernah menjadi pembeli. Aka belum patah semangat, setidaknya selama tiga belas hari terakhir. Tepat sebelum hari ini.

Aka memandangi bola lampu, pendingin ruangan serta steker listrik yang terhubung dengan komputernya. Apakah biaya listrik bulan ini hanya akan menjadi kesia-siaan? Aka tidak perlu membayar uang sewa toko buku. Itu membuatnya sedikit lega dan berkecil hati. Bibinya yang dermawan, dengan suka rela memberikan Aka tempat untuk toko buku yang sudah lama ia cita-citakan. Ruangan kecil dengan sedikit halaman depan ini didapannya hanya dengan sebuah syarat: jangan sampai bangunan ini hancur. Cukup mudah bagi Aka untuk menjalankan syarat itu. Sangkin mudahnya Aka merasa dirinya benar-benar gagal.

“Padahal sudah tidak perlu membayar sewa toko, tapi mengapa sulit sekali menjual buku-buku ini?”

Aka hampir menangis ketika memikirkan dua hal yang sebenarnya tidak terlalu berkaitan itu. Modal yang ia pinjam dari ibunya entah kapan bisa kembali. Hutang budi kepada bibi semakin menjadi-jadi. Masa depan terasa suram sekali. Aka berjanji tidak akan makan lebih dari dua kali sehari. Ia harus lebih hemat lagi.

Telpon genggam Aka berbunyi. Ia memasang pengingat untuk menagih uang sewa kedai kopi di sebelah tokonya. Bangunan ini sebenarnya berbentuk tiga ruang yang berjejer. Ruang pertama adalah kedai kopi yang sepi sekali, lalu toko buku Aka yang tidak berbeda, serta ruangan terakhir yang dirubah bibi menjadi kamar kecil untuk Aka tinggali. Sesekali bibi juga tidur di kamar itu jika berkunjung. Tentu saja seluruh bangunan ini milik bibi yang baik hati. Tugas Aka hari ini adalah menagih uang sewa kedai kopi yang sudah lewat satu bulan. Belakangan ini Aka hampir setiap hari ke sana untuk menagih, tetapi si pemilik kedai selalu beralasan untuk menunda pembayaran. Jika Aka tidak bisa menghasilkan uang lewat toko bukunya, setidaknya Aka harus rajin menyetorkan uang sewa dari kedai kopi.

Setidaknya Aka harus menjadi gadis baik yang bertanggung jawab.

 

Kedai Kopi

Sebelum kedai ditutup, Kura selalu membersihkan kedai kopinya. Mulai dari membersihkan jendela hingga toilet, semua ia lakukan sendiri. Pemilik, barista, akuntan, sekaligus petugas kebersihan untuk kedainya sendiri sebenarnya tidak terlalu melelahkan. Mengingat betapa sedikit orang yang datang ke kedainya. Kura berniat untuk mempekerjakan seseorang di bagian kasir sekaligus kebersihan, tetapi niatnya sudah hilang. Belakangan ia tidak tenang karena usahanya yang nyaris gulung tikar. Ditambah lagi keponakan pemilik gedung hampir setiap hari menagihnya uang sewa.

Kura memutar otak untuk membayar uang sewa. Tidak ada harapan bank akan meminjamkannya uang untuk sebuah tempat usaha yang tidak jelas prospeknya. Mau menggadaikan harta berharga, tetapi semua sudah ia korbankan untuk membeli grinder, moka pot, cangkir, gelas, meja, kursi, dan lemari es. Ponselnya yang sudah ketinggalan jaman tidak akan menghasilkan apa-apa. Lagi pula ia butuh ponselnya untuk mendapatkan pesanan lewat daring. Walau itu hampir tidak pernah terjadi.

Terbitlah sebuah ide di kepalanya saat ia buang air. Ia akan membuka kedainya lebih lama. kopi adalah minuman yang diminum untuk menghilangkan kantuk. Orang-orang lembur di malam hari pasti ingin minum kopi. Begitulah pikir Kura, sehingga ia membuka tokonya hingga pukul empat pagi.

Pukul tujuh pagi, ia sudah kembali membuka tokonya. Orang lembur di malam hari dan harus bekerja di pagi hari pasti minum kopi. Begitulah pikir Kura, lagi. Pukul tujuh hingga empat pagi, begitulah selama dua minggu ini.

Ia hampir tidak pernah pulang ke rumah dan tidur di sofa kedai yang sempit. Mustahil untuk tidur terlentang sempurna. Lehernya pegal, kepalanya pusing, pikirannya sudah tidak jernih, tetapi semangatnya masih tersisa. Sedikit. Mungkin sedikit lagi habis.

Semangatnya semakin menipis ketika melihat tagihan listrik yang membengkak tanpa hasil apa-apa.

“Padahal sudah bekerja lebih keras, kenapa hampir tidak ada yang minum kopi di sini?”

Kura hampir menangis memikirkan usaha kerasnya yang percuma. Dia malu pada dirinya sendiri yang menyedihkan, tapi juga bercampur marah. Dia sudah mengorbankan segalanya demi kedai kopi yang didambakannya.

Ia mulai berfikir apa ia terlalu muda dan naif untuk menghasilkan uang dari hal yang ia suka. Apa ketulusannya ini hanya berakhir menjadi petaka?

Kepala kura pusing bukan main. Siapapun pasti akan begitu dengan pola kehidupan tidak masuk akal ini. Sebutir obat pereda nyeri mungkin cukup untuk membuatnya bertahan hari ini. setelah ia meminum segelas air, tubuhnya menjadi sedikit segar. Ia membulatkan tekat: aku akan berhenti jika aku benar-benar diusir dari tempat ini.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas pagi. Di jam ini jarang sekali ada pelanggan yang datang. sejujurnya tidak hanya di jam ini. Kura merebahkan kepanya di meja kasir sambil menutup mata. Ia hanya ingin beristirahat sebentar.

Tiba-tiba pintu kedainya terbuka. Kura segera meneggakan badannya walau kepalanya terasa berat.

“sial” umpat Kura dalam hati, sebab keponakan pemilik gedung datang kembali.

Rasanya Kura ingin pingsan saja.

“Selamat pagi” sapa Kura sambil tersenyum. Di hadapan Aka, senyum itu sangat menyebalkan. Seandainya ia tidak terlambat membayar uang sewa pasti Aka akan membalas senyumnya dengan tulus.

“Selamat pagi,” Sahut Aka dengan senyum seadanya.

“Aku ingin meminta uang sewa bulan Oktober” ujar Aka lugas. “oh iya, sekaligus bulan November. Sekarang kan sudah Desember.”

Kura merogoh kantong belakang jeansnya yang sudah pudar, bukan karena mengikuti tren tetapi karena termakan zaman. Celana itu sudah delapan tahun umurnya. Sambil mengelurkan dompet kulit imitasi yang sudah mengelupas dan cekung mengikuti bentuk bokong, Kura memohon maaf atas keterlambatannya. Ia memberikan beberapa lembar uang yang ia ambil dari tabungannya. Tidak ada lagi yang tersisa. Jika ada gadis nakal yang ingin memorotinya, maka gadis itu sedang sial.

Aka menerima uang itu dan menghitungnya. Aka ingin mengatakan bahwa uang sewa yang ia berikan jauh dari jumlah lunas. Ini hanya seperdelapannya. Sejujurnya Aka jengkel dan ingin berbicara lebih tegas dengan pria ini, tetapi ia mengurungkannya. Pria ini sangat pucat, matanya hitam berkantung, serta urat-urat merah di matanya terlihat jelas. Wajahnya kuyu dengan tulang pipi yang menonjol. Aka ingat minggu lalu pria ini menggunakan baju yang sama, tapi hari ini bajunya terlihat lebih longgar.

Tifus ya?” pikir Aka.

“Aku akan transfer sisanya”

Aka mengangguk kemudian pamit kembali ke toko bukunya. Ia merasa seperti seorang lintah darat setelah menerima uang itu. Menyebalkan, kenapa pria itu harus terlihat memprihatinkan?

“Anda bekerja sendirian?” tanya Aka.

“Iya, benar.”

“Kedai ini buka dari jam sepuluh pagi hingga delapan malam bukan?”

“Dulu begitu, sekarang dari kedai ini buka pukul tujuh pagi hingga empat pagi.”

Sinting.” Untunglah Aka mampu menahan diri hingga tidak mengucapkannya.

“Sejak kapan?” tanya Aka.

“Kira-kira dua minggu lalu”

benar, dia sinting.” Gumam Aka dalam hati.

“Hati-hati saat menutup toko ya. Cek alat-alat yang menggunakan listrik dengan baik. Jangan sampai terjadi kebakaran, bisa-bisa aku jadi gelandangan.”

Kura tersenyum walau tidak menganggap candaan itu lucu.

Kura membukakan pintu untuk Aka, kemudian ia kembali ke tempatnya dan merebahkan kepalanya. Yang tadinya hanya sakit kepala, sekarang bercampur dengan kesedihan dan putus asa. Sekarang Aka, gadis penagih uang sewa itu tau betapa menyedihkannya dia.

Kura lelah sakali. Ia ingin tidur, tapi bagaimana kalau ada pelanggan? Kura bahkan tak yakin akan ada yang datang hari ini. Seandainya memang tidak ada yang datang hari ini harusnya ia tidur saja. Seandainya dia bisa membaca masa depan, Kura pasti punya jam tidur yang lebih baik. Kepalanya terasa semakin pening.

Beberapa menit setelah Kura hampir tertidur, pintu kembali terbuka.

Baru kali ini Kura berharap lebih baik tidak ada pelanggan yang datang. Kura kembali menegakkan badannya sambil menatap ke arah pintu masuk. Di sana sudah ada Aka yang berdiri dengan sekaleng jus dan sebuah kantong berisi obat-obatan.

“Istirahat dan makan dengan benar. Kalau sakit mana bisa bekerja.”

Aka meletakkan jus dan kantong obat itu di atas meja kasir.

“Ini bukan obat terlarang kok, hanya vitaman.” Aka membuka kantong itu dan memperlihatkan isinya. “Bibi membawa banyak sekali setiap datang, nanti pasti akan dibawakan lagi.”

Ada kecanggungan sepersekian detik di antara mereka.  

“Aku akan kembali ke toko buku”

Kura spontan berterima kasih, “Lain kali silahkan minum di sini. Khusus untuk anda, gratis.”

Aka tersenyum jahil, “Tidak, saya lebih suka anda bayar uang sewa tepat waktu.”

Pertama kalinya dalam hari itu mereka berdua tertawa.

“Anda sudah berusaha dengan baik.” Ucap Aka setelah tawa mereka reda.

Ya, Kura yakin ia sudah berusaha dengan baik. Ia merasa lega.

“Terima kasih. Anda juga sudah berusaha dengan baik.”

Aka tidak merasa ia berusaha sebaik Kura. Apa benar ia sudah berusaha dengan baik?

Di depan pintu toko buku, Ara teringat bulan lalu ruangan ini kosong. Berbeda sekali dengan saat ini. Ia teringat dengan keragu-raguannya saat memutuskan membuka toko ini. Keraguan itu ada sampai sekarang, tetapi Ara terus bertahan. Ia terus bergerak hingga ruangan ini tertata dan dipenuhi buku. Orang yang ragu-ragu itu sekarang sudah menjadi sedikit lebih berani.

Ara membuka toko pintu sambil menyadari bahwa dia juga sudah berusaha dengan baik. Dia memutuskan berusaha dengan baik untuk seterusnya.  

Sabtu, 30 Oktober 2021

Berduka Bersamaku

 Seorang manusia retak

Memijak tanah dan tak beranjak

Awan masih berarak

Walau kau dan aku berjarak

 

Akankah bulan dan matahari terlambat

Saat aku tertambat pada kenangan pekat

Hanya manusia yang terikat

Dengan tali bersimpul kuat

 

Sangkala terus melaju

Para hamba menunggu terbujur kaku

Tak ada yang hentikan waktu

Mari berduka bersamaku

Kita Pasti Mati

 Kita pasti mati

Di hari yang cerah atau mendung

Sesuap nasi atau beras satu lumbung

Bekerja keraslah sebelum masa berkabung

 

Kita pasti mati

Musim kemarau atau banjir bandang

Uang receh atau keluarga terpandang

Bersyukurlah sebelum masa berkabung

 

Kita pasti mati

Berteman atau terkucilkan

Sebatang diri atau banyak rekan

Berdamailah sebelum masa berkabung

 

Kita pasti mati

Di bawah bintang atau matahari

Kegagalan lagi atau mimpi yang terjadi

Berbahagialah sebelum masa berkabung

Sabtu, 12 Juni 2021

A Piece of the Moon (Sebuah catatan untuk hal-hal berharga yang tak lagi utuh)

 

 

A Piece of the Moon

Sebuah catatan untuk hal-hal berharga yang tak lagi utuh

 

Itu judul untuk buku bersampul gradasi ungu dan merah jambu yang saya beli kira-kira tahun lalu. Sejujurnya buku ini belum selesai saya baca ketika menulis ini, masih kurang beberapa lembar lagi. Buku ini bentuknya kumpulan prosa. Di bagian belakang buku dituliskan,“Buku ini adalah catatan harian milik Ha Hyun tentang cinta, kepolosan, dan berbagai perasaan yang kamu pasti juga pernah merasakannya”

Ha Hyun adalah wanita yang menulis buku ini. Dari namanya saja kita sudah bisa menebak ya kalau mbak Ha Hyun ini orang korea. Yap benar! Buku ini masuk ke dalam kategori K-Iyagi yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. Buku yang saya miliki adalah cetakan pertama yang diterbitkan di tahun 2019. Selanjutnya akan saya panggil dengan Ha Hyun eonni saja ya!

Salah satu tulisan yang saya suka adalah ‘Landak’, prosa pertama dalam buku ini. Ah, sebenarnya saya agak takut mengutip prosa ‘Landak’, tetapi saya sangat ingin. Baiklah, mudah-mudahan tidak ada hal buruk yang terjadi.


Landak

Aku mencoba untuk mengurangi rasa kecewaku pada orang lain, dengan cara memendamnya. Namun, satu per satu duri muncul di tubuhku setiap aku dilukai-baik besar maupun kecil- dalam hubungan dengan orang lain. Duri itu muncul untuk melindungi diriku, karena aku tidak ingin hatiku terluka. Suatu hari, tiba-tiba aku kedinginan, ketika aku memutuskan untuk tidak lagi terlalu berharap banyak dalam hubungan apa pun. Diriku yang terpantul di carmin menyerupai seekor landak. Tubuhku dipenuhi duri, sehingga tidak bisa memeluk siapa pun.

 

Prosa yang kebanyakan dari kita pernah rasakan ya?

Ada baiknya emosi yang kita miliki tidak selalu dipendam. Cobalah ungkapkan emosimu dengan bentuk yang tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain. Contohnya seperti prosa Ha Hyun eonni ini. Buku ini tidak sepenuhnya ditulis dengan bahasa yang eksplisit. Saya rasa buku harian yang berbentuk prosa seperti ini, sedikit membantu anda-anda yang pemalu dan tertutup. Cobalah menjadi jujur, setidaknya dengan diri sendiri dulu. Cobalah tuliskan emosi, cerita anda hari ini atau kemarin atau apapun yang ingin anda ceritakan dalam bentuk apapun senyaman mungkin. Mungkin kita akan menangis sambil memegang pena atau tertawa sendiri di dalam kamar. Seburuk-buruknya hari ini pasti akan berlalu, begitu juga dengan hari yang indah.

Masih ada hal-hal sulit lainnya di hari esok. Jangan terlalu banyak memendam jika hanya menyakiti diri sendiri, karena masih ada hal-hal menyakitkan lainnya yang akan datang. Seperti judul buku ini, kita kehilangan dan tidak lagi utuh. Kita semua terluka tapi hari-hari terus berlanjut. Agak kejam ya? Tetapi dengan berjalannya waktu kita belajar untuk sembuh dan kembali bangkit. Seiring dengan berjalannya waktu, akan ada waktu-waktu baik lainnya ketika anda siap.

Akhir kata, buku ini bisa didapatkan lewat toko resmi Penerbit Haru maupun toko-toko buku lainnya. Sebelum membeli pastikan dulu buku yang teman-teman beli adalah buku original a.k.a bukan palsu.

Semoga harimu menyenangkan.

 

 

Senin, 19 April 2021

Loneliest

Warning! 21+ karena mengandung unsur sensitif seperti bunuh diri (suicide). Mohon pembaca bijak dalam memaknai tulisan ini. Tulisan ini tidak mengajak siapapun untuk bertindak ekstrim dan sejenisnya. Jika mengalami ‘kesulitan’, tolong segera mencari bantuan atau berbicaralah dengan saya. 

 

 

 

Aku mengenalnmu sebagai gadis yang mirip dengan kuncup bunga. Aku beberapa kali melihatmu mendongak ke langit dan tersenyum pada matahari. Aku rasa aku mulai mencintainya di musim panas, saat matahari bersinar lebih cerah dibanding musim lainnya. Jauh sebelum bertemu denganmu, aku sudah menyukai musim panas. Aku sangat suka es serut di musim panas, dan kau.

Aku tidak tau bunga apa yang cocok untuk menggambarkanmu, bunga matahari terlalu cerah dan bunga mawar terlalu dewasa untuk kita. Kau tersenyum pada siapapun tetapi hampir tidak tertawa terhadap apapun. Orang-orang segan kepada kepribadianmu yang dewasa, tapi itu membuatku bertanya-tanya ‘itukah kau yang sebenarnya?’

Aku muda dan berapi-api. Kau adalah angin musim panas yang membuatku semakin berkobar. Setelah tekadku bulat, aku menyapamu. Kau tersenyum dan aku tidak merasa terkesan, sebab itulah yang kau lakukan pada semua orang. Jika aku kecewa padamu dan menyerah, aku adalah pecundang. Jadi, setelah beberapa minggu menjadi tiba-tiba akrab denganmu, kita duduk berhadapan di kedai es serut di seberang sekolah. Aku tidak bilang apapun tentang perasaanku padamu, tapi aku tau pasti bahwa itu hanyalah cinta sepihak.

Saat hari demi hari berlalu begitu saja, dan musim gugur tiba. Matahari tak seterik musim kemarin. Aku menjadi sedikit lebih mengenalmu: mata sayumu bukan karena kau sipit. Kau pandai membuat orang tidak tertarik padamu, hingga tidak ada orang yang mengenalmu dengan baik. Jika aku tidak melihatmu tersenyum di musim panas apakah kau akan lebih kesepian dari sekarang?

Menurutmu, semua orang bebas untuk menyimpan rahasia mereka masing-masing. Memaksa seseorang untuk berbicara mirip dengan pencuri yang mengancam korbannya. Jadi, aku hanya mengamatimu dengan penuh tanda tanya tanpa berani mengungkapkannya.

Hari-hari di sekolah tak tersisa banyak, kelulusan akan segera tiba. Hari itu, aku ingin sedikit lebih lama berbincang denganmu.

“Kau teman yang baik. Aku yakin kau sangat menyayangiku, dan aku tidak perlu bukti apapun. Aku hanya percaya kau menyayangiku. Aku sungguh berterima kasih atas itu. Kau yang terbaik.”

Kau tersenyum seolah-olah itu adalah musim panas.

“Aku sudah siap jika harus mati sekarang, aku sudah bahagia punya teman yang sangat baik sepertimu.”

“Harusnya kau berharap hidup panjang agar terus bersamaku.”

“Tidakkah itu terlalu tamak? Lagi pula, mati hanyalah kehilangan nyawa.

Sesuai dengan wasiat yang kau tulis di atas selembar kertas, kau tidak ingin memiliki makam agar tak seorang pun bisa mengunjungi makammu. Orang-orang pasti berpikir, sampai mati kau terus kesepian. Kau memaksa orang-orang untuk segera melupakanmu, tetapi itu tidak akan berhasil padaku.

Aku masih sering memikirkanmu. Dibandingkan larut dalam pikiran ‘kenapa kau memutuskan untuk menghilangkan nyawa’, aku lebih memilih untuk terus mencintaimu. Aku melanjutkan hidup dan menyimpanmu  diam-diam dalam hatiku.

 

 

Selasa, 16 Februari 2021

Kita bukan orang yang seperti itu

 

Ini adalah tanggal sembilan yang kesekian kalinya. Belakangan aku tak banyak tersenyum ataupun menangis. Aku tak melakukan banyak hal. Sejujurnya aku hampir tak melakukan apapun. Dokter yang kukunjungi setiap bulan menyarankan untuk menambah dosis antidepresanku, tetapi aku menolak. Setelah keluar dari ruanganya aku mulai berpikir; mungkin ada perubahan baik jika aku sedikit lebih menurut pada dokter itu.

Aku tidak suka hujan saat perutku lapar. Bukannya aku membenci hujan, sejujurnya aku suka berjalan di bawah gerimis. Aku hanya orang yang seperti itu. Aku sering kali marah dan jengkel tapi sulit untuk membenci. Kurasa, ada banyak orang seperti aku.

Ada banyak orang yang saling bergandengan tangan sebagai bentuk cinta, tetapi tidak semua tangan yang saling menggenggam adalah cinta. Ada banyak orang yang berpelukan setelah lama tak bertemu, tetapi tidak semua pelukan adalah penawar rindu.

Aku banyak bicara pada sebagian orang dan cenderung pendiam pada sebagian lainnya. Aku tidak pandai berbohong tapi juga tidak handal mengutarakan kejujuran. Aku tidak pernah mengungkapkan betapa bahagianya aku ketika kau menelpon setiap bulan di tanggal sembilan. Aku tau kau khawatir, dan aku senang kau khawatir.

Orang-orang mengungkapkan cinta lewat surat, bunga dan cincin, tetapi kau tidak begitu. Kau lupa kapan hari jadi kita, dan sebenarnya aku juga tidak terlalu peduli. Tanggal sembilan bukanlah hari jadi kami. Kurasa itu tanggal sepuluh atau dua belas, aku hanya yakin itu di bulan Mei.

  Malam hari di tanggal sembilan selalu terasa hangat meski di musim gugur. Kau berpura-pura tenang dan menahan diri untuk tidak bertanya berbagai hal setiap kali kita bertemu di depan rumah sakit. Aku tau kau lebih mengutamakan kenyamananku dibandingkan rasa khawatir dan ingin tahumu. Kau seolah-olah senggang di malam hari setiap tanggal sembilan, walau aku tau kau sebenarnya diam-diam membatalkan beberapa rencanamu.

Aku yang berpura-pura marah dan mengomel untuk menutupi rasa khawatirku setiap kau sakit, dan kau yang selalu membawakan kue kesukaanku dengan alasan ‘kebetulan lewat’ adalah bentuk cinta. Aku tau aku dicintai olehmu, dan aku yakin kau juga begitu. Kita tidak begitu pandai mengatakan betapa kita saling mencintai, sebab kita hanya bukan orang yang seperti itu.

 

 

 

 

 

Mungkin ini nggak menyentuh hati kalian, tapi cobalah lebih teliti untuk menemukan cinta di sekitar kita.

Rabu, 30 Desember 2020

Alien Kecil dan Tuan Hantu 2

 

Beberapa hari lalu, alien kecil melihat segerombolan bocah merundung seorang anak laki-laki kurus yang pucat. Tempurung lututnya yang menonjol mendarat di atas aspal kasar. Sepasang telapak tangan mungilnya mengelupas. Ada pasir diantara lukanya yang menganga. Segerombolan bicah tengil tadi menatap korbannya dengan angkuh.

Tidak ada kendaraan yang melintas ketika bocah kurus itu jatuh ke jalan, tapi itu bukanlah sebuah keberuntungan karena berarti tak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Lebam yang kemarin bahkan belum serupa dengan warna kulit. Ada koreng minggu lalu yang masih belum mengelupas.

Sebuah pekikan keras mengagetkan segerombolan bocah tersebut. Suara sepasang langkah kaki terburu-buru semakin terdengar. Seorang penolong berlari menuju bocah kurus yang masih terduduk di pinggir jalan. Bocah-bocah angkuh tadi buru-buru lari, entah ke mana perginya tatapan angkuh mereka beberapa detik lalu. Perempuan paruh baya yang sudah memeluk bocah kurus itu berteriak “Awas kalian!”.

Bocah kurus itu menangis, demikian pula wanita yang memeluknya. Melihat kejadian yang tidak pernah terjadi di planetnya, alien kecil bertanya

“Tuan hantu, aku tau kenapa bocah itu menangis. Luka di lutut dan tangannya terlihat cukup parah, tapi kenapa si wanita menangis tak kalah hebat?”

“Wanita itu juga terluka” jawab tuan hantu singkat.

“Tapi aku tidak melihat luka apapun”

“Hatinya yang terluka.”