Kamis, 23 Mei 2013

Bow and String-2

Here’s the second chapter! Enjoy!!! :D


Dia baru saja menginjakkan kakinya di halaman sekolah. Tahunajaran baru, dengan semangat baru, yang artinya belum ada tugas menumpuk. Wajahringan William terlihat sama ringannya dengan langkah kakinya. Kehidupan SMA-nyatidak berbeda jauh dengan dua tahun lalu di sekolah lamanya. Masihmenjadilaki-laki pemalu, namun tidak lagi menjadi pengecut.

Dia tidak takut untuk berdiri di depan kelas apabila disuruhuntuk bernyanyi, bahkan teman-temannya mengetahui betapa berbakatnya dia dalambidang musik! Bukan hanya dari caranya bernyanyi, namun juga betapa handalnyaia memainkan berbagai alat music! Music itu seperti separuh darinya.

Seperti dua tahun lalu, ia kembali terpukau dengan sosokyang berada tidak jauh di depannya. Bukannya William tidak pernah bertemudengannya selama dua tahun terakhir, hanya saja mereka jarang bertemu.Sekalipun bertemu, mereka hanya akan saling berbalas senyum atau berucap “hay!”dan tidak pernah lebih. William terlalu canggung untuk bercakap-cakapdengannya.

Mata perempuan itu menyapu pemandangan si sekitarnya.

Sinar matahari membuat rambut coklatnya berkilau. Anginsepoi-sepoi kota Sligo membuat rambut pendeknya berayun-ayun.  Dia berdiri tegap sambil memegangi taliranselnya, seakan ransel itu akan jatuh jika tidak dipegang baik-baik. CelanaJeans ketat melekat di kaki-kakinya yang panjang semampai. Resleting Jaketnyadibiarkan tertutup setengah.

Dia bahkan jauh dari kata ‘feminim’, tapi dia keren!

Alanna, yang selalu bisa membuat William bergumam “cantik”saat mereka berpapasan, walau hanya di dalam hati. Dia juga orang yang sama,orang yang bisa membuat jantung William bergetar hebat. Dan dia juga yangmengusir jauh-jauh predikat pengecut dari William. Walaupun William tidakmengetahui yang terakhir.

Alanna beranjak dari tempatnya berdiri, mungkin ke kelasbarunya. Sulit dipercaya, mereka berada di sekolah yang sama lagi! Williamtetap tersenyum sumringan, meskipun Alanna tidak tersenyum padanya kali ini.

*

Alanna melihatnya. Dia masih sama seperti dulu. Sama pemaludan sama pendiamnya. Dia duduk di pojokan ruang makan, tanpa satupun teman yangmenemaninya di meja makan. Dia terlihat baik-baik saja dengan kondisi itu. ataumungkin sudah terbiasa dengan kondisi itu.

Roti isi yang ada di atas meja makan, disantapnya denganlahap. Alanna tersenyum melihatnya, suatu bukti dia memang baik-baik saja. Laki-lakipemalu dan pendiam seperti dia mungkin merasa nyaman dengan kondisi sepertiitu. mungkin..

Pernahkah dia kesepian? Suatu pertanyaan bagi Alanna yangsudah cukup lama berdiri dengan makan siang di tangannya. Alanna ingin berjalanke tempat di mana laki-laki itu sedang melahap roti isinya.

“hey Ally!!” Alanna terlonjak kaget dan pikirannya terpecah.Seseorang memanggil namanya. Alanna cukup heran. Betapa cepat namanya dikenaldi sini.

Yeah, memang tidak banyak yang berubah dari kedua orang itu.

Alanna menoleh pada sumber suara. “Ayo! Bergabung di sini!”laki-laki itu tersenyum seraya memanggilnya, tapi orang ini bukan laki-lakiyang sedang melahap roti isinya. Laki-laki itu menawarkan kursi makan sianguntuk Alanna. Di samping laki-laki itu ada seorang perempuan berkacamata, yangtidak terlalu menarik.  Namun keduanyaterlihat ramah, tidak ada wajah iblis yang jahat di sana.

Mulanya Alanna ingin menolak dengan sopan dan inginmenghabiskan jam makan siang dengan si roti isi itu. Alanna melirik laki-lakidengan roti isi di mejanya tadi. Namun, ia tengah membereskan bangkunya danpergi meninggalkan ruang makan.

Alanna mendesah kecewa, namun tetap tersenyum walaupunperih. Lagi pula menolak tawaran teman baru yang baik rasanya kurang sopan. Dantiba-tiba duduk dengan laki-laki pemalu itu, bisa saja Alanna membuatnyatersedak karena kaget, kemudia meninggal di tempat. Alanna tertawa membayangkannya.

*
Ruang music sepulang sekolah masih menjadi rumah keduabaginya.

Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts hitamputih. Tumit kaki kanannya bergerak naik turun, menjadi alunan tempo untuknada-nada harmonis yang sedang di mainkannya. Matanya terpejam, hanyut dalamnada-nada yang dimainkannya sendiri.

*

Entah apa senutan untuk ini…

Alanna berjalan menyusuri sekolah barunya. Namun tujuanutamanya sudah ditentukan, bahkan sebelum pelajaran di mulai . perasaannyaberkata bahwa ia akan mendengarkan lagu itu lagi. Yeah, lagu yang membuatjantungnya berdebar.

Di sekitar koridor yang sedang ia lewati, Alanna dapatmendengar dentingan dari tuts-tuts piano yang mengalun merdu. Alanna yakin seyakin-yakinnya, jika si pemain adalah orang yang sama dengan orang orang yang ditemuinya duatahun lalu, di saat seperti ini juga, di ruang music sekolah lamanya.

Alanna menoleh keluar jendela. Keadaan di luar mulai sepi.Alanna mendekati sumber dentingan tuts-tuts piano itu. semakin dekat dan suaraitu terdengar semakin jelas. Alanna bisa melihat dengan jelas siapa pianisnya. Wajahnyayang begitu menikmati irama yang dimainkannya. Tebakan Alanna tidak melesetsedikitpun.

Alanna segera masuk ke ruangan itu.

William sang pianis berhenti memainkan lagunya. Ia menyadarikedatangan Alanna. Alanna terlihat santai dan matanya yang begitu hidup,menyapu seluruh ruangan yang luas itu.

“ally?!” William berucap kaget. “Apa yang sedang kamulakukan di sini?”

“melihat-lihat sekolah baruku.” Jawab Alanna santai. “ngomong-ngomong,kenapa berhenti? Lanjutkan lagunya. Kamu taukan kalau lagu itu indah sekali?”

William terdiam, keningnya berkerut sambil menatap Alanna.

“lanjutkan!” seru Alanna dengan senyum penuh semangat. setelahbeberapa saat menatap Alanna, William melanjutkan lagunya.

Alanna menemukan apa yang dicarinya. Sebuah boila. Benda itutersender  dengan anggunnya pada dindingputih yang berdiri kokoh. Alanna segera meraihnya, kemudian berjalan ke arahgpiano yang sedang dimainkan William.

Alanna mendengarkan lagi itu baik-baik, bahkan ia sampaimenutup matanya untuk beberapa saat. Kemudia badan biola berada tepat di bawahdagunya. Bow bergesekan dengan string, senar-senar yang sedang di tekan-tekanoleh Alanna.

William menoleh pada Alanna yang sedang memainkan biolanya. Matanyaterpejam, menikmati tiap-tiap nada yang dinggap di gendang telinganya.

Siapapun yang mendengar kolaborasi dari keduanya, tentu akantenggelam dalam keindahannya yang memikat.

*

Entah sudah berapa lama mereka berada di tempat yang sama.Namun sekarang William mendapati Alanna duduk di sampingnya. Di bangku pianoyang cukup luas. Namun cukup dekat hingga William dapat mendengar dengan jelastiap hembusan nafas Alanna. Wangi Alanna yang mungkin parfumnya, atau pengharumpakaiannya, atau mungkin harum rambutnya, entahlah! Tapi William bisa menciumwanginya di jarak sedekat ini. Biola yang tadi di mainkannya, disandarkankembali pada dinding yang tidak jauh dari piano.

“aku tau kamu bisa memainkan Biola, piano, dan whistle thin”seru William saat Alanna sedang memainkan sembarang lagu pada piano. “tapi akutidak tau kamu sehebat itu!”

Alanna tersenyum, kemudia menanggapi “tidak ada yang taujika tidak ada yang pernah melihat. Seperti kamu..”

“William mengernyit “Seperti aku?”

“yeah. Kamu itu hebat! Namun tidak ada yang pernah melihatkehebatanmu, jadi siapa yang tau? Ah! Itu dulu. Mereka sudah melihatnya dipentas seni dua tahun lalu.”

William tersenyum mengingatnya, matanya menerawang dalampada tuts-tuts hitam putih di depannya. “ya, itu sebuah kesalahan. Kesalahan yangluar biasa.”

Apa yang baru saja dikatakan William? Ya, kata ‘kesalahan’itu terdengar jelas di telinga Alanna. Namun ‘luar biasa’? ditambah lagi denganWilliam tersenyum saat mengatakannya. Jadi sudah pasti ‘luar biasa’ itu berlakudalam artian positif. Salah dengarkah dia? Alanna tersenyum. Hatinya menari-narisangkin senangnya.

Alanna tersenyum tanpa berhenti memainkan tuts pianonya. Every little thing you do yangdimainkannya asal-asalan masih terdengar indah di telinga keduanya.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Hanya petikan-petikandari senar-senar piano yang berbicara. Alanna bisa merasakan ada sesuatu yangmemperhatikannya. Alanna melirik sedikit ke kanan, dan
mendapatkan mata biru gelap William memandangi wajahnya denganbegitu dalam. Dan hangat. Bahkan Alanna bisa merasakan wajahnya memanas dengantatapan itu.

Alanna sadar bahwa itu aneh, dan yang lebih anehnya lagikenapa dia bisa begini? Ally segera menoleh dan menatap William.

*

William yang bodoh! Bagaimana bisa ia memandangi orang disebelahnya dengan tatapan itu. begitu dalam dan William tidak bisa membohongidirinya sendiri bahwa ia menikmati saat-saat itu. saat-saat ia memperhatikanwajah cantk di sebelahnya. Sebelum akhirnya Alanna menoleh padanya sambilberkata “apa?”

William tersadar kemudian tergagap dan secepat mungkin iamenjawab “oh! Bukan apa-apa.”

Alanna kembali pada lagu dan pianonya. William mencoba untukmengikutinya dengan tuts-tuts yang tersisa (tuts yang tidak ditekan Alanna). Menjadikanlagu itu semakin indah dan membuat siapapun yang mendengarnya ingin berdansaatau setidaknya menghentak-hentakkan kaki mereka.

Alanna menari jari-jarinya dari atas tuts-tuts itu. hanyaWilliam yang masih memainkan lagu itu. tidak ada yang bisa menyangkal, lagu itumasih terdengar indah.

William sadar, ada sesuatu yang memperhatikannya. Williammelirik ke sebelah kirinya. Dan mendapati Alanna sedang menatapnya sambiltersenyum lembut. Sesaat William hanya mengabaikan tatapan Alanna itu dan tetapbermain. Namun kegagapan, akibat kekacauan fikiran William membuatnya terpaksamenarik jari-jarinya dari atas tuts piano. sungguh! Tatapan itu berhasil denganbaik mengaduk-ngaduk otaknya!

William sadar benar Alanna masih tersenyum padanya dansiapaun dapat melihat dengan jelas rona merah di wajah William. Senyum simpulyang tertahan membuat wajahnya terlihat lucu. William menoleh pada Alanna danbertanya “ada apa?” maksud dari ucapan itu sebenarnya adalah “tolong berhentimenatapku begitu, apalagi dengan senyumanmu itu! sebelum aku mati konyol disini!” dan itu tentu tidak mungkin keluar dari bibir William.

Alanna tergelak. “kamu masih sama pemalunya dengan yangdulu!”

William mulai berfikir, mungkin ini bagian dari balas dendamAlanna atas tatapan bodohnya tadi..





Nah! Sampai sini dulu.. hehe aku lagi memperkuat plot-plotselanjutnya (kalo juga plotnya jadi di tulis -_-). Silahkan komen yangpanjang!! :D
Aku juga minta saran untuk judul dari cerita romantic GATOT(gagal total) ini :D
Terimakasih!!! MUAAAHHH!!!! :v

Minggu, 19 Mei 2013

Bow and String-1

hmm hmm hmm.. this story inspired by "rose trilogy" ! :D buku yang bisa bikin mewek berhari-hari
Alanna: 13 tahun
William: 15 tahun

finnian, kelly, sama Ciaran itu.. kakak"nya Alanna *yang gantengnya cetar membahana XD*
Keavy sama Kian itu ortunya Alanna. nah! William itu anaknya Mark (adopsi)

enjoyyy!!! :D




Dia berdiri di sana. Gadis kecil itu berdiri di depan pagarsekolah. Ia harus segera masuk, dia tidak boleh terlambat pada hari pertama disekolah barunya. Matanya menyapu pemandangan si sekitarnya.

Sinar matahari membuat rambut coklatnya berkilau. Angin sepoi-sepoikota Sligo membuat rambut pendeknya berayun-ayun.  Dia berdiri tegap sambil memegangi taliranselnya, seakan ransel itu akan jatuh jika tidak dipegang baik-baik. CelanaJeans ketat melekat di kaki-kakinya yang panjang semampai. Jaket hitamnya dibiarkantidak dikancing.

Dia bahkan jauh dari kata ‘feminim’, tapi dia keren!

William, sosok pria kecil yang sedari tadi mengamati sosokberambut pendek itu. sekilas ia seperti mengenali sosok yang diamatinya. Untukbeberapa saat ia mengira-ngira siapa anak perempuan yang keren itu. kemudianingat dan sangat yakin bahwa sosok itu adalah Alanna, putri dari kerajaan egan.

Ia ingat betul saat alanna masih sangat kecil. Dia sungguhmanis dengan gaun pendek selutut yang ada gambar beruangnya. Gaun hitam itu sungguhsesuai dengan kulitnya yang putih mulus. Rambut coklat sepunggungnya di kepangkuda dengan poni di keningnya. Sungguh cantik.

Sekarangpun sosok itu masih sangat cantik walaupun rambutcoklatnya dipotong pendek. William tidak akan menarik kata-kata cantik dariAlanna.

Sosok itu sadar dengan siapa yang mengamatinya dari jauh.Alanna melemparkan sebuah senyum manis pada Willian. Belum sempat Will membalassenyuman itu Alanna telah beranjak dari tempatnya berdiri, mencari kelasbarunya mungkin. Namun William tetap tersenyum sipu setelah itu.

*

William Shawn Oliver Micheal MCdaid-Feehilly, bukanlah sosokyang popular di sekolahnya. Dia  termasukanak yang cukup pendiam dan pemalu di banding teman-teman sebayanya. Dibesarkandari pasangan gay, tentu dia mengerti bahwa dia bukanlah anak kandung daripasangan itu. namun dia tidak keberatan dengan itu. orang tua angkatnya sungguhmenyayangi dia seperti anak kandungnya.
Sedikitpun William tidak pernah kekurangan kasih sayang.Ditambah lagi dengan saudara angkatnya matthew, yang tak kalah mencintaiWilliam. Dia tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga yang penuh dengan kasihsayang.

Entah karena  ayahnya,Markus Feehily seorang musisi atau alasan lainnya, William begitu menggemarimusic. Dia bisa memainkan beberapa alat music melodis seperti Piano dan Gitar.  Hampir semua Genre music disukainya, asalkanmusic tersebut layak disebut lagu.

Akibat kegilaannya pada music, ruang music sepulang sekolahadalah rumah kedua baginya. Dia tau tidak akan ada orang yang menggunakan ruangmusic selain dia, dan dia sangat menyukai itu. permainan music William tidakbisa diremehkan begitu saja, namun dia memang tidak akan bisa mengendalikandegup jantungnya saat ada orang yang mengamatinya saat bermain music.

Seperti yang sudah William tebak, tidak aka nada orang lainyang ada di ruangan itu selain dia. Ransel birunya di buang sembarangan dan diasegera mendudukin bangku di belakang Piano. ia meregangkan jari-jari panjangnyakemudian meletakkan mereka di atas tuts-tuts putih. Alunan nada-nada indah yangbiasa digunakannya sebagai pemanasan mengalun di seluruh ruangan.

Setelah ia berasa cukup dengan pemanasannya, ia mencobabeberapa lagu yang sedang digemarinya. Senandungnya sesekali terdengar diantara alunan tuts-tuts  piano yang ditekannya.Jari-jarinya seakan bergerak spontan di atas tuts hitam putih itu. tumitnyabergerak naik turun di bawah piano, sebagai acuan untuk ketukan. Kemudia iabernyanyi,mengeluarkan suaranya..

*

Di saat anak-anak lain tengah berdesak-desakan untuk segerakeluar dari gedung sekolah, Alanna masih tetap berada di dalamnya. Sekolahbarunya sungguh mengundang untuk dikelilingin dan di sinilah ia sekarang,ruangan untuk klub tari. Lumayan luas, namun tempat latihannya bersama Mrs.Kent masih lebih bagus dari pada ruangan ini. Mrs.Kent sendiri adalah gurutarinya selain Keavy, ibunya.

Beralih dari ruang tari, Alanna melangkahkan kakinya dimenjauh dari ruangan itu. samar-samar,namun alanna tau pasti bahwa itu adalahsuara piano, terdengar suara lantunan nada-nada harmonis di sekitar koridor.Alanna berjalan mendekati dengan sumber suara itu.

Semakin dekat dengan sumber bunyi, alanna bisa mendengarkansuara seseorang yang tengah bernyanyi dengan iringan nada-nada harmonis yangdidengarnya tadi. Alanna berjalan semakin dekat, dan sekarang ia bisa melihatransel biru yang tergeletak sembarangan di samping pintu ruang music yangterbuka. Alanna yakin bahwa itu ruang music setelah melihat papan yangtertempel di atas pintu dengan tulisan ‘Ruang Musik’ di permukaannya.

Tidak ingin mengganggu orang yang sedang asik bernyanyi itu,Alanna mengintip sedikit ke dalam. Entah karena permainannya yang begitu bagus,atau suara si penyanyi yang merdu, atau mungkin karena si penenyanyinya yangdikenal Alanna itu memiliki wajah yang tampan saat bernyanyi, jantung Alannaberdegup kencang saat itu.

Alanna tidak mengerti apa maksud dari jantungnya yangtiba-tiba berdegup kencang. Namun Alanna masih mengamati si penyanyi yangsepertinya sangat focus pada permainannya, hingga ia tidak tau bahwa ia sedangdiamati.

Ia sering bertemu William jika westlife sedang berkumpul,namun ia tidak bernah melihat William kemudia jantungnya berdebar-debar sepertiini.  Alanna merasa sangat aneh kali ini,namun ia segera melupakannya dan menikmati permainan William.

“Overseas from coastto coast… find the place I love the most! Where the fields are green to see youonce again.. my love”

Alanna tentu tau lagu itu. Salah satu lagu yang dinyanyikanayahnya bersama teman-teman westlifenya. Alanna sungguh menikmatinya, dan diamasih bertahan di sana untuk mendengarkan bait selanjutnya.

“all.. disana kamu rupanya!” Alanna menoleh pada orang yangberbicara itu, kemudian dia tersenyum pada Alanna. “sore ini kamu harus latihanbukan? Ayo kita pulang” Ajak Finnian yang merupakan kakak laki-laki Alanna.Kakak yang setia mengantarnya ke mana-mana, walaupun Ciaran dan Kelly jugapasti bersedia jika di minta. Namun Finnian yang paling sering mengantarnya kemana-mana.

Alanna mengangguk, kemudia kedua egan itu jalan berdampinganmenjauh dari tempat itu.

*

William mendengar ada seseorang yang berbicara di luar sana.Kemudia ia menghentikan permainannya dan bangkit dari kursi piano hitam itu. iamengeluarkan kepalanya dari pintu kemudia menoleh ke kiri dan  kanan. Tidak ada siapa-siapa.

Kemudia ia melirik jam tangannya. ‘tiga puluh menit lagi matthew akan menjemput’ pikirnya. Kemudia iakembali pada pianonya dan menggunakan sisa waktunya untuk bermain bersama alatmusic yang tersedia di sana.

Sebenarnya keluarga Mcdaid-Feehily memiliki Piano dan gitardi rumah, hanya saja William menyukai kesunyian di saat memainkan alat musicitu. ruang music sepulang sekolah jauh lebih sunyi dibandingkan dengan rumah.Karena sudah pasti tidak akan ada yang memperhatikannya di  sini. Berbeda jika di rumah, Matthew ataukedua ayahnya, atau siapa saja yang ada di rumah sering kali diam-diammemperhatikannya saat sedang bermain dengan alat music itu. dan William tidakterlalu menyukai itu.

*

Siang itu, di saat anak-anak lain berbondong-bondong keluardari sekolah, Finnian belum menjemputnya. Berfikir tentang William yang bermain dengan Piano di ruang musicmembuatnya ingin kembali ke sana. Dan keturunan Egan satu ini memiliki sifatambisius bahkan cenderung keras kepala. Jadi, jika kamu berusaha untukmenghentikannya, sepertinya dia tidak akan mendengarkanmu.

Seperti yang seharusnya terjadi, koridor menuju Ruang musicsepi tanpa seorangpun, kecuali Alanna dan berharap saja Will juga ada di sana. Alanabisa mendengar suara dari telapak kakinya yang menginjak-nginjak lantai.Benar-benar sunyi.

Semakin mendekat dengan ruang music, namun suara darituts-tuts piano yang merdu tidak terdengar seperti yang di dengarnya kemarin.Bahkan nyaris tidak ada suara di sana, kecuali suara dari sesuatu
 yang sepetinya sangatkecil sedang bergesekan. Dan suara senar gitar yang di petik dengan tidakberaturan. Alanna mengintip sedikit ke ruang music.

William duduk selonjor di lantai dengan sebuah gitar dipangkuannya. Tangan Kirinya berada pada head gitar, sedang memutar-mutarturning pegs . tangan kanannya sesekali memetik salah satu senarnya. Tidaksalah lagi, William salah menyetem gitar.

“Hay Will!” sapa Ally dengan akrab saat ia masuk ke ruangmusic. William terlonjak kaget dan spontan memutar turning pegs dengan hilangkendali.  “ptaang!’ tali pertama padagitar itu putus dan nyaris saja menyanyat wajah William. Ally memejamkan matasaat tali senar itu tiba-tiba putus. Setelah ia membuka matanya kembali, “maaf”gumam Ally dengan penuh penyesalan. Sepertinya manusia di depannya ini begitumudah terkejut. Tapi jika difikir-fikir, wajar juga jika Will kaget. Harusnyatidak ada orang lain di sini, selain dia. Dan sekarang Ally tiba-tiba datangsambil berkata “hey Will!”. Will tidak pernah berfikir ini akan terjadi.

“maaf aku mengagetkanmu” ulang Ally. William mendongakdengan gugup pada orang yangbaru saja hampir membuatnya serangan jantung, danmengangguk padanya.

“Apa di sini punya cadangan senar?” Tanya Ally dengan tidakenak.

“seharusnya ada” William bangkit berdiri kemudian berjalanke pojok ruangan dengan gitar tadi di tangan kirinya. Di pojokan itu terdapatsebuah box yang cukup besar. Mungkin di sana tempat menyimpan benda-benda kecildi sini. Setelah beberapa saat mengorek-ngorek kotak tesebut, William berbalikpada Alanna “sepertinya habis”. Alanna mendesah kecewa.

“tidak apa-apa. Kita menunggu di luar saja. Ayo!” Williamtersenyum mengajak Alanna, dia tidak marah sedikitpun. Lagi pula itu bukansepenuhnya kesalahan Ally. Lagi pula siapa yang menyuruhnya ke ruang music padajam pulang sekolah?!

“kamu mau pulang sekarang? Masih ada piano yang bisa kamumainkan?” Ally melirik Piano yang berada di sampingnya.

“uhm.. tidak sekaran. Ayo kita menunggu di luar”

*

Di sepanjang koridor Ally bercerita tentang banyak hal,setelah beberapa saat William hanya diam. Entah mungkin karena kesal denganAlly yang tiba-tiba mengagetkan. (hey! Namanya kaget pastinya datangtiba-tiba). Atau mungkin canggung karena mereka memang jarang bertemu apalagiberbicara. Salah satu yang di ceritakannya adalah tingkah konyol kakak-kakaknyadi rumah dan itu membuat William sesekali tersenyum dan tiap kali Williamtersenyum Ally merasa lega. Dia yakin William tidak mempermasalahkan senar yangputus itu .

“nah, aku sudah cukup banyak bercerita tentang kehidupan dirumahku. Bagaimana dengan yang ada di rumahmu?” ketika mereka telah berada diluar bangunan.  Wiliam melirik Allisekilas kemudian menjawab.

“tidak ada yang terlalu menarik. Kecuali…Hanya dua orangpria yang sering kali saling berpelukan” William mengankat bahu dan menolehpada Allana, mengisyaratkan sesuatu. Dan Allanna mengangguk karena ia mengertimaksudnya. “makan malam dengan penuh canda walaupun kadang lawakannya tidaklucu sama sekali kami akan tetap tertawa.” Willam  berhenti sampai di sana. Tidak ingin adakekosongan dialog, Ally segera meresponnya.

“Keluarga yang manis”

“dan penuh kasih sayang” tambah William sambil tersenyummanis.

“ya, dan penuh kasih sayang!” Ally melirik sedan merah yangmelintas di depan pagar sekolah. “itu pasti Finnian” Ally menunjuk sedan merahitu dengan jempol kanannya. “Aku pulang duluan ya!” Kemudia Ally berlari kearah mobil itu berhenti.

*

Sungguh! William tidak mempermasalahkan tentang senar putusdan Alanna yang datang dengan tiba-tiba sehingga ia tidak percaya diri untukmemainkan piano itu. ia terdiam selama perjalanan keluar dari ruang musickarena: mereka memang jarang bertemu apalagi berbicara, sehingga William merasacanggung. Dan alasan ke dua adalah, jantungnya tidak bisa di ajak kompromi!Mengapa ia berdetak begitu kencang! Sekitar 15 menita yang lalu ia merasa wajarjika jantungnya berdetak dengan cepat. Itu karena Alanna yang tiba-tiba datangdan mengagetkannya. Tapi di menit-menit selanjutnya, debaran itu tidak kunjunghilang dan William mulai merasa aneh. Hingga akhirnya Ally menghilang daripandangannya setelah melempar sebuah senyum manis kemudia masuk ke dalam sedanmerah itu.

Bagaimana bisa gadis kecil itu membuat jantungnyaberdebar-debar??

*

Baru beberapa bulan lalu Ally menginjakkan kakinya disekolah ini, namun sepertinya setiap orang di sini sudah menjadi temannya. Diaanak yang sunggu pandai bergaul. Walaupun dia begitu dekat dengan muridlaki-laki, namun orang-orang dapat memakluminya. Karena dia memang seoranggadis kecil tomboy yang jauh dari kesan feminim. Namun orang-orang menganggapbahwa Alanna itu keren, dan memang begitulah kenyataannya.

Berbeda jauh dengan William yang pendiam dan sangat pemalu.Ayolah, dia laki-laki! Bisa-bisanya dia pemalu. Namun memang begitulahkenyataannya. Alanna punya teman di berbagai sudut sekolah. Dan Williamterbiasa sendirian ke mana-mana. Bukan berarti hubungan William denganteman-temannya tidak baik. Ia hanya tidak begitu dekat dengan mereka dansepetinya teman-temannya tidak begitu tertarik untuk mendekatinya.

Teman-temannya tau bahwa William dapat dalam memainkanbeberapa alat musik. Hanya saja ia tidak pernah menunjukkannya jika tidakdiminta oleh si guru music. Teman-temannya hanya mengetahui bahwa ia bisa.Mereka tidak mengetahui bahwa William begitu mahir! Mereka tidak tau karenapermainan William tidak begitu bagus jika di depan teman-temannya. Kegugupanselalu mengacaukan permainannya. Harusnya ia mendapat predikat ‘luar biasa’namun orang-orang hanya melihat itu sebagai ‘biasa’ karena kegugupannya.

Berbeda dengan Alanna yang bakatnya telah di ketauhi bahkandi kagumi semua orang. Tubuhnya bergerak begitu lentur dan gesit saat musicmengiringinya. Bahkan Mrs. Brown yang merupakan pembimbing klub tari terpukaumelihatnya. Betapa luar biasanya anak tiga belas tahun ini! Bahkan ia sudahdiminta untuk mengikuti beberapa lomba antar sekolah dan acara pentas seni yangbiasa dilaksanakan di akhir tahun. itu adalah acara tahunan yang wajib dilaksanakan oleh sekolah ini. Seluruh siswa yang ingin menunjukkan bakatnyadiperbolehkan untuk mengikuti pentas seni ini.  Pentas seni ini memiliki sebuah tujuan yaitu“mencari bakat-bakat terpendam” begitu yang selalu dikatakan sang kepalasekolah pada kata sambutannya sebelum acara pentas seni dimulai.

Tawaran-tawaran yang diajukan pada Alanna sungguh tidak bisaia tolak. Malah dengan senang hati ia ingin melakukannya. Dan dengantawaran-tawaran itu pula, putri Egan ini semakin giat berlatih. Tawaran-tawaranitu adalah pemacu semangatnya. Walaupun tanpa tawaran itu ia akan tetap giatberlatih, karena ia memang sangat suka menari!

“keav.. dia benar-benar mirip kamu! Benar-benar anakmuKeav!” Kian tersenyum bangga saat melihat Alanna tengah berlatih di kamarnya. Putrinyaberlatih keras.

“anak kita, kee” ralat Keavy. Keav mengangguk dengan senyumpada Keavy.

Namun walaupun ia begitu giat dengan latihannya, ia tidakmenunggalkan pelajaran lainnya. Ia mempu membagi waktunya dengan baik. Sungguhprofessional. “persis seperti Kee-an” begitu yang Keavy katakan.

*

Sepertinya hampir semua anak-anak di seluruh dunia membencikata sambutan yang bertele-tele yang sepertinya tidak akan berakhir hingga kakisi kepala sekolah pegal-pegal dan kesemutan. Ally bersyukur mereka tidakmenyediakan kursi untuk si kepala sekolah . Beberapa anak bahkan sudah menguaplebih dari tiga kali, dan Alanna sendiri sudah yang ke lima kali.

“dan saya tidak akan berpanjang lebar…”

‘Jadi yang tadi ituapa namanya kalu bukan panjang lebar?!’ gumam Ally kesal dalam hati.

“mari kita mulai acara pentas seni ini!”

Kalimat terakhir yang diucapkannya sungguh membuat parasiswa bersorak soray! Walaupun ada beberapa yang masih menguap.

Teman sekelas Ally yang wajah imut, ditunjuk sebagai pembawaacara. Dan sekarang Ally mengerti kenapa si wajah imut itu yang di pilih.Orang-orang yang tadi menguap selebar-lebarnya sekarang tersenyum lebar denganwajah segar  saat si imut denganmalu-malu ia berjalan ke atas pentas dan membacakan acara selanjutnya.

“selanjutnya, penampilan dari Dolla Mcleek!” ucapnya dengansuara yang tak kalah imut dari wajahnya. Ally tersenyum mendengarnya. Kemudiansi imut itu jalan terburu-buru ke belakang panggung.

“Ally!” begitu dia sampai di belakang panggung “tolongpegang kertas acara ini dulu. Aku mau ke toilet. Aku sangat gugup!” Ally menerimakertas acara itu kemudia si imut terbirit-birit ke toilet.

Ally membaca isi dari ketas acara itu, yang sudah pastiberisi daftar acara yang akan di tampilkan. Satu persatu Ally membacanya hinggaakhir. Dan Ally agak kecewa setelah membacanya. Tidak ada nama William di sana.Kenapa tidak ada? Inilah yang seharusnya mereka lihat! Sesuatu yang bagus, yangbenar-benar ‘bakat terpendam’ seperti yang diucapkan pada pidato bertele kepalasekolah. Orang-orang harus tau betapa hebatnya dia.

Ally melirik si Dolla Mcleek yang sedang bernyanyi denganpenuh semangat. lagu I love you yang memiliki nada-nada tinggi dinyanyikannyadengan penuh semangat.  Tapi Ally yangmerupakan anak seorang penyanyi, walaupun ia tidak terlalu banyak tau sepertiFinn, bisa menebak bahwa ia tidak akan sanggup untuk menangani bagian reffnya.

“i’m honest
not untauchable
i’m a woman but not free’_
” suaranya seperti tercekik, karena seperti yangAlly duga. Dia tidak akan sanggup. Dia memilih nada dasar yang salah,seharusnya ia menurunkan setidaknya 1 nada dari yang sedang dipakainyasekarang. Itupun jika ia sanggup untuk menghadapi nada-nada rendahnya. Karenamenurut Ally ia memiliki jangkauan suara yang sangat terbatas.

Selama music masih mengalun Dolla Mcleek tetap melanjutkanlagunya. Ally sungguh menghargai itu. kepercayaan diri dari seorang bintangsangatlah penting di atas panggung. Seberapa hebat seseorang dia tidak akanbenar-benar hebat jika dia tidak memiliki kepercayaan diri. Dan sekarang, iasungguh ingin memperlihatkan kepada orang-orang bahwa William itu benar-benarhebat! Mereka harus melihat ini.

Ally melihat ada Spidol kecil di atas tumpukan naskah dramayang sudah acak-acakan. Lalu ia menentukan nomor yang tepat untuk William.

*

William duduk manis di kursi penonton, ia sungguh menikmatipertunjukan ini. Walaupun Dolla Mcleek tidak berhasil di nada tingginya, tapitidak apa. Bahkan William akan mengacungkan keempat jempolnya untuk Dolla ataskepercayaan dirinya. Yang tidak dimiliki William.

Sebenarnya jantung William berdebar-debar saat Dolla Mcleekbernyanyi di atas panggung. Bukan karena Dolla tampil memukau, namun Williamsangat ingin berada di atas panggung. Ia ingin menunjukkan kemampuannya samaseperti yang dilakukan Dolla. Sayangnya William kalah oleh kegugupannya danmemilih untuk duduk manis di bangku penonton.

Penampilan selanjutnya adalah puisi dari salah seorang adikkelasnya. Puisi itu terlalu puistis bagi William karena ia sama sekali tidakmemahami kiasan-kiasan yang di ucapkannya.

“seperti bunga mawar di musim dingin! Wangimu semerbakmengundang para lebah!” nah, setau William tidak ada serangga di musim dingin.William menggaruk-garuk kepala. Sebenarnya dia yang bodoh atau pusisi itu yangterlalu puistis.

Namun setelah si adik kelas membacakan puisinya, Williamtetap bertepuk tangan. Tetap saja, ia tidak memiliki kepercayaan diri sebesaryang dimiliki adik kelasnya. William merasa menjadi seorang pengecut. Iamembayangkan bahwa ia hanya perlu maju ke depan dan bernyanyiseperti yangsering ia lakukan di ruang music . Betapa sederhananya itu? namun ia tidak bisamelakukannya. Merasa menjadi pecundang sat ini tidak ada gunanya. Jadi diamemfokuskan perhatiannya pada pertunjukan ini.

Jantungnya semakin berdebar ketika melihat siapa yang naikke atas pentas. Senyum manis tesungging di bibinya yang merah jambu. Rambutcoklatnya bersinar di antara lampu-lampu panggung yang terang. Dia berdiridengan penuh percaya diri di sana.

Sebenarnya Alanna tidak seorang diri di atas panggung itu,ia bersama teman-teman satu klub tarinya. Hanya saja sosok itu yang palingmemancing perhatian William, sepertinya penonton lain juga berpendapat begitu.

Alanna dan teman-temannya bergerak lincah begitu musicpengiringnya mengalun. Mereka bergerak dengan lincah. Orang-orang sangat terpukaudengan betapa lenturnya tubuh mereka, betapa gesitnya mereka, dan betapamengagumkannya mereka.  William tidakmelepaskan pandangannya dari seseorang yang paling berkilau di matanya, di ataspanggung sana. Alanna. Mungkin karena gerakannya yang terlihat lebih sempurnadi banding teman-temannya, atau mungkin juga karena wajahnya yang sangat cantikdi bandingkan teman-temannya. Garis bawahi yang terakhir, karena itu pendapatWilliam.

Gerakan yang sungguh energik, dan William tahu betul bahwatarian itu menguras banyak tenaga. William bisa melihat keringat yang mulaimembasahi rambut coklat Alanna. Sungguh keringat itu tidak mengurangikecantikannya. Nah, dan yang itu juga pendapat William.

Di bagian Akhir yang merupakan bagian Klimaks, Alannamelompat tinggi dan berputar di udara. Semua orang terpukau melihatnya. Seakantubuh Alanna begitu ringan dan dapat digendong oleh udara. Sungguhmengagumkan.William terdiam dengan detak jantungnya yang begitu rebut. Iasungguh mengagumi sosok itu. dialah bintang sejati.

William tidak lepas-lepas memandangi sosok semampai ituhingga ia menghilang di balik panggung. Kalau pertunjukan tadi bisa di ulang,mungkin William akan mengulang-ngulannya hingga bosan. Masalahnya, Williambegitu yakin bahwa ia tidak akan bosan melihat pertunjukan itu.

Lalu si Imut leesy Jowk muncul dari balik panggung dengankertas kecil di tangannya. Williammempert hatikan orang-orang di sekitarnyayang melotot begitu melihat si imut leesy di atas panggung. Namun Williammenganggap, Ally lebih imut di bandingkan Leesy jowk meskipun Alanna tidakpernah berusaha berpenampilan imut. Ingat, Alanna itu tidak sepenuhnyaperempuan.

*

“selanjutnya! Kita akan melihat penampilan dari..” LessyJowk kesulitan membaca tulisan kecil di antara tulisan-tulisan yang sudah iatulis dengan sangat rapi beberapa hari yang lalu. Ia sangat mempersiapkan untukhari ini. Dan tulisan kecil itu begitu sulit dibaca, bukan hanya kaena kecilnamun tulisan itu juga tumpang tindih dengan tulisan tngannya. Iamengingat-ngingat kapan ia pernah menulis tulisan kecil tidak jelas ini.

Setelah terdiam beberapa saat seperti anak kecil yang lupabedanya huruf ‘b’ dan huruf ‘d’ di atas panggung, akhirnya Leesy bisa membacatulisan jelek itu.

“Mari kita saksikan penampilan dari William Mcdaid-Feehily!”

*

William melongo saat namanya terucap dari bibir kecil Lesyjowk. Ia memastikan bahwa pasti ada William Mcdaid-Feehily lainnya di sekolahini. Yang pastinya, dan seharusnya dia tidak ada di kertas acara itu! ia bahkantidak mendaftarkan diri untuk mengikuti pentas seni itu!

Seseorang menyentuh pundak William “hey Will, itu namamuMcdaid-Feehily. Ayo cepat maju!” seru orang itu. William berharap ia punya namabelakang lain saat ini. Hanya dia yang punya dua nama belakang di sekolah ini.Begitu banyak pasang mata tertuju padanya, memaksanya untuk segera naik ke ataspanggung agar acara ini bisa dilanjutkan.

William menelan ludah, kemudia berdiri dari tempat duduknya.Kemudian berjalan dengan kaki gemetaran menuju belakang panggung. Pentas seniini gila! Pasti ada kesalahan pada acaran ini! William berharap kesalahan ituakan segera diketahui dan panitia akan menghentikannya untuk naik ke ataspanggung.

William sampai di belakang panggung. Ia bisa melihat Alannadan teman-temannya yang baru saja keluar dari panggung. Masih berkeringat dannafas mereka  terengah-engah. Alannatersenyum padanya . Semua orang pasti bisa melihat betapa pucatnya wajahWilliam. Persis seperti vampire yang tiga hari belum mendapatkan mangsa, penuhkeputus asaan.

“ naiklah! Tarik nafasmu kemudian tutup matamu sejenak danberaksi! Yakinlah kamu bisa, maka kamu pasti bisa” William hanya tersenyumsebisa mungkin. Degup jantungnya sudah tidak karuan saat namanya disebutkantadi. Sekarang ditambah lagi dengan senyum Alanna yang membuat jantungnya inginlepas.

William menunduk dan berjalan menuju panggung dengan wajah‘matilah aku’.

“hey!” panggil Alanna. William menoleh ke belakang. “kamulupa gitarmu? Atau mau bermain dengan piano?” Alanna memegang sebuah Gitar,yang tali senarnya sudah diperbaiki William beberpa bulan lalu.

William merai gitar yang di pegang Alanna kemudia bergumam“terimakasih” sambil terseum pahit. Kemudian ia berjalan lunglai ke ataspanggung. Hanya satu alasan mengapa ia memilih gitar dibandingkan Piano. iaingat tiba-tiba teringat dengan lagu Vincent-Don Mclean yang menceritakantentang Vincent  dan lukisannya.  Pentas seni dan hal-hal yang berkaitan denganseni, sepertinya lagu ini cocok. Dan Aransemen yang digunakan Don Mclean dalamlagunya adalah gitar. William tidak dapat berfikir bagaimana iringan yang cocokjika ia menyanyikannya dengan piano. otaknya tidak bisa berfikir selancar yangbiasanya.

Ia tiba di tengah-tengah panggung dan Mike tepat berada didepan bibirnya. Orang-orang sudah memsang wajah tidak sabar pada penampilannya.Bukan karena penasaran pada penampilan William (ok, mereka juga sedikitpenasaran. Mengingat William orang yang pemalu), namun mereka ingin pertunjukanini terus berlanjut tanpa harus menunggu manusia yang leletnya setengah mati,dan belum tentu pertunjukannya memuaskan.

William menuruti kata-kata Alanna tadi. Dia menarik nafasdalam-dalam, kalau bisa ia pingsan saja di panggung ini, namun mungkin itu akanjadi lebih memalukan di banding bernyanyi dengan suara bergetar-getar ataukunci gitar yang tidak sesuai. William memejamkan matanya sejenak kemudiabergumam aku pasti bisa, di dalamhatinya. Ia harus yakin ia bisa! Ia berada di atas panggung. Dia tidak bolehmundur. Pilihannya hanya bernyanyi sebisa mungkin atau kembali ke balikpanggung dengan beban malu seumur hidup. William memilih bernyanyi sebisamungkin. Ia membuka matanya dan focus pada gitar dan suaranya.

Ia mulai memetik senar-senar gitarnya sebagai intro, dan iajuga mulai mendesah. Namun desahannya berhenti ketika ia tau bahwa ia harussegera mengeluarkan suaranya.  Apapunhasilnya ia telah melakukan yang terbaik, yang bisa ia lakukan.

 “Starry, starry night
Paint your palette blue and gray
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul
Shadows on the hills
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand what you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now”


sedikit selingan dengan gitarnya, dan kesempatan untuk Willuntuk mendesah lagi. Kemudia ia harus melanjutkan lagunya.

“Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue
Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand what you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left inside
On that starry, starry night
You took your life as lovers often do
But I could have told you, Vincent
This world was never meant
For one as beautiful as you”


William terpukau dengan dirinya sendiri, ia bisamelakukannya sejauh ini. Lagu ini sudah hampir selesai dan ia begitumenikmatinya hingga ia melupakan rasa gugupnya. Ia menemukan kuncinya! Nikmatilagumu maka kamu akan nyaman! Pengecut yang selama ini bersemayam di dalam dirinya entah pergi ke mana saatini. William tersenyum lebar. Ia bisa berdiri di atas panggung dengan nyamanseperti Dolla, anik kelasnya, dan Alanna!

“Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frameless heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget
Like the strangers that you've met
The ragged men in ragged clothes
A silver thorn, a bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know what you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will”


Tepuk tangan meriah memenuhi udara di seluruh ruangan ini.William tersenyum puas! Ia bisa melakukannya! Mereka memberikannya tepuk tangansama seperti dola dan yang lainnya yang diberi tepuk tangan! Tepuk tangan inibegitu meriah. Ia ingin mendengar tepuk tangan itu lagi dan lagi. Dan ia inginbernyanyi di atas panggung ladi dan lagi!

Sadar ia harus segera kembali ke belakang panggung, Williamsegera beranjak dari tempatnya berdiri dan ia masih tersenyum kegirangan.

Di belakang sana Alanna telah menunggunya. Ia mengangkattelap tangannya untuk ber-‘tos’ dengan William. Dan William menepuk telapaktangan Ally dengan penuh kepuasan. Mereka sama-sama tersenyum. Keduanya merasa puas.

“sekarang aku tau kenapa mereka menyebutmu cowok pemalu”seru Alanna. “wajahmu yang pucat tadi sudah menjelaskan semuanya”

*

Pengalamannya ini sungguh tidak pernah ia lupakan seumurhidupnya! Pertama kalinya ia bernyanyi di depan orang yang begitu banyak denganpenuh percaya diri dan dia melakukannya dengan baik! Pentas seni ini memanggila! William tidak menarik kata-kata itu. tapi pentas seni ini seperti penuhdengan sihir. Siapaun yang melakukan kesalahan itu, William sungguh berterimakasih padanya! Jika tidak ada dia mungkin William tidak akan pernah bernyanyidengan penuh percaya diri seperti tadi.

*

Alanna tersenyum puas melihat senyum Wiliam yang begitulebar. Dia berhasil menunjukkan bahwa Wiliam benar-benar hebat. Dan dengansenyumnya yang begitu cerah, Alanna mengira-ngira bahwa William tidak akanmelupakan saat ia bernyanyi tadi. Yeah, setidaknya dia tidak akan begitugampang melupakannya. Entah kenapa Alanna berharap begitu.mungkin karena ini adalah tahun terakhir William di sini, tahun selanjutnya ia sudah lulus...

Sekarang ia berharap ia telah membuat kenangan indah yangakan diingat William. Ia ingin William ingat ini.

Dan Alanna tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa saatia mengatakan “ naiklah! Tarik nafasmukemudian tutup matamu sejenak dan beraksi! Yakinlah kamu bisa, maka kamu pastibisa”  jantunya berdegup begitukencang!

Sekarang Alanna bertanya-tanya. Apa sebenarnya terjadidengan dirinya?




Bagaimana??? Cerita ini mungkin tidak sepenuhnya berdasarkanTrilogy *nanti susah banget. Lagian kasian kak maria, ntar trilogynya terkupashabis XDv* walaupun Trilogy itu sebenarnya sungguh”membantu. Haha dan menjadiisnpirasi buat bikin cerita ini..  waktulagi ngetik aku tiba-tiba teringat kok cerita ini jadi mirip Camp rock? Williamseperti demi lovato yang takut bernyanyi di depan banyak orang.. maafkan ataskemiripannya L .nahkarena William karakternya belum ada, jadi sesuka hati kubuat karakternyahahaha *digebukin Mark ma Kevin*.

Komen yang panjang!!!!!!!!!!!!! :D

Note: Chapter ke-2 kapan-kapan.. -_- hahaha

Minggu, 12 Mei 2013

Blaby Hill

hahaha ini dia naskah buat ikut dare-nya Chintya Tjoa..
enjoyyy!!


“hmm, mungkin ini bisa jadi tempat wisatan yang bagus untukmusim panas” seru Nicky seraya menunjukkan majalah edisi bulan lalu (yang entahdidapatnya dari mana) pada keempat temannya.

“Penginapan Berhantu Blaby Hill?” Baca Kian dengan nadamenggantung. “nama yang aneh”

“mungkin karena penginapan ini terdapat di bukit Bloom,makanya dinamai Blabyhill” Jawab Nicky asal.

“bukan, coba baca paragraph ketiga, disebut Blaby karenamemang penginapan ini berbicara” sahut Brian yang masih focus membaca halamanbergambar rumah tua megah itu.

“penginapan itu berbica? Aneh sekali”  namun Kian merasa tertarik hingga membacaartikel itu juga. “tapi sepertinya menarik”

“ah, paling hantunya adalah pegawai di penginapan itu yangberusaha menakut-nakuti pengunjung.” Brian tidak terlalu bersimpati. “Jamanseperti ini, manusia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Termasukmenakut-nakuti.”

“coba lihat!” Kian menunjuk pada sebuah kalimat dalamartikel itu. “Sering terdengar suara-suara aneh di penginapan itu, mungkin itusebabnya dinamai Blaby hill.”

“bisa jadi”

“pasti suara-suara aneh itu berupa: tangisan di tengahmalam, bunyi ketukan pintu, atau bunyi pintu dibuka dan di tutup. Itu tipuankuno. Mereka masih memakai cara usang nenek moyang mereka.”

“tunggu dulu, di mana tadi?” Tanya Kian.

“dimana apanya?” Nicky bertanya balik.

“letak penginapan ini”

“Bukit Bloom..” Jawab Brian malas.

“Nah! Apa kalian lupa berita yang sungguh sangat tua itu..kasus orang hilang ?” Kian berusaha mengingatkan kedua sahabatnya.

“maksudmu kasus hilangnya 13 wisatawan domestik itu?” Nickymemastikan.

“yep! Dan kejadiannya di Bukit Bloom! Mereka hilang di waktuyang berbeda-beda, mungkin selisih beberapa bulan, tapi tidak ada yang taupasti mereka menghilang di mana. Yang pasti mereka menghilang di sekitar bukititu.”

“lalu apa kaitannya wisatawan hilang dengan penginapan hantubualan itu?” Brian mengerutkan keningnya.

“jangan bilang kalian berfikir,wisatawan itu hilang lalu meninggal dan menghantui bukit Bloom, termasukpenginapan hantu bualan itu”

“kira-kira begitulah..” jawab Kian.

“ayolah Bri, sepertinya ini tujuan yang bagus. Siapa taukita bisa jadi detektif dadakan hahaha”

“Polisi sudah melakukan penyelidikan ke sana dan tidakmenemukan apa-apa, kau tidak mungkin lebih handal dari polisi-polisi itu. Tapi,baiklah, aku tertarik. Hanya saja kita harus membawa Shane dan Markie, hahahaaku sungguh tertarik untuk melihat wajah ketakutan mereka”

*

Jalan menuju Blaby Hill memang tidak bisa dikatakan dalamkondisi bagus. Jalan menuju penginapan itu hanya berupa jalan tanah yangberuntung dapat ditempuh menggunakan mobil. Sehingga 5 bocah raksasa itu tidakperlu berjalan kaki mendaki bukit. Mereka yakin jika hujan turun maka yangmereka lintasi bukan jalan tanah melaikan kolam lumpur.

“sudah ku bilang! Penginapan berhantu itu bukan tujuan yangbagus untuk liburan!” Shane masih berpegang tegus pada keyinannya, ide menginapdi Blaby Hill adalah ide buruk. Bahkan Shane sudah mengira-ngira bahwa ini akanmenjadi liburan musim panas terburuk seumur hidup. “jalannya berkelok-kelok,belum lagi permukaannya tidak datar, dan aku sudah merasa mual.” Shanememijat-mijat pelipisnya.

“Oh, diamlah Shane! tidak bisakah kau menikmati ciptaanTuhan yang indah ini!” akhirnya Brian membalas gerutuan itu, setelah sekianlama Shane menggeruti di sepanjang jalan. Pemandangan di bukit Bloom memangindah. Tak banyak campur tangan manusia di bukit ini, kecuali jalan tanah yangkeriting ini, dan beberpa lainnya yang tidak diketahui. Pohon-pohon besardengan daun-daun mereka yang hijau, beberapa bunga liar yang mungkit tidakmereka temukan di kota, dan serangga musim panas yang banyak macamnya!

“lebih kau diam dan tidak menggerutu seperti Mark”. Semuamelirik kearah Mark (kecuali Kian yang fokus menyetir) yang sedang tertidurpulas seperti mayat.

“bagaimana bisa aku tidur jika jalannya sama jelek denganwajahmu, Bri!” bukan hanya gerutuan, Shane juga menambahkan toping ejekan dalamkalimatnya. Sungguh membuat Bria kesal dua kali lipat.

“kalau begitu, tutup saja mata dan mulutmu dan berharaplahkau akan segera menjadi mayat bernafas seperti Mark!” Shane hanya diam denganwajam masam. Namun ia tidak membantah kata-kata Brian. Shane menutup mata danmulutnya kemudia  memsang posisi untuktidur.

“aku mual…” tiba-tiba Mark terbangun dengan tangannya yangmeraba-raba seperti mencari sesuatu. “aku mau mun_ HOOOEEKK!!” dia bahkan belummenyelesaikan kalimat terakhirnya sebelum isi perutnya keluar.

“MARKIEEE!!! Jangan bilang kau muntah di mobilku!! Aku barumencucinya kemarin!! Dan kau tau apa? Mereka tidak menulis ada vasilitas cucimobil di penginapan itu!!” Mark memang muntah di dalam mobil milik Kian, tapidia tidak memuntahi Kian. Namun Kian berbicara seakan Mark memuntahi wajahnya.Penuh dengan rasa kesal, dan jijik pastinya.

Shane yang berada tepat di samping Mark, yang tadinya sudahmemejamkan mata dan mulutnya, berusaha untuk tidur, sekarang terbelalak denganpenuh perasaan jijik dan kesal, dan siap untuk mulai menggerutu lagi.
“untunglah aku di sampingmu Shane, bukan di samping Mark”Nicky tersenyum dengan penuh rasa syukur, walaupun sebenarnya dia juga merasaagak jiji, tapi tidak sejijik Shane dan Kian.

“perutku mual..” suara Shane terdengar lemah. “sepertinyaaku akan muntah”

*

Penginapan berhantu Blaby Hill merupakan sebuah rumah tuayang besar dan megah. Cat putihnya yang sudah mulai terkelupas membuatpenginapan itu berkesan horror, belum lagi penginapan itu ditumbuhi denganbatang-batang kayu yang tinggi di sekitarnya. Namun, kesan megah tidaksedikitpun berkurang karena hal itu.

Jumlah kamar di penginapan itu tidak banyak, mungkin hanyasekitar  10 atau 12 buah. Jangan heranjika harga menginap di sini sangat-sangat menguras kantong. Kalaudipikir-pikir, kenapa ada orang bodoh yang mau membayar mahal hanya untukmenginap di tempat seram dan minta ditakut-takuti? Kelima laki-laki itu, bisajadi masuk dalam daftar orang bodoh itu. Tapi itulah manusia, mereka bersediamembayar mahal hanya untuk sesuatu yang menantang. Kalau hanya menantang,kenapa mereka tidak berkemah di tengah area pemakaman? Ah, entahlah..

Perabotan di penginapan ini memang sungguh-sungguh kuno.Kita bisa melihatnya dari sofa-sofa yang sudah mulai usang dengan modelnya yangkuno, mungkin ini sofa nenek buyut yang empunya penginapan ini.   Bukan hanya sofa, tapi juga lampu, mejaresepsionis, dan masih banyak lagi.

Meraka tiba di Blaby Hill saat sore tiba. Kian bersyukurbukan main karena salah satu dari karyawan di penginapan itu ada yang bersediamembersihkan mobilnya (tentunya ia bersedia karena belum tau apa yang perlu iabersihkan di dalam sana). Walaupun mereka harus membayar biaya tambahan untukitu.

Mereka sempat berbincang-bincang dengan resepsionis yangsekaligus pemilik penginapan ini. Penginapan ini memang sengaja dibuat sehorormungkin untuk menarik perhatian pengunjung. Seperti saat mereka baru saja tiba,pintu masuk bergerak-gerak sendiri, dan itu membuat Shane merinding! Mark tidakterlalu mempedulikannya karena ia masih merasa mual dan harus segera bertemudengan kasur. Brian yakin itu adalah salah satu Trik kuno dari nenek moyangpemilik penginapan ini.

Pekerja di penginapan ini sungguh sangat sedikit. Hanya 5orang yang sudah termasuk dengan tukang kebun. Alasan pekerja di sini sedikit karena Bukit Bloom adalah daerahterpencil yang jauh dari keramaian penduduk. Bayangkan saja, di bukit ini hanyaada sebuah penginapan dan sisanya hutan yang entah isinya apa. Alasan jauh daripemukiman dan yang konon katanya berhantu, jarang sekali ada yang mau bekerjadi sini. Belum lagi dengan gaji yang kecil walaupun biaya penginapannya mahal.Sebut saja pemilik penginapan ini pelit. Mungkin bagi para pekerja , hantu yangsesungguhnya di penginapan ini adalah Jhonatan Groo, pemilik penginapan ini.

Dan Jhonatan sendiri adalah pria yang mungkin sudah berusialima puluhan dengan beberapa uban tumbuh di antara rambut coklatnya yang agakberantakan. Kerut-kerut di wajahnya terlihat jelas bahwa ia telah berumur.Jidatnya yang lebar menunjukkan bahwa ia seorang pemikir keras. Tatapannyatajam walaupun ia sedang tersenyum. Ok, mungkin dia agak mengerikan dan dapatdi pastikan anak kecil yang melihatnya pasti mengira dia hantu dan merengekminta pulang.  Dia sama kunonya denganperabotan di penginapan ini, bisa di lihat dari setelannya yang memudar sehinggaterlihat usang. Dan Kian masih ingat pada kakeknya punya setelan yang miripseperti yang dikenakannya.

“teman-teman, bagaimana jika setelah makan malam kitaberjalan-jalan di sekitar penginapan. Hantu beraksi di malam hari bukan?” Kianmelirik Shane, mencoba menggodanya.

“tidak mau, aku masih lelah. Lagipula aku masih merasa agakmual.” Tolak Shane.  Dua alasan mengapa Shanemenolak dan memberi alasan itu: pertama, dia belum pernah dan tidak akan pernahmau bertemu atau mendengar suara hantu. Kedua, Karena dia memang masih merasamual.

“kudengar hantu tertarik pada orang yang mual akibatperjalanan jauh” Seru Nicky dengan  wajahpolos yang merupakan sebuah kebohongan.

Shane menelan ludah dan wajahnya mulai pucat.

*
Perjalanan yang panjang memang membuat tubuh berkeringat danlengket, karena itulah Brian memutuskan untuk segera mandi. Lampu di kamarmandi itu tidak begitu terang, tapi cukuplah sebagai penerangan di kamar mandi.Brian memejamkan matanya saat rintik-rintik air dari shower itu membasawiwajahnya. Begitu nyaman, rintik-tintik itu seperti memijat kulitnya yanglengket. Sedikit menghilangkan kepenatannya.

Di tengah-tengah suara rintikan air yang  menetes ke lantai kamar mandi, ada suara lainyang bisa Brian dengar dengan telinganya. Bukan suara nafasnya di antararintikan air, bukan suara tangannya yang bergesekan dengan rambutnya. Suaradari langkah kaki yang berjalan di lantai basah, riakan airnya begituterdengar. suara itu seakan berada sangat dekat dengan Brian.

“Trik kuno..”gumam Brian dalam hati.

*

Kian sudah merasa segar sekarang, hatinyapun lega setelah iamelihat sendiri mobilnya yang telah bersih. Dia telah tampil rapi dan masihmematut-matut diri di depan cermin. Bukan Kian namanya kalau tidak sempurnahdulu sebelum tampil. Entah sudah berapa lama ia merapikan poni lucunya. Danentah sudah berapa kali ia cengar-cengir di depan cermin.

Kian tau pewangi ruangan di kamarnya berbau lavender, namunselama beberapa detik ia mencium bau lain selain lavender.  Kian kenal benar bau yang satu ini, parfummawar. Parfum yang pernah di gunakan salah satu mantan pacarnya, karena mantanpacarnya begitu menyukai bunga mawar. Tak heran jika dulu ia punya toko bungalangganan karena ia wajib membawakan mawar jika berkencan dengan gadis itu. Bauitu lumayan kuat selama beberapa detik dan kemudia menghilang digantikan denganwangi laverder.

“hmmm… seleran hantuini, lumayan juga..”

*

Nicky baru saja ingin keluar dari kamarnya. Ia sudah siapmemenuhi ajakan Kian untuk ‘jalan-jalan’ karena hantu keluar di malam hari.Namun ia berbalik ke meja rias karena sadar handphonenya tidak berada dikantong celananya, tapi terletak di atas meja dias, tempat ia meletakkannyasebelum ia masuk ke kamar mandi.

Nicky meraih handphonenya dan memasukkannya ke saku. Tapibenda kecil itu sedikir menarik perhatian Nicky. Semua orang tau bahwa rambutNicky itu pirang, lagi pula ia tidak punya masalah dengan rambut rontok. Namun,sisir yang baru 5 menit tadi ia gunakan terlihat sedikit aneh. Beberapa helairambut berwarna hitam yang lumayan panjang tersangkut di antara jari-jari sisiritu.

Nicky tidak berkomentar apa-apa.

*

 Shane, dengan alasanmalas, capek, mual, dan lain sebagainya, tidak ikut serta dalam ‘jalan-jalan’di malam hari. Kian menertawakan Shane dengan mulut menganga lebar, begitu jugadengan Brian, begitu juga dengan Nicky. Namun tawa selebar apapun sepertinyatidak akan mengubah keputusan Shane. Sedangkan Mark lebih memilih untuk kembalike kamar, bertemu dengan bantal, selimut dan seprai. Untuk apa terlalu takut,toh kalau sudah tidur dia tidak akan tau ada hantu atau tidak.

Kamar di rumahnya dengan kamar di penginapan ini tidakberbeda jauh luasnya. Tapi entah kenapa kamar di penginapan itu terasa sangatluas bagi Shane. setelah berlari cepat ke atas tempat tidur dan membungkusdirinya dengan selimut, niatnya yang ingin langsung tidur agar tidak melihatsetan, tak terlaksana dengan baik. Shane bahkan terlalu takut untuk memejamkanmatanya.

“hantu itu tidak ada. Sekalipun ada, dia tidak akan beranimemakanmu Shane.. kau terlalu berlemak” Shane berbicara pada dirinya sendiri,mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sebenarnya tidak bisa dia tenangkan. Shanetidak habis berlari 10 kilo meter, tapi nafasnya terengah-engah.

Rumah megah yang tinggi ini terdiri dari dua lantai, tidaktermasuk dek yang sepertinya di pakai karena ada tangga menuju ke sana. Dan Shaneberada di lantai atas bersama Mark dan Kian. Dengan kamar yang berbedatentunya. Padahal Shane sudah merengek-rengek di saat berada di mejaresepsionis agar bisa sekamar dengan siapa saja asalkan jangan sendirian. NamunKian hanya menjawab begini
“Kamu tidak akan sendirian, kan ada hantunya! Hahaha Kamipesan 5 kamar” ingin pulang rasanya saat Shane mendengar kalimat itu.

Bayang-bayang hantu yang mengerikan yang pernah dilihatnyadi dilm-film, berputar-putar di kepalanya. Bahkan ia berharap tidak perlu adamalam untuk hari ini, lebih baik siang sepanjang hari. Karena menurut film-filmyang ditontonnya, hantu tidak berkeliaran di siang hari.

Shane dihantui pikirannya sendiri dan sepertinya hantu ituada di otaknya sendiri.  Dia tidak bisamenahan dirinya untuk tetap berada di kamar ini, dia segera berlari menujupintu. Setidaknya jika ia keluar dari kamar, mungkin ia akan menemukan karyawanyang mungkin sedang membersihkan sesuatu, atau melakukan apa saja yang penting Shane bisa menemukannya.

“blam” Shane keluar dari kamar itu dan bersandar di daunpintu  itu. mengambil nafas setelahbeberapa detik menahan nafas. Setelah mendapat cukup oksigen ia pun menoleh kekiri dan ke kanan. Dewi fortuna mungkin sedang pergi ke salon, karenakeberuntungan tidak berada di pihak Shane. ia tidak menemukan seorangpun dikoridor itu.
“tenang Shane… kamar Marktidak jauh jaraknya” gumam Shane dalam hati. Ia berjalan dengan jantungberdebar-debar, seperti pengantin wanita yang berjalan menuju pengantinprianya. Kalau bisa, ia berharap kamar Mark bisa berpindah ke kamarnya detikitu juga. Ia tidak mau meminta sayap agar dapat terbang langsung ke kamar Mark,karena dia juga agak takut dengan ketinggian.

Di tengah-tengah langkah berdebarnya, ia menemukan lorongsempit di sebelah kanannya. Lorong itu hanya sekitar lima meter panjangnya. Dibagian ujung lorong itu terdapat tangga kayu yang kecil dan tua (pastinya).Mungkin tangga itulah yang digunakan untuk masuk ke dek. Shane berhenti saatmelihat lorong sempit itu. Shane memang tengah dilanda ketakutan, amun itu samasekali tidak menggangu penciumannya.

Shane bisa dengan jelas mencium bau amis di sekitar sana. Shanemerinding mencium bau itu, ditambah lagi dengan lorong itu cukup gelap karenahanya diterangi lampu yang berada di koridor. Terdengar suara langkah kaki yangtidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Makin lama suara itu makinterdengar jelas. Ia ingin segera berlari dari tempat itu sekarang juga! Namunsebuah suara mengagetkan sekaligus membuatnya berhenti melangkah.

“Tuan Filan” Shane melompat kaget namun menoleh ke belakang.di belakangnya berdiri seorang pria yang wajahnya berkeriput dan rambutcoklatnya yang kusut, Jhonatan Groo. Bukan bermaksud menghina, namun Jhonatanterlihat seperti setan di malam hari begini, ia makin menyeramkan di malamhari. “ada sesuatu yang salah?” tambahnya.

“oh, tidak” Jawab Shane tergagap. “hanya saja ada bau amisdi sekitar sini”

“owh” Groo tersenyum. Sungguh senyum yang mengerikan.“mungkin ada tikus yang mati di dek, kami akan segera mengeceknya.. ataumungkin…” Groo hanya tersenyum tanpa melanjutkan ucapannya.
“mungkin apa?” Tanya Shane penasaran.
“mungkin, ada yang lain seperti hantu di sana” Grootersenyum licik, dan Shane hanya menelan ludah. “jangan khwatir tuan, kami akansegera mengeceknya.” Shane berharap di dalam sana memang ada tikus mati,ratusanpun jumlahnya tak masalah, asal bukan hantu.

*

“lihat! Lihat! Ranting itu bergerak senriri!” Kian menunjukpada pohon yang kira-kira berada sepuluh meter di depan mereka. Kian begitubersemangat dengan hantu-hantu di sini.

“ah, itu tipuan kunoo, Ki” gumam Kian dengan nada malas.“jadi, hantu di sini hanya bisa begitu saja?”

“lihat! Air di danau buatan itu beriak!” Nicky menunjukdengan cahaya lampu senternya yang di arahkan ke sana. Mereka semuamemperhatikan dengan seksama. Bagaimana air itu beriak, kemudiagelembung-gelembung air keluar dari dalamnya, lalu riakan itu semakin keras.

Blaby Hill memang memuliki danau buatan. Di sebut danaukarena memang terlalu besar untuk di sebut kolam. Danau itu juga memilikikedalaman yang lumayan dalam.

“ mungkinkah ikan?” Tanya Nicky dengan antusias.

“ikan apa yang bisa membuat riak sebesar itu?!” Kian masihkagum dengan apa yang dilihatnya. Hantu-hantu di sini memang sungguh menarikmenurutnya. Tidak menyesal dia ke sini.

“ah, itu pasti salah satu tipuan…” desah Brian. “bisa sajamereka meletakkan sesuatu di bawah sana”

“Nicky, pegang sentermu dengan benar!” perintak Kian.“perasaanku saja, atau dari riakan itu memang ada darah?”

“itu kan mudah, kau hanya perlu menambahkan pemarna yangbisa kau dapat di toko-toko terdekat” Brian masih pada pendapatnya. entah diaberfikir logis, atau memang tidak pernah mau percaya akan adanya hantu. Mungkinkeduanya.

“tidakkah kalian mencium sesuatu?” Tanya Nicky.

“bau busuk. Seperti bau bangkai” Kian mengernyitkanhidungnya. “baunya bertambah kuat”

“ah.. pasti hanya bangkai binatang kecil yang ada di sini”

*

Shane mengetuk-ngetuk pintu kamar yang ditempati Mark, tapitidak ada jawaban atau sahutan dari dalam sana. Shane mencoba memutar gagangpintu itu dan ternyata tidak terkunci. Ah, betapa berbunga-bunga hati Shane.dia segera masuk dan melompat ke atas tempat tidur yang sedang di tisuri Mark.Padahal Shane mendarat dengan keras di atas kasur itu, namun pendaratan itutidak sedikitpun mengganggu tidur Mark. Orang aneh.

Shane segera masuk ke dalam selimut dan meringkuk di sana. Markberada di sampingnya sudah cukup membuat hatinya tenang. Setidaknya jika adahantu yang datang, dia tidak sendirian, ada Mark di sini. Meskipun diragukanapakah Mark akan bangun atau tidak. Ah terserah, yang penting tidak sendirian.

Shane menikmati bantal dan kasur empuk yang dimilikipenginapan ini, belum lagi selimutnya yang hangat dan lembut. Matanya punperlahan-lahan bertambah berat, ia mulai mengantuk.

‘tok.. tok.. tok..’

Shane terbelalak, matanya terbuka lebar-lebar. Suara itu berasaldari bawah kasur yang sedang ditidurinya. Rasa kantuknya entah hilang ke mana.Ia ketakutan. Suara itu masih terdengar. Dia tidak bisa berlari ke luar. Karenabergerak dari atas kasur itupun dia tidak berani.

*

Pagi-pagi benar, Shane membangunkan Mark (dengan cara kasarpastinya) dan menceritakan tentang kejadian tadi malam. Anehnya, Mark tidakmendengar apapun. Jelas saja, dia tidur seperti mayat! Saat sarapan Shanemenceritakan kisahnya semalam dengan penuh semangat. Bahkan serpih-serpih rotibakar yang ada di mulutnya mencrat-mencrat keluar.

“Serius! Aku dengar suara ketukan di bawah kasur! Sangkintakutnya aku tidak berani bergerak dan aku keringatan hingga bajuku basahkuyup!”

“telan dulu sarapanmu Shane!” Brian terkikik melihatbagaimana teman penakutnya ini bercerita. “apa celanamu basah kuyup? Akukhawatir kamu ngompol, hahahaha” ingin rasanya Shane melempar Brian dengan rotiyang ada di dalam mulutnya. Meskipun yang diucapkan Brian nyaris benar.

“kami juga mengalami hal-hal aneh” Kian menelan sarapannya“seperti yang kita lihat tadi malam”

“aku heran, aku tidak mengalami apapun” jawab Mark santaiseraya menyuap sarapannya, itu roti ketiganya pagi ini.

“Kau tidur seperti mayat, digigit Dracula pun mungkin kautidak akan bangun”

*

“Mungkin kita perlu korban baru”

“yeah memang, tempat ini masih terlalu sepi” orang itu mengusap-ngusap dagunya, ia sedang berfikir.
“si tukang tidur itu, dia selanjutnya. Dia tidak terlalusulit untuk dilumpuhkan” orang itu tersenyum licik kemudian ia beralih pada anakbuahnya “kalian awasi agar mereka tidak macam-macam. Si gendut itu biar akuyang urus, dia bukan masalah besar.” Anak buahnya hanya mengangguk.

*

Hari ini cuaca begitu cerah, sehingga kelima bocah raksasaitu menghabiskan waktu di luar. Entah apa yang mereka lakukan di luar sanasehingga lupa pada kejadian-kejadian aneh di penginapan ini. Mulai dari kejartangkap yang tidak jelas bagaimana peraturan dalam bermainnya, menggelitikiNicky hingga ia hampir mati kejang, menarik-narik celana Brian dan untungnyatidak ada perempuan di sana, mengacak-ngacak poni Kian yang sudah ditatanyadengan minyak rambut selengket lem selama setengah jam tadi pagi, bergendangdengan perut Mark yang buncit karena dia tidur terkapar di tengah halaman, menangkapShane kemudian mengengkatnya tinggi-tinggi lalu melemparnya ke rumput hingga Shaneberteriak “ah! Pinggangku patah!” padahal tidak, dan entah permainan bodoh apalagi yang mereka lakukan.

Brian mengendus-ngendus di ketiaknya kemudian bergumam“ketiakku baunya aneh” teman-temannya hanya tertawa kecil. “tapi aku masihbelum mau masuk ke kamar mandi”

“ah, dasar jorok!” ejek Shane “sebaiknya aku mandi sekarang,badanku sudah lengket”

Sore itu masih terang, matahari masih menampakkan diri. Tapisudah saatnya mereka mandi.

“kau berani mandi sendirian Shane? atau perlu kutemani?”goda Nicky, dan Shane hanya tersenyum kecut padanya kemudian pergi sambilbergumam “aku berani sendirian, lagipula sekarang belum gelap”

“Shane, aku ikut denganmu!” Mark berlari kecil mengejarnya.

“jadi bagaimana? Kita main lagi?” Tanya Brian.

“aku lumayan gerah, Bri” jawab Kian seraya berkipas dengantangannya “mungkin kita bisa bermain di danau itu, pasti segar”

“baiklah”.

*

Shane mandi terburu-buru karena ketakutan, meskipun tadi diaberlagak sok berani di depan teman-temannya dengan mengatakan bahwa sekarangmasih belum gelap. Tapi tetap saja ia ketakutan. Setelah ia keluar dari kamarmandi dan merasa segar, ia rindu rumah dan ia ingin segera menelpon ibunya.

Maka selama beberapa lama terjadilah percakapan ibu dan anakyang begitu manis. Bagaimana Shane mengatakan bahwa ia rindu dengan rumah,masakan ibu, susu segar dari peternakan, bahkan ia rindu dengan cucuan piringyang biasa dikerjalannya, padahal dia baru sehari di penginapan aneh ini. Danpada akhir percakapan dia akan menyatakan bagaimana dia mencintai ibunya,ayahnya, kakak dan abangnya, dan yang terakhir kuda-kudanya yang berada dikandang.Bahkan ia menyebutkan nama kudanya satu per satu dan mewanti-wanti agarmereka merawat kudanya dengan baik.

Akhirnya Shane mengakhiri percakapan itu. telinganya sudahcukup panas karena terlalu lama menempel pada ponselnya. Tidak ada kegiatanyang bisa dilakukan di kamar ini karena dia sendirian, lalu ia memutuskan untukberkumpul dengan teman-temannya. Walaupun kadang mereka menyebalkan, tapi Shanetidak pernah dan tidak akan pernah bisa merasa bosan bersama mereka. Iamelangkah ke pintu dan keluar dari kamar.

Ia menuju kamar Mark pertama-tama, karena kamar si tukangtidur itulah yang paling dekat dengan dengan kamarnya. Ia berjalan di koridor,sama seperti yang dilakukannya kemarin malam. Sepertinya tidak banyak yangberubah antara kemarin dan hari ini. Shane berhenti kembali di depan lorongsempit itu, bau amis kembali tercium. Shane kembali merinding. Hanya iniperbedaanya dengan malam sebelumnya, ada suara ketukan pintu dari atas tanggaitu. Shane bisa melihat jelas bahwa memang ada pintu di atas tangga kecil tuadan dekil itu. untuk sesaat Shane ingin lari dari sana, ini penginapanberhantu! Pasti itu adalah hantu yang berusaha menakut-nakutinya lagi! Namunsetelah dia bisa sedikit berfikir, mungkin saja yang di dalam sana itu adalahkaryawa yang sedang memeriksa ke dalam. Seperti yang dikatakan Jhonatan Grootadi malam, mereka akan segera memeriksanya.

“Halo, siapa di sana?” Shane mesatikan, namun tidak adajawaban. Shane berjalan sedikit mendekat kemudia memanggil lagi, namun tidakada jawaban. Ketukan pintu itu semakin cepat dan keras. Mungkinkah orang diruangan itu tidak bisa mendengarnya karena celah-celah di pintu itu sempitsekali? Mungkin saja, karena celah di bawah pintu bahkan tidak terlihat.Mendengar ketukan yang kencang dan keras, seperti manusia yang sedang panicjuga samar-samar Shane mendengar sesuatu yang mirip dengan suara gumaman, Shanepun yakin bahwa yang ada di dalam adalah manusia.

“Jangan khawatir, aku di sini!” Shane menaiki tangga kecilitu kemudia memutar-mutar gagang pintunya, namun terkunci. “sebentar, aku caribantuan!” Shane berbalik, dank arena pencahayaan di sana kurang, Shaneterpeleset dengan punggung dan kepalanya membentur pintu itu. Shane terduduk dianak tangga dengan seluruh bagian tubuh keskitan.

“kreek” pintu ituterbuka. Shane menoleh Ke pintu itu seraya mengusap-ngusap kepalanya. Iaberusaha bangkit dan syukurlah ia masih bisa berdiri. Ternyata pintu itubenar-benar tua, karena kepala Shane yang lunak itu saja sudah bisa membukanya.Aneh, tidak ada seorangpun yang keluar dari balik pintu itu. suara ketukanpunhilang. Shane kembali merinding, sepertinya memang bukan manusia yang tadimengetuk-ngetuk pintu itu. namun entah bagaimana, atau entah dia mendapatkeberanian dari mana sehingga ia nekat memasuki pintu itu. di dalam hatikecilnya, ada sesuatu yang meminta pertolongan dari dalam sana.

Begitu memasuki pintu itu, bau bangkai yang aromanya begitumenyengat memenuhi saluran pernafasan Shane.  ingin muntah rasanya saat Shane menghirupoksigen di sana. Shane milirik ke sebelah kanan kusen pintu dan menemukansakelar. Shane harap sakelar itu akan menghidupkan lampu di ruangan bau ini.

Benar, lampu di ruangan itu hidup. Dan Shane dapat melihatdengan jelas apa benda yang ada di depannya. Shane ternganga dan hanya dapatberucap dalam hati ‘Tuhan! Apa-apaanini?!’. Seonggok jasad manusia yang sudah membusuk. Dagingnya yang penuhdengan bekas luka sudah mulai menghitam. Darah kering menghiasi tubuhnya yangsudah tak berdaya. Shane berbalik, ia harus pergi mencari bantuan atausetidaknya memberitahukan tentang mayat ini kepada teman-temannya.

Shane terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di bawahtangga.

Orang itu memakai kemeja dan rok pendek dan semuanya serbahitam , itu adalah seragam khusus para pegawai di sini. Rambut hitamnya yangmengkilat di diikat ke belakang, wajahnya putih bersih, dan mata biru gelapnya,dia orang yang cantik. Perempuan itu menatap tajam pada Shane, di mata Shaneorang ini terlihat menyeramkan.

“apa yang sedang anda lakukan di sini, Tuan Filan?” tanyanyadengan nada dan senyuman yang dingin.

“bagaimana mungkin kalian tidak mengetahui apa yang ada diabalik pintu ini?! Hanya kalian yang bisa keluar masuk ke sini!” Jawab Shanepenuh emosi dan ketakutan. Orang di depannya masih tetap tersenyum sinis.

“yeah, dan mungkin selanjutnya kau yang akan ada di balikpintu itu” perempuan itu mengeluarkan pisau dari belakang punggungnya. Iamemasang ancang-ancang untuk menerkam Shane. namun Shane tidak terlalu bodoh,sebelum ia menerkam Shane, Shane yang menerkamnya terlebih dahulu. Shane segeralompat dan menimpa perempuan itu. pisau yang ada di tangannya terlempar tidakjauh darinya dan perempuan itu berhasil di jatuhkannya. Shane segera berlaridari tempat itu, sebelum perempuan gila itu bangkit dan menikamnya

*

“Ki, aku tidak yakin pemilik penginapan ini memperbolehkankita untuk berenang di di sini” Seru Brian.

“Kenapa?” Tanya Kian seraya melepas Jeans dan kaosnya, iahanya menyisakan boxernya.

“karena mereka tidak menyediakan tempat untuk ganti pakaiandi sini”

“santai saja, sedikit jahil di penginapan ini tidak akanmembuatnya mengusir kita. Hey Nix, Mau ikut berenang? Air danau ini pastisegar, dan mungkin aku bisa berenang bersama hantu penunggunya”

“tidak  ah, aku disini saja. Gina pasti malu punya pacar yang mandi sembarangan”  Kian menatap Nicky tajam namun ia tetap masukke dalam danau itu. berenang dengan lincah ke sana kemari seperi ikan mas kokikemudian ia mengambil nafas panjang dan menyelam. 

“hey! Apa yang kalian lakukan?” Tanya orang yang berpakaianserba hitam, dan bisa dipastikan itu adalah salah satu pegawai di penginapanini. “bilang pada temanmu cepat naik, karena tidak ada yang boleh berenang didanau”  meskipun wajahnya tampak cuek,namun Brian dan Nicky tahu bahwa sebenarnya pegawai itu kesal pada mereka.Setelah berkata begitu ia beranjak dan pergi menjauh dari mereka.

“hey Nix, suruh Kian cepat-cepat naik ya. Aku mandi duluan!”Nicky mengangguk mengiyakannya.

Brian berjalan menuju penginapan, namun langkahnya terhentimelihat sesuatu yang agak mencolok di tengah-tengah rumput hijau yang pendek. Besikecil, dan Brian melihatnya lebih dekat lagi. Anak kunci rupanya. Mungkin kuncimilik pegawai sangar tadi, karena tadi dia berdiri di sini.  Brian lanjut berjalan menuju penginapan.

*

Sepeti yang mereka duga, danau itu lumayan dalam dan Kiansuka itu. itu seperti tantangan untuknya untuk menyelam hingga ke bagian dasar.Sebagai peselancar yang biasa berenang di air laut yang berombak, menyelam didanau jauh lebih mudah karena tidak ada gelombang yang mengayun-ayun tubuhnya.

Ia menyelam semakin dalam memang agak sulit. Tantanganmenyelam adalah, semakin dalam kamu menyelam maka akan semakin sulit. Tentubukan Kian namanya jika tidak bisa menyelam hingga ke dasar danau itu. Iapenyelam yang hebat!

Dan sekarang ia sudah bisa melihat dasar dari danau itu.Dasar dari danau itu hanya tanah bekas kerukan alat-alat berat. Sejauh matamemandang hanya tanah dan lumut. Sepertinya ada satu lagi, tapi Kian tidakbegitu jelas melihat yang satu ini hingga ia mendekat pada objek tersebut.

Betapa jantungannya Kian menyadari apa objek tersebut. Jasadmanusia yang telah membusuk diikat dengan rantai pada dasar danau! Kian tidaktau pasti sudah berapa lama ia meninggal, tapi Kian yakin pasti sudah lamasekali. Karena konsisinya sudah seperti ini. Kian cepet-cepat naik ke atas. Iaharus memberitahukan teman-temannya!

“BUUAHH!!” Kepala Kian muncul ke atas permukaan air.

“WOW! Betapa lama kau menyelam Ki. Ku kira kau sudah matikehabisan nafas di dalam sana!” Kian tidak terlalu mendengarkannya, ia segeraberenang ke tepi.

Nafas Kian tersengal-sengal ketika dia sampai di pinggirdanau, kemudian dia berusaha naik.

“Nick..” Kian masih terengah “ada mayat di dasar danau itu”Kian berusaha untuk menormalkan nafasnya.

“bagaimana mungkin?! Jika dia benar-benar mayat, harusnyadia mengapung di permukaan”

“dia di rantai di permukaan danau. Kita harus memberitahukanMr.Groo dan menelpon polisi”

Nicky merogoh sakunya, ia harus segera menemukan ponselnyadan menelpon polisi. Sudah pasti mayat itu adalah korban pembunuhan. Danpembunuhan adalah tindak criminal, jadi polisi harus mengetahuinya. Nickymendapatkan ponselnya.

“Maaf tuan-tuan, ada apa di sini?” salah seorang dari 2orang berseragam serba hitam bertanya pada mereka. Ini pelayan yang berbedadari yang menegur mereka tadi.

“ada mayat di dasar danau! Kita harus melapor pada polisi!”jawab Nicky terburu-buru sambil memencet-mencet tombol ponselnya, mencari nomorpolisi terdekat yang sempat dicatatnya saat dalam perjalanan ke sini.

“oh tunggu dulu tuan-tuan” pegawai itu menurunkan tanganNicky agar berhenti memenceti ponselnya. “ada yang ingin aku tunjukkan padakalian, ini hal penting sebelum kalian menelpon polisi. Ayo ikut kami”

“tapi..” Nicky ingin segera menelpon polisi.

“tolong, ikut kami dulu tuan” melihat wajah serius danmemohon dua pegawai ini Kian dan Nicky mengikutinya.

*

 Tentu mereka tidakakan membiarkan polisi datang dan mengadakan penyelidikan lagi di penginapanini. Penyelidikan mereka yang sebelumnya saja sudah cukup membuat merekakewalahan. Bahkan kedok mereka nyaris terbuka karena polisi hampir menemukanmayat di salah satu area pengnapan. Kali ini mereka akan membuatnya bersih dantanpa polisi pastinya. Mereka tidak akan membiarkan tamu-tamu merepotkan inimemanggi polisi dan membuat semuanya menjadi kacau!

*

Brian tiba di meja resepsionis dan meja itu kodong tanpa adaseseorang di belakangnya. Brian yang terkadang melakukan hal aneh, memang akanmelakukan hal aneh kali ini. Ia masuk ke belakang meja resepsionis dan duduk dikursi yang biasa tuan Groo duduki. Seperti yang dikatakan Kian tadi, sedikitkejahilan tidak akan membuat mereka di usir. Dan kalimat itulah yang dipegangteguh oleh Brian. Ia bertingkah seolah-olah resepsionis di hotel-hotelberbintang lalu tertawa sendiri, tepat seprti orang tolol.

Kemudian Brian melirik sedikit ke bawah dan melihat sebuahlemari besi yang pastinya tua. Kemudia ia melihat ke lubang kuncinya, di ataslubang kunci itu terdapat merek yang sama dengan kunci yang tadi di dapatnya. Itupunkalau dia tidak salah lihat. Brian mengeluarkan kunci itu dari sakunya, danternyata lubang kunci dan anak kunci itu semerek. Karena prinsip sedikitkejahilan itulah, Brian mencoba memasukkan anak kunci itu kelubangnya. Danlemari besi itu bisa dibuka. Penasaran dengan apa yang ada di dalam lemari itu,karena sepertinya special sekali berada di lemari besi, Brian membukanyalebar-lebar.

Bau bangkai yang menyengat langsung membuat Brian menutuphidung. Matanya terbelalak melihat isi dari lemari besi tersebut. Potongantubuh manusia yang berlumuran darah kering. Mau muntah Brian melihatnya, inisungguh mengerikan! Potongan-potongan itu begitu kecil, tapi Brian bisa yakinbahwa itu adalah potongan tubuh manusia karena ia melihat potongan kepala dan jarikakinya.

“Kau sudah melihatnya ya?” suara itu mengagetkan Brian. Ituadalah suara pegawai yang tadi menegur mereka di danau.

“kenapa kau bisa mempunyai kunci ini?! Kau taukan isi darilemari besi ini?!” Brian sungguh kaget dengan apa yang baru saja dilihatnya,dan dia juga sangat marah! Bagaimana bisa ada manusia sekejam ini.

“kau sudah melihatnya, tidak ada cara lain agar kau menutupmulutmu” orang itu mengeluarkan pisaunya, siap menerkam Brian.

*

Nicky dan Kian yang masih basah kuyup mengikuti dua orangitu pergi ke belakang penginapan, membawa mereka ke sebuah lorong yang belumpernah mereka injak sekalipun.

“memang apa yang ingin kalian tunjukkan?” Tanya Kian tidaksabaran, karena dari tadi dua karyawan berpakaian hitam itu hanya. Dua orang didepan mereka hanya diam namun gerakan mereka sedikit mencurigan karena tanganmereka bergerak-gerak di depan perut mereka.

“ini yang ingin kami tunjukkan” kedua orang itu mengeluarkanpisau dan siap untuk menikam mereka. Serangan pertama mampu mereka hindari dan merekaharus segera pergi dari sana. Mereka berlari sekencang mungkin untukmenghindari dua orang gila berpisau itu. namun mereka dikejutkan dengan orangyang berbaju serba hitam juga berada di depan mereka, lengkap dengan pisautajamnya. Dibelakang mereka ada dua orang, dan satu orang di depan mereka. Dualawan tiga, mereka dikepung, dan tidak ada pilihan lain selain melawan.

*

Apa yang Mark lakukan setelah mandi dapat ditebak, bertemudengan kasur, sepray, dan bantal. Bermain seharian bersama teman-temannyamembuatnya ingin segera berada di atas kasur. Kasurnya empuk, sama sepertiterakhir kali saat ia tiduri, selimutnya juga hangat sama seperti semalam,tapi..

‘tok..tok..tok..’ 

Apakah suara itu juga sama seperti semalam? Itukah suarayang diceitakan Shane? sekarang Mark bisa mendengarkannya sendiri. Suara itumemang benar-benar berasal dari bawah kasur. Sekarang dia berada pada posisiyang sama dengan Shane. dia begitu ketakutan, bahkan ia terlalu takut untukbergerak dari tempat tidur. Yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah menutupidiri dengan selimut, berharap selimut lembut itu dapat melindunginya.

Sepertinya suara ketukan di bawah tempat tidur itu tidakpuas melihat Mark ketakutan, sekarang Mark bisa mendengarkan suara langkahkaki. Mark berdoa dalam hati dan memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya sudahbergetar, dia baru saja mandi dan sekarang ia berkeringat lagi.

Orang itu di sana, bersiap dengan pisaunya dan sudah siapuntuk menikam orang yang ada di atas kasur itu. orang yang sungguh penakut!Karena takut hanya dengan mendengar suara ketukan yang tak jelas itu.  ia semakin mendekat. Kemudian ia menusukkanpisau itu pada targetnya. Setelah dia mendengar suara erangan ia menarik pisauitu. ia bisa melihat darah yang melekat pada pisau itu.

Mark mengerang kesakitan, ia segera membuka selimutnya danmelihat siapa orang yang baru saja menusuknya. Jhonathan Groo! Dia tersenyumpenuh kemenangan di sana. Mark memegangi lengan atasnya yang tertusuk pisautajam Groo. Groo bersiap-siap untuk menikamnya sekali lagi. Mark harus bergerakcepat untuk menghindarinya.

Tapi siapa sangaka Groo dapat bergerak slincah dirinya,bahkan Mark sendiri kewalahan untuk menghindarinya. Groo menendang kaki kanan Marksaat ia mencoba melewati Groo. Mark tersungkur dan nyaris saja kepalanyamembentur tembok. Groo berdiri di depannya, dia sudah siap untuk mengayunkanpisaunya. Mark mengeluarkan tinjunya ke perut Groo, namun itu tidak membuatGroo terjatuh karena Mark menggunakan tangan kirinya. Mark mendorongnya dengansekuat tenaga dan harus rela dengan sebuah sayatan lagi di tangan kirinya.

Mark segera berlari menuju pintu, dan ternyata pintu ituterkunci! Siapa lagi yang menguncinya jika bukan Groo. Groo berlari ke arah Markdengan pisaunya yang siap menerjang. Mark segera mengelak sehingga pisau Grootertancam di pintu kayu tua itu.

Groo segera menarik pisaunya dan kembali mengarahkannya ke arahMark. Untuk pertama kalinya Mark berhasil menendangnya hingga ia miringiskesakitan. Mark tidak pernah berniat melukai Groo, namun di dalam kondisibegini, dia terpaksa melakukannya. Groo mencoba bangkit dan berusaha menikam Marklagi, lagi, dan lagi. Seberapa banyak Mark melawan Groo, maka semakin banyakpula sayatan di tubuhnya.

Serangan terakhir Groo sebelum Mark terduduk lemas adalah, sebuah lemparan Vas bunga daritanah liat yang tepat mengenai kepala Mark. Mark tau mungkin ini adalahsaat-saat terakhirnya menghirup udara di bumi, dan yang paling ia lakukan saat iniadalah mengatakan kepada semua orang yang dicintainya bahwa ia sangat mencintaimereka. Mark pasrah jika ia harus mati saat ini, mungkin itulah jalannya.

“Aku Cinta kaliansemua!” gumamnya dalam hati dengan air mata mengalir di pipi. Dia tidakbisa melihat Groo dengan jelas, tapi dia tau Groo akan segera mengayunkanpisaunya dan tamatlah riwayatnya.
“Brak!”
“Polisi! Angkat tangan dan buang senjatamu!”

Apa tadi Gro menusuk telinganya? Apa dia salah dengar?Terimakasih Tuhan, kau batalkan jadwal kematiannya.

*
 Shane berhasil kaburdari wanita berambut hitam itu dan secepat mungkin menelpon polisi. Walaupunpada akhirnya ia harus melawan wanita itu. Brian dengan susah payah melumpuhkanlawannya hingga pada akhirnya ia mengangkat kursi di belakang meja resepsionisyang berat itu dan mengayunkannya ke kepala lawannya. Kian dan Nicky berhasilmengalahkan tiga orang itu, walaupun mereka mengalami luka yang cukup parah.Bahkan Kian masih hanya mengenakan boxer hingga polisi datang.

Kasus 13 wisatawan domestik yang hilang itu terungkap.Pembunuhnya adalah Jhonatan Groo dan karyawannya. Mereka sengaja membunuhwisatan itu dan memperlakukan mayatnya secara tidak layak agar rohnya tidaktenang dan tetap di bumi, menggentayangi orang-orang di Blaby Hill. Itu suatukepercayaan kuno yang dianut oleh Groo. Dan hal gila itu hanya bertujuan untukmenarik pengunjung agar blaby hill tidak pernah kosong pengunjung dan merekabisa memasang harga yang tinggi!

Dan mereka dapat menyimpulkan sesuatu dar liburan musimpanas mereka yang kacau ini. Tidak ada penginapan berhantu lagi!

mohon maaf atas:
-typo
-kegajeannya bahkan mungkin ada yang nggak ngerti jalan ceritanya
-yang kepanjangan melebihi batas maksimal. seharusnya hanya 5000 kata, namun ini ada 5905 kata. aku nggak tau lagi apa yang harus dimutilasi dari cerita ini.. astaga, sayang mau mutilasinya.. -_-

dan terimakasih atas waktunya yang telah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini

ada komentar? :D
ditunggu lhoooooo

Rabu, 01 Mei 2013

Last Thing On The Last Day


Kupeluk ia seerat-eratnya, tak akan kulepas! Seperti halnya dia yang memelukku saat ini. Hangat tubuhnya memekarkan senyumku, sekaligus menumpahkan air mataku. Air mata kebahagiaan. Kebahagiaan bahwa ia di siani,bersamaku. Mimpikah aku? Ataukah mungkin ini nyata?

Kueratkan pelukanku hingga akhirnya seberkas cahayamengetuk-ngetuk kelopak mataku. Kukerjap-kerjabkan mereka. Kemudian bayang-bayangdia yang memelukku menghilang. Digantikan dengan bantal guling yang kupelukerat, serta sudah basah kuyup akibat air mataku.

Semua hanya mimpi. Mimpi yang indah walaupun aku akan kecewan saat terbangun. Ingin rasanya aku terus berada di negeri mimpi itu. tapi dunianyata yang kejam selalu menungguku untuk bangun.

Setetes dua tetes air mata masih jatuh dari kelopak mataku. Lemahsekali rasanya badan ini, untuk mengusap air matapun rasanya tak mampu. Bangunlah.Aku tidak boleh terlambat hari ini. Kau tidak boleh terlambat di hari terbaiknya.Atau sebenarnya, kau tidak punya alasan terlambat untuk itu.

*

Di atas meja tamu yang bertaplakkan kain putih, tergeletak sepucuk surat yang warna amplopnya sama putih dengan warna taplak meja itu.surat itu sudah dibuka dan dibiarkan tidak ditutup kembali.

Pedih hati ini melihatnya. Air mata ini turun kembali, akutidak bisa menahannya. Tiga hari yang lalu surat putih itu tiba. Setelah membukasurat itu, semalaman aku tak bisa menghentikan tangisku.

Surat itu berisi undangan. Undangan pernikahan yang cantik dengan motif bunga-bunganya. Bukan pernikahan diriku dan dirinya. Tapi dia dan orang lain. Kertas cantik itu menusuk hatiku habis-habisan.

*

Dua belas tahun yang lalu, saat itu kita masih bersekolah. Dan aku sungguh bersukur karena kita berada di sekolah yang sama. Aku bersyukur karena aku bisa menemukanmu di sana.

Murid lugu ini kebingungan mencari kelas barunya. Dia baru lulus dari sekolah lamanya.

Di sana aku melihatmu. Berjalan lantang dengan teman-temansatu tim-mu. Jaket baseball putih dengan garis-garis merah yang senada dengan treningmu.Rambut pirangmu agak basah dengan keringat. Kau asik berbincang-bincang dengandengan teman-temanmu itu. bisa kutebak apa yang sedang kalian bincangkan,pertandingan baseball semalam.

Rambut pirangmu yang basah, mata biru lautmu yang cerah,bahkan noda tanah yang melekat di pipimu, semuanya begitu indah. Kaulah lukisanTuhan terindah yang pernah kulihat.

Kau sadar bahwa aku terus melihat ke arahmu. Kukira kau akan merasa risih dengan tingkah konyolku itu, tapi kau malah melontarkan senyumkepadaku. Senyum terindah yang pernah kulihat. Sejak itu aku sadar. Aku jatuh cinta padamu.

*

Kau berdiri di sana, di atas altar ditemani bunga-bunga yang telah di tata seapik mungkin. Kau gugup menunggu pengantinmu. Sedangkan aku disini gugup karena ini terasa seperti hari terakhirku. Kau akan memulai awasyang baru (dengannya), sedangkan aku harus mengakhiri keinginanku untukbersamamu.

Kutelan air ludahku, entah sudah berapa kali aku menelannya.Sekuat tenaga kutahan air mataku. Aku tidak mau menangis di depanmu. Tidak dihari pernikahanmu, tidak sebelum ibumu menangis terlebih dahulu. Ibumu bahkanbelum menitikkan air matanya.

Semua tamu menoleh ke belakang. pengantinmu datang. Dia berjalandi tengah karpet merah menuju kearah altar tempatmu berdiri. Gaun putihnyaterlihat kontras dengan karpet itu. dia sangat cantik, seperti tuan putrid didalam dongeng. Sungguh tak salah kau memilih dia.

Kulirik wajahmu yang yang diam mematung di sana. Tersungging senyum sumringan di wajahmu. Aku tau betapa bahagianya dirimu. Pasti samasenangnya saat aku memimpikanmu tadi. Memimpikanmu saja bisa membuatku sangatbahagia.

Dia tiba di sana. Dia tiba di tempatmu. Acara sakral yang kau nanti-nantikan seumur hidup segera dimulai. Kau ucapkan janji setiamu di depansemua orang dengan lantang. Kemudian kudengar lagi janji setia itu dari suaralembut wanita di depanmu. Calon istrimu. Beberapa detik lagi dia akan benar-benar menjadi istrimu.

Dadaku sesak, jantungku seakan berhenti berdetak, nafasku tertahan. Namun tidak dengan air mataku. Sanggupkah aku melihatmu memasangkan cincin itu di jari manisnya? Kucoba untuk bertahan walau setetes air mata telah menetes di pipiku.

Tetes demi tetes hingga akhirnya aku tak sanggup lagi. Air mataitu mengalir sederas-derasnya. Aku segera keluar dari tempat itu dengan kepalatertunduk. Entah berapa orang yang kusenggol dan aku tidak bisa mengucapkan maaf. Hanya menangis yang aku tahu saat ini.

*

Terlepas dari keramaian itu, aku bisa mendengar tepuk tanganyang meriah. Pastilah acara sacral itu telah usai. Kalian telah bersatu. Cintaku ini memang hanya untuk di pendam, bukan untuk memilikimu.

Aku terus berlari tak tentu arah. Mungkin tak pantas jika disebut berlari, karena tenagaku seakan hilang melayang da hanya menyisakan langkah gontai tak tentu arah. Tangisku semakin menjadi, aku tidak peduli jika orang-orang menganggapku sinting.  Aku hanyaingin menangis. Sekuat apapun aku, seikhlas apapun aku merelakannya, aku tetapterluka! Aku tetap sakit!

“TIIIIINNNNN!!!”
Belum sempat aku menoleh, tubuhku sekan terlempar dan mendarat pada suatu permukaan keras dan kasar. Sakit sekali, aku tak kuatmenahannya. Kucoba untuk membuka mataku, aku bisa melihat sedikit cahaya. Dan kemudiasemuanya gelap seiring dengan menghilangnya rasa sakitku.


*

Aku tau apa yang terjadi padaku. Ini memang benar-benar hari terakhirku. Aku tidak menginjak tanah lagi, aku sudah tidak menghirup udara lagi, dan aku tidak akan pernah bisa bersamamu. Sebesar apapun keinginanku untuk bersamamu, tetap tidak akan bisa. Aku sudah tiada.

Kuharap kecelakaan tadi tidak mengganggu pesta pernikahanmu.Jangan khawatirkan aku karena aku baik-baik saja di sini. Itupun kalau kaumengkhawatirkanku. Aku tau, aku bukan siapa-siapa.

Maafkan aku karena tidak sempat mengucapkan selamat atas pernikahanmu, dan aku berharap kau bisa mendengarnya sekarang.Mungkin inilahjalan terbaik. Kau lalui jalanmu dan aku dengan jalanku. Kita tempuh jalan kitamasing-masing.

Selamat tinggal, untukmu yang berbahagia di sana…





terimakasih sudah mau membaca cerita ini, dan sangat diharapkan komen"nya untuk cerita super pendek ini :D