hahaha ini dia naskah buat ikut dare-nya Chintya Tjoa..
enjoyyy!!
“hmm, mungkin ini bisa jadi tempat wisatan yang bagus
untukmusim panas” seru Nicky seraya menunjukkan majalah edisi bulan lalu
(yang entahdidapatnya dari mana) pada keempat temannya.
“Penginapan Berhantu Blaby Hill?” Baca Kian dengan nadamenggantung. “nama yang aneh”
“mungkin karena penginapan ini terdapat di bukit Bloom,makanya dinamai Blabyhill” Jawab Nicky asal.
“bukan,
coba baca paragraph ketiga, disebut Blaby karenamemang penginapan ini
berbicara” sahut Brian yang masih focus membaca halamanbergambar rumah
tua megah itu.
“penginapan itu berbica? Aneh sekali” namun Kian merasa tertarik hingga membacaartikel itu juga. “tapi sepertinya menarik”
“ah,
paling hantunya adalah pegawai di penginapan itu yangberusaha
menakut-nakuti pengunjung.” Brian tidak terlalu bersimpati.
“Jamanseperti ini, manusia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan
uang. Termasukmenakut-nakuti.”
“coba lihat!” Kian
menunjuk pada sebuah kalimat dalamartikel itu. “Sering terdengar
suara-suara aneh di penginapan itu, mungkin itusebabnya dinamai Blaby
hill.”
“bisa jadi”
“pasti suara-suara
aneh itu berupa: tangisan di tengahmalam, bunyi ketukan pintu, atau
bunyi pintu dibuka dan di tutup. Itu tipuankuno. Mereka masih memakai
cara usang nenek moyang mereka.”
“tunggu dulu, di mana tadi?” Tanya Kian.
“dimana apanya?” Nicky bertanya balik.
“letak penginapan ini”
“Bukit Bloom..” Jawab Brian malas.
“Nah! Apa kalian lupa berita yang sungguh sangat tua itu..kasus orang hilang ?” Kian berusaha mengingatkan kedua sahabatnya.
“maksudmu kasus hilangnya 13 wisatawan domestik itu?” Nickymemastikan.
“yep!
Dan kejadiannya di Bukit Bloom! Mereka hilang di waktuyang
berbeda-beda, mungkin selisih beberapa bulan, tapi tidak ada yang
taupasti mereka menghilang di mana. Yang pasti mereka menghilang di
sekitar bukititu.”
“lalu apa kaitannya wisatawan hilang dengan penginapan hantubualan itu?” Brian mengerutkan keningnya.
“jangan
bilang kalian berfikir,wisatawan itu hilang lalu meninggal dan
menghantui bukit Bloom, termasukpenginapan hantu bualan itu”
“kira-kira begitulah..” jawab Kian.
“ayolah Bri, sepertinya ini tujuan yang bagus. Siapa taukita bisa jadi detektif dadakan hahaha”
“Polisi
sudah melakukan penyelidikan ke sana dan tidakmenemukan apa-apa, kau
tidak mungkin lebih handal dari polisi-polisi itu. Tapi,baiklah, aku
tertarik. Hanya saja kita harus membawa Shane dan Markie, hahahaaku
sungguh tertarik untuk melihat wajah ketakutan mereka”
*
Jalan
menuju Blaby Hill memang tidak bisa dikatakan dalamkondisi bagus. Jalan
menuju penginapan itu hanya berupa jalan tanah yangberuntung dapat
ditempuh menggunakan mobil. Sehingga 5 bocah raksasa itu tidakperlu
berjalan kaki mendaki bukit. Mereka yakin jika hujan turun maka
yangmereka lintasi bukan jalan tanah melaikan kolam lumpur.
“sudah
ku bilang! Penginapan berhantu itu bukan tujuan yangbagus untuk
liburan!” Shane masih berpegang tegus pada keyinannya, ide menginapdi
Blaby Hill adalah ide buruk. Bahkan Shane sudah mengira-ngira bahwa ini
akanmenjadi liburan musim panas terburuk seumur hidup. “jalannya
berkelok-kelok,belum lagi permukaannya tidak datar, dan aku sudah merasa
mual.” Shanememijat-mijat pelipisnya.
“Oh, diamlah
Shane! tidak bisakah kau menikmati ciptaanTuhan yang indah ini!”
akhirnya Brian membalas gerutuan itu, setelah sekianlama Shane
menggeruti di sepanjang jalan. Pemandangan di bukit Bloom memangindah.
Tak banyak campur tangan manusia di bukit ini, kecuali jalan tanah
yangkeriting ini, dan beberpa lainnya yang tidak diketahui. Pohon-pohon
besardengan daun-daun mereka yang hijau, beberapa bunga liar yang
mungkit tidakmereka temukan di kota, dan serangga musim panas yang
banyak macamnya!
“lebih kau diam dan tidak menggerutu
seperti Mark”. Semuamelirik kearah Mark (kecuali Kian yang fokus
menyetir) yang sedang tertidurpulas seperti mayat.
“bagaimana
bisa aku tidur jika jalannya sama jelek denganwajahmu, Bri!” bukan
hanya gerutuan, Shane juga menambahkan toping ejekan dalamkalimatnya.
Sungguh membuat Bria kesal dua kali lipat.
“kalau
begitu, tutup saja mata dan mulutmu dan berharaplahkau akan segera
menjadi mayat bernafas seperti Mark!” Shane hanya diam denganwajam
masam. Namun ia tidak membantah kata-kata Brian. Shane menutup mata
danmulutnya kemudia memsang posisi untuktidur.
“aku
mual…” tiba-tiba Mark terbangun dengan tangannya yangmeraba-raba seperti
mencari sesuatu. “aku mau mun_ HOOOEEKK!!” dia bahkan
belummenyelesaikan kalimat terakhirnya sebelum isi perutnya keluar.
“MARKIEEE!!!
Jangan bilang kau muntah di mobilku!! Aku barumencucinya kemarin!! Dan
kau tau apa? Mereka tidak menulis ada vasilitas cucimobil di penginapan
itu!!” Mark memang muntah di dalam mobil milik Kian, tapidia tidak
memuntahi Kian. Namun Kian berbicara seakan Mark memuntahi
wajahnya.Penuh dengan rasa kesal, dan jijik pastinya.
Shane
yang berada tepat di samping Mark, yang tadinya sudahmemejamkan mata
dan mulutnya, berusaha untuk tidur, sekarang terbelalak denganpenuh
perasaan jijik dan kesal, dan siap untuk mulai menggerutu lagi.
“untunglah
aku di sampingmu Shane, bukan di samping Mark”Nicky tersenyum dengan
penuh rasa syukur, walaupun sebenarnya dia juga merasaagak jiji, tapi
tidak sejijik Shane dan Kian.
“perutku mual..” suara Shane terdengar lemah. “sepertinyaaku akan muntah”
*
Penginapan
berhantu Blaby Hill merupakan sebuah rumah tuayang besar dan megah. Cat
putihnya yang sudah mulai terkelupas membuatpenginapan itu berkesan
horror, belum lagi penginapan itu ditumbuhi denganbatang-batang kayu
yang tinggi di sekitarnya. Namun, kesan megah tidaksedikitpun berkurang
karena hal itu.
Jumlah kamar di penginapan itu tidak
banyak, mungkin hanyasekitar 10 atau 12 buah. Jangan heranjika harga
menginap di sini sangat-sangat menguras kantong. Kalaudipikir-pikir,
kenapa ada orang bodoh yang mau membayar mahal hanya untukmenginap di
tempat seram dan minta ditakut-takuti? Kelima laki-laki itu, bisajadi
masuk dalam daftar orang bodoh itu. Tapi itulah manusia, mereka
bersediamembayar mahal hanya untuk sesuatu yang menantang. Kalau hanya
menantang,kenapa mereka tidak berkemah di tengah area pemakaman? Ah,
entahlah..
Perabotan di penginapan ini memang
sungguh-sungguh kuno.Kita bisa melihatnya dari sofa-sofa yang sudah
mulai usang dengan modelnya yangkuno, mungkin ini sofa nenek buyut yang
empunya penginapan ini. Bukan hanya sofa, tapi juga lampu,
mejaresepsionis, dan masih banyak lagi.
Meraka tiba di
Blaby Hill saat sore tiba. Kian bersyukurbukan main karena salah satu
dari karyawan di penginapan itu ada yang bersediamembersihkan mobilnya
(tentunya ia bersedia karena belum tau apa yang perlu iabersihkan di
dalam sana). Walaupun mereka harus membayar biaya tambahan untukitu.
Mereka
sempat berbincang-bincang dengan resepsionis yangsekaligus pemilik
penginapan ini. Penginapan ini memang sengaja dibuat sehorormungkin
untuk menarik perhatian pengunjung. Seperti saat mereka baru saja
tiba,pintu masuk bergerak-gerak sendiri, dan itu membuat Shane
merinding! Mark tidakterlalu mempedulikannya karena ia masih merasa mual
dan harus segera bertemudengan kasur. Brian yakin itu adalah salah satu
Trik kuno dari nenek moyangpemilik penginapan ini.
Pekerja
di penginapan ini sungguh sangat sedikit. Hanya 5orang yang sudah
termasuk dengan tukang kebun. Alasan pekerja di sini sedikit karena
Bukit Bloom adalah daerahterpencil yang jauh dari keramaian penduduk.
Bayangkan saja, di bukit ini hanyaada sebuah penginapan dan sisanya
hutan yang entah isinya apa. Alasan jauh daripemukiman dan yang konon
katanya berhantu, jarang sekali ada yang mau bekerjadi sini. Belum lagi
dengan gaji yang kecil walaupun biaya penginapannya mahal.Sebut saja
pemilik penginapan ini pelit. Mungkin bagi para pekerja , hantu
yangsesungguhnya di penginapan ini adalah Jhonatan Groo, pemilik
penginapan ini.
Dan Jhonatan sendiri adalah pria yang
mungkin sudah berusialima puluhan dengan beberapa uban tumbuh di antara
rambut coklatnya yang agakberantakan. Kerut-kerut di wajahnya terlihat
jelas bahwa ia telah berumur.Jidatnya yang lebar menunjukkan bahwa ia
seorang pemikir keras. Tatapannyatajam walaupun ia sedang tersenyum. Ok,
mungkin dia agak mengerikan dan dapatdi pastikan anak kecil yang
melihatnya pasti mengira dia hantu dan merengekminta pulang. Dia sama
kunonya denganperabotan di penginapan ini, bisa di lihat dari setelannya
yang memudar sehinggaterlihat usang. Dan Kian masih ingat pada kakeknya
punya setelan yang miripseperti yang dikenakannya.
“teman-teman,
bagaimana jika setelah makan malam kitaberjalan-jalan di sekitar
penginapan. Hantu beraksi di malam hari bukan?” Kianmelirik Shane,
mencoba menggodanya.
“tidak mau, aku masih lelah.
Lagipula aku masih merasa agakmual.” Tolak Shane. Dua alasan mengapa
Shanemenolak dan memberi alasan itu: pertama, dia belum pernah dan tidak
akan pernahmau bertemu atau mendengar suara hantu. Kedua, Karena dia
memang masih merasamual.
“kudengar hantu tertarik pada
orang yang mual akibatperjalanan jauh” Seru Nicky dengan wajahpolos
yang merupakan sebuah kebohongan.
Shane menelan ludah dan wajahnya mulai pucat.
*
Perjalanan
yang panjang memang membuat tubuh berkeringat danlengket, karena itulah
Brian memutuskan untuk segera mandi. Lampu di kamarmandi itu tidak
begitu terang, tapi cukuplah sebagai penerangan di kamar mandi.Brian
memejamkan matanya saat rintik-rintik air dari shower itu
membasawiwajahnya. Begitu nyaman, rintik-tintik itu seperti memijat
kulitnya yanglengket. Sedikit menghilangkan kepenatannya.
Di
tengah-tengah suara rintikan air yang menetes ke lantai kamar mandi,
ada suara lainyang bisa Brian dengar dengan telinganya. Bukan suara
nafasnya di antararintikan air, bukan suara tangannya yang bergesekan
dengan rambutnya. Suaradari langkah kaki yang berjalan di lantai basah,
riakan airnya begituterdengar. suara itu seakan berada sangat dekat
dengan Brian.
“Trik kuno..”gumam Brian dalam hati.
*
Kian
sudah merasa segar sekarang, hatinyapun lega setelah iamelihat sendiri
mobilnya yang telah bersih. Dia telah tampil rapi dan masihmematut-matut
diri di depan cermin. Bukan Kian namanya kalau tidak sempurnahdulu
sebelum tampil. Entah sudah berapa lama ia merapikan poni lucunya.
Danentah sudah berapa kali ia cengar-cengir di depan cermin.
Kian
tau pewangi ruangan di kamarnya berbau lavender, namunselama beberapa
detik ia mencium bau lain selain lavender. Kian kenal benar bau yang
satu ini, parfummawar. Parfum yang pernah di gunakan salah satu mantan
pacarnya, karena mantanpacarnya begitu menyukai bunga mawar. Tak heran
jika dulu ia punya toko bungalangganan karena ia wajib membawakan mawar
jika berkencan dengan gadis itu. Bauitu lumayan kuat selama beberapa
detik dan kemudia menghilang digantikan denganwangi laverder.
“hmmm… seleran hantuini, lumayan juga..”
*
Nicky
baru saja ingin keluar dari kamarnya. Ia sudah siapmemenuhi ajakan Kian
untuk ‘jalan-jalan’ karena hantu keluar di malam hari.Namun ia berbalik
ke meja rias karena sadar handphonenya tidak berada dikantong
celananya, tapi terletak di atas meja dias, tempat ia
meletakkannyasebelum ia masuk ke kamar mandi.
Nicky
meraih handphonenya dan memasukkannya ke saku. Tapibenda kecil itu
sedikir menarik perhatian Nicky. Semua orang tau bahwa rambutNicky itu
pirang, lagi pula ia tidak punya masalah dengan rambut rontok.
Namun,sisir yang baru 5 menit tadi ia gunakan terlihat sedikit aneh.
Beberapa helairambut berwarna hitam yang lumayan panjang tersangkut di
antara jari-jari sisiritu.
Nicky tidak berkomentar apa-apa.
*
Shane,
dengan alasanmalas, capek, mual, dan lain sebagainya, tidak ikut serta
dalam ‘jalan-jalan’di malam hari. Kian menertawakan Shane dengan mulut
menganga lebar, begitu jugadengan Brian, begitu juga dengan Nicky. Namun
tawa selebar apapun sepertinyatidak akan mengubah keputusan Shane.
Sedangkan Mark lebih memilih untuk kembalike kamar, bertemu dengan
bantal, selimut dan seprai. Untuk apa terlalu takut,toh kalau sudah
tidur dia tidak akan tau ada hantu atau tidak.
Kamar
di rumahnya dengan kamar di penginapan ini tidakberbeda jauh luasnya.
Tapi entah kenapa kamar di penginapan itu terasa sangatluas bagi Shane.
setelah berlari cepat ke atas tempat tidur dan membungkusdirinya dengan
selimut, niatnya yang ingin langsung tidur agar tidak melihatsetan, tak
terlaksana dengan baik. Shane bahkan terlalu takut untuk
memejamkanmatanya.
“hantu itu tidak ada. Sekalipun
ada, dia tidak akan beranimemakanmu Shane.. kau terlalu berlemak” Shane
berbicara pada dirinya sendiri,mencoba menenangkan dirinya sendiri yang
sebenarnya tidak bisa dia tenangkan. Shanetidak habis berlari 10 kilo
meter, tapi nafasnya terengah-engah.
Rumah megah yang
tinggi ini terdiri dari dua lantai, tidaktermasuk dek yang sepertinya di
pakai karena ada tangga menuju ke sana. Dan Shaneberada di lantai atas
bersama Mark dan Kian. Dengan kamar yang berbedatentunya. Padahal Shane
sudah merengek-rengek di saat berada di mejaresepsionis agar bisa
sekamar dengan siapa saja asalkan jangan sendirian. NamunKian hanya
menjawab begini
“Kamu tidak akan sendirian, kan ada hantunya! Hahaha Kamipesan 5 kamar” ingin pulang rasanya saat Shane mendengar kalimat itu.
Bayang-bayang
hantu yang mengerikan yang pernah dilihatnyadi dilm-film,
berputar-putar di kepalanya. Bahkan ia berharap tidak perlu adamalam
untuk hari ini, lebih baik siang sepanjang hari. Karena menurut
film-filmyang ditontonnya, hantu tidak berkeliaran di siang hari.
Shane
dihantui pikirannya sendiri dan sepertinya hantu ituada di otaknya
sendiri. Dia tidak bisamenahan dirinya untuk tetap berada di kamar ini,
dia segera berlari menujupintu. Setidaknya jika ia keluar dari kamar,
mungkin ia akan menemukan karyawanyang mungkin sedang membersihkan
sesuatu, atau melakukan apa saja yang penting Shane bisa menemukannya.
“blam”
Shane keluar dari kamar itu dan bersandar di daunpintu itu. mengambil
nafas setelahbeberapa detik menahan nafas. Setelah mendapat cukup
oksigen ia pun menoleh kekiri dan ke kanan. Dewi fortuna mungkin sedang
pergi ke salon, karenakeberuntungan tidak berada di pihak Shane. ia
tidak menemukan seorangpun dikoridor itu.
“tenang Shane… kamar Marktidak jauh jaraknya” gumam
Shane dalam hati. Ia berjalan dengan jantungberdebar-debar, seperti
pengantin wanita yang berjalan menuju pengantinprianya. Kalau bisa, ia
berharap kamar Mark bisa berpindah ke kamarnya detikitu juga. Ia tidak
mau meminta sayap agar dapat terbang langsung ke kamar Mark,karena dia
juga agak takut dengan ketinggian.
Di tengah-tengah
langkah berdebarnya, ia menemukan lorongsempit di sebelah kanannya.
Lorong itu hanya sekitar lima meter panjangnya. Dibagian ujung lorong
itu terdapat tangga kayu yang kecil dan tua (pastinya).Mungkin tangga
itulah yang digunakan untuk masuk ke dek. Shane berhenti saatmelihat
lorong sempit itu. Shane memang tengah dilanda ketakutan, amun itu
samasekali tidak menggangu penciumannya.
Shane bisa
dengan jelas mencium bau amis di sekitar sana. Shanemerinding mencium
bau itu, ditambah lagi dengan lorong itu cukup gelap karenahanya
diterangi lampu yang berada di koridor. Terdengar suara langkah kaki
yangtidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Makin lama suara itu
makinterdengar jelas. Ia ingin segera berlari dari tempat itu sekarang
juga! Namunsebuah suara mengagetkan sekaligus membuatnya berhenti
melangkah.
“Tuan Filan” Shane melompat kaget namun
menoleh ke belakang.di belakangnya berdiri seorang pria yang wajahnya
berkeriput dan rambutcoklatnya yang kusut, Jhonatan Groo. Bukan
bermaksud menghina, namun Jhonatanterlihat seperti setan di malam hari
begini, ia makin menyeramkan di malamhari. “ada sesuatu yang salah?”
tambahnya.
“oh, tidak” Jawab Shane tergagap. “hanya saja ada bau amisdi sekitar sini”
“owh”
Groo tersenyum. Sungguh senyum yang mengerikan.“mungkin ada tikus yang
mati di dek, kami akan segera mengeceknya.. ataumungkin…” Groo hanya
tersenyum tanpa melanjutkan ucapannya.
“mungkin apa?” Tanya Shane penasaran.
“mungkin,
ada yang lain seperti hantu di sana” Grootersenyum licik, dan Shane
hanya menelan ludah. “jangan khwatir tuan, kami akansegera mengeceknya.”
Shane berharap di dalam sana memang ada tikus mati,ratusanpun jumlahnya
tak masalah, asal bukan hantu.
*
“lihat!
Lihat! Ranting itu bergerak senriri!” Kian menunjukpada pohon yang
kira-kira berada sepuluh meter di depan mereka. Kian begitubersemangat
dengan hantu-hantu di sini.
“ah, itu tipuan kunoo, Ki” gumam Kian dengan nada malas.“jadi, hantu di sini hanya bisa begitu saja?”
“lihat!
Air di danau buatan itu beriak!” Nicky menunjukdengan cahaya lampu
senternya yang di arahkan ke sana. Mereka semuamemperhatikan dengan
seksama. Bagaimana air itu beriak, kemudiagelembung-gelembung air keluar
dari dalamnya, lalu riakan itu semakin keras.
Blaby
Hill memang memuliki danau buatan. Di sebut danaukarena memang terlalu
besar untuk di sebut kolam. Danau itu juga memilikikedalaman yang
lumayan dalam.
“ mungkinkah ikan?” Tanya Nicky dengan antusias.
“ikan
apa yang bisa membuat riak sebesar itu?!” Kian masihkagum dengan apa
yang dilihatnya. Hantu-hantu di sini memang sungguh menarikmenurutnya.
Tidak menyesal dia ke sini.
“ah, itu pasti salah satu tipuan…” desah Brian. “bisa sajamereka meletakkan sesuatu di bawah sana”
“Nicky, pegang sentermu dengan benar!” perintak Kian.“perasaanku saja, atau dari riakan itu memang ada darah?”
“itu
kan mudah, kau hanya perlu menambahkan pemarna yangbisa kau dapat di
toko-toko terdekat” Brian masih pada pendapatnya. entah diaberfikir
logis, atau memang tidak pernah mau percaya akan adanya hantu.
Mungkinkeduanya.
“tidakkah kalian mencium sesuatu?” Tanya Nicky.
“bau busuk. Seperti bau bangkai” Kian mengernyitkanhidungnya. “baunya bertambah kuat”
“ah.. pasti hanya bangkai binatang kecil yang ada di sini”
*
Shane
mengetuk-ngetuk pintu kamar yang ditempati Mark, tapitidak ada jawaban
atau sahutan dari dalam sana. Shane mencoba memutar gagangpintu itu dan
ternyata tidak terkunci. Ah, betapa berbunga-bunga hati Shane.dia segera
masuk dan melompat ke atas tempat tidur yang sedang di tisuri
Mark.Padahal Shane mendarat dengan keras di atas kasur itu, namun
pendaratan itutidak sedikitpun mengganggu tidur Mark. Orang aneh.
Shane
segera masuk ke dalam selimut dan meringkuk di sana. Markberada di
sampingnya sudah cukup membuat hatinya tenang. Setidaknya jika adahantu
yang datang, dia tidak sendirian, ada Mark di sini. Meskipun
diragukanapakah Mark akan bangun atau tidak. Ah terserah, yang penting
tidak sendirian.
Shane menikmati bantal dan kasur empuk
yang dimilikipenginapan ini, belum lagi selimutnya yang hangat dan
lembut. Matanya punperlahan-lahan bertambah berat, ia mulai mengantuk.
‘tok.. tok.. tok..’
Shane
terbelalak, matanya terbuka lebar-lebar. Suara itu berasaldari bawah
kasur yang sedang ditidurinya. Rasa kantuknya entah hilang ke mana.Ia
ketakutan. Suara itu masih terdengar. Dia tidak bisa berlari ke luar.
Karenabergerak dari atas kasur itupun dia tidak berani.
*
Pagi-pagi
benar, Shane membangunkan Mark (dengan cara kasarpastinya) dan
menceritakan tentang kejadian tadi malam. Anehnya, Mark tidakmendengar
apapun. Jelas saja, dia tidur seperti mayat! Saat sarapan
Shanemenceritakan kisahnya semalam dengan penuh semangat. Bahkan
serpih-serpih rotibakar yang ada di mulutnya mencrat-mencrat keluar.
“Serius!
Aku dengar suara ketukan di bawah kasur! Sangkintakutnya aku tidak
berani bergerak dan aku keringatan hingga bajuku basahkuyup!”
“telan
dulu sarapanmu Shane!” Brian terkikik melihatbagaimana teman penakutnya
ini bercerita. “apa celanamu basah kuyup? Akukhawatir kamu ngompol,
hahahaha” ingin rasanya Shane melempar Brian dengan rotiyang ada di
dalam mulutnya. Meskipun yang diucapkan Brian nyaris benar.
“kami juga mengalami hal-hal aneh” Kian menelan sarapannya“seperti yang kita lihat tadi malam”
“aku heran, aku tidak mengalami apapun” jawab Mark santaiseraya menyuap sarapannya, itu roti ketiganya pagi ini.
“Kau tidur seperti mayat, digigit Dracula pun mungkin kautidak akan bangun”
*
“Mungkin kita perlu korban baru”
“yeah memang, tempat ini masih terlalu sepi” orang itu mengusap-ngusap dagunya, ia sedang berfikir.
“si
tukang tidur itu, dia selanjutnya. Dia tidak terlalusulit untuk
dilumpuhkan” orang itu tersenyum licik kemudian ia beralih pada
anakbuahnya “kalian awasi agar mereka tidak macam-macam. Si gendut itu
biar akuyang urus, dia bukan masalah besar.” Anak buahnya hanya
mengangguk.
*
Hari ini cuaca begitu
cerah, sehingga kelima bocah raksasaitu menghabiskan waktu di luar.
Entah apa yang mereka lakukan di luar sanasehingga lupa pada
kejadian-kejadian aneh di penginapan ini. Mulai dari kejartangkap yang
tidak jelas bagaimana peraturan dalam bermainnya, menggelitikiNicky
hingga ia hampir mati kejang, menarik-narik celana Brian dan
untungnyatidak ada perempuan di sana, mengacak-ngacak poni Kian yang
sudah ditatanyadengan minyak rambut selengket lem selama setengah jam
tadi pagi, bergendangdengan perut Mark yang buncit karena dia tidur
terkapar di tengah halaman, menangkapShane kemudian mengengkatnya
tinggi-tinggi lalu melemparnya ke rumput hingga Shaneberteriak “ah!
Pinggangku patah!” padahal tidak, dan entah permainan bodoh apalagi yang
mereka lakukan.
Brian mengendus-ngendus di ketiaknya
kemudian bergumam“ketiakku baunya aneh” teman-temannya hanya tertawa
kecil. “tapi aku masihbelum mau masuk ke kamar mandi”
“ah, dasar jorok!” ejek Shane “sebaiknya aku mandi sekarang,badanku sudah lengket”
Sore itu masih terang, matahari masih menampakkan diri. Tapisudah saatnya mereka mandi.
“kau
berani mandi sendirian Shane? atau perlu kutemani?”goda Nicky, dan
Shane hanya tersenyum kecut padanya kemudian pergi sambilbergumam “aku
berani sendirian, lagipula sekarang belum gelap”
“Shane, aku ikut denganmu!” Mark berlari kecil mengejarnya.
“jadi bagaimana? Kita main lagi?” Tanya Brian.
“aku lumayan gerah, Bri” jawab Kian seraya berkipas dengantangannya “mungkin kita bisa bermain di danau itu, pasti segar”
“baiklah”.
*
Shane
mandi terburu-buru karena ketakutan, meskipun tadi diaberlagak sok
berani di depan teman-temannya dengan mengatakan bahwa sekarangmasih
belum gelap. Tapi tetap saja ia ketakutan. Setelah ia keluar dari
kamarmandi dan merasa segar, ia rindu rumah dan ia ingin segera menelpon
ibunya.
Maka selama beberapa lama terjadilah
percakapan ibu dan anakyang begitu manis. Bagaimana Shane mengatakan
bahwa ia rindu dengan rumah,masakan ibu, susu segar dari peternakan,
bahkan ia rindu dengan cucuan piringyang biasa dikerjalannya, padahal
dia baru sehari di penginapan aneh ini. Danpada akhir percakapan dia
akan menyatakan bagaimana dia mencintai ibunya,ayahnya, kakak dan
abangnya, dan yang terakhir kuda-kudanya yang berada dikandang.Bahkan ia
menyebutkan nama kudanya satu per satu dan mewanti-wanti agarmereka
merawat kudanya dengan baik.
Akhirnya Shane mengakhiri
percakapan itu. telinganya sudahcukup panas karena terlalu lama
menempel pada ponselnya. Tidak ada kegiatanyang bisa dilakukan di kamar
ini karena dia sendirian, lalu ia memutuskan untukberkumpul dengan
teman-temannya. Walaupun kadang mereka menyebalkan, tapi Shanetidak
pernah dan tidak akan pernah bisa merasa bosan bersama mereka.
Iamelangkah ke pintu dan keluar dari kamar.
Ia menuju
kamar Mark pertama-tama, karena kamar si tukangtidur itulah yang paling
dekat dengan dengan kamarnya. Ia berjalan di koridor,sama seperti yang
dilakukannya kemarin malam. Sepertinya tidak banyak yangberubah antara
kemarin dan hari ini. Shane berhenti kembali di depan lorongsempit itu,
bau amis kembali tercium. Shane kembali merinding. Hanya iniperbedaanya
dengan malam sebelumnya, ada suara ketukan pintu dari atas tanggaitu.
Shane bisa melihat jelas bahwa memang ada pintu di atas tangga kecil
tuadan dekil itu. untuk sesaat Shane ingin lari dari sana, ini
penginapanberhantu! Pasti itu adalah hantu yang berusaha
menakut-nakutinya lagi! Namunsetelah dia bisa sedikit berfikir, mungkin
saja yang di dalam sana itu adalahkaryawa yang sedang memeriksa ke
dalam. Seperti yang dikatakan Jhonatan Grootadi malam, mereka akan
segera memeriksanya.
“Halo, siapa di sana?” Shane
mesatikan, namun tidak adajawaban. Shane berjalan sedikit mendekat
kemudia memanggil lagi, namun tidakada jawaban. Ketukan pintu itu
semakin cepat dan keras. Mungkinkah orang diruangan itu tidak bisa
mendengarnya karena celah-celah di pintu itu sempitsekali? Mungkin saja,
karena celah di bawah pintu bahkan tidak terlihat.Mendengar ketukan
yang kencang dan keras, seperti manusia yang sedang panicjuga
samar-samar Shane mendengar sesuatu yang mirip dengan suara gumaman,
Shanepun yakin bahwa yang ada di dalam adalah manusia.
“Jangan
khawatir, aku di sini!” Shane menaiki tangga kecilitu kemudia
memutar-mutar gagang pintunya, namun terkunci. “sebentar, aku
caribantuan!” Shane berbalik, dank arena pencahayaan di sana kurang,
Shaneterpeleset dengan punggung dan kepalanya membentur pintu itu. Shane
terduduk dianak tangga dengan seluruh bagian tubuh keskitan.
“kreek”
pintu ituterbuka. Shane menoleh Ke pintu itu seraya mengusap-ngusap
kepalanya. Iaberusaha bangkit dan syukurlah ia masih bisa berdiri.
Ternyata pintu itubenar-benar tua, karena kepala Shane yang lunak itu
saja sudah bisa membukanya.Aneh, tidak ada seorangpun yang keluar dari
balik pintu itu. suara ketukanpunhilang. Shane kembali merinding,
sepertinya memang bukan manusia yang tadimengetuk-ngetuk pintu itu.
namun entah bagaimana, atau entah dia mendapatkeberanian dari mana
sehingga ia nekat memasuki pintu itu. di dalam hatikecilnya, ada sesuatu
yang meminta pertolongan dari dalam sana.
Begitu
memasuki pintu itu, bau bangkai yang aromanya begitumenyengat memenuhi
saluran pernafasan Shane. ingin muntah rasanya saat Shane
menghirupoksigen di sana. Shane milirik ke sebelah kanan kusen pintu dan
menemukansakelar. Shane harap sakelar itu akan menghidupkan lampu di
ruangan bau ini.
Benar, lampu di ruangan itu hidup.
Dan Shane dapat melihatdengan jelas apa benda yang ada di depannya.
Shane ternganga dan hanya dapatberucap dalam hati ‘Tuhan! Apa-apaanini?!’.
Seonggok jasad manusia yang sudah membusuk. Dagingnya yang penuhdengan
bekas luka sudah mulai menghitam. Darah kering menghiasi tubuhnya
yangsudah tak berdaya. Shane berbalik, ia harus pergi mencari bantuan
atausetidaknya memberitahukan tentang mayat ini kepada teman-temannya.
Shane terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di bawahtangga.
Orang
itu memakai kemeja dan rok pendek dan semuanya serbahitam , itu adalah
seragam khusus para pegawai di sini. Rambut hitamnya yangmengkilat di
diikat ke belakang, wajahnya putih bersih, dan mata biru gelapnya,dia
orang yang cantik. Perempuan itu menatap tajam pada Shane, di mata
Shaneorang ini terlihat menyeramkan.
“apa yang sedang anda lakukan di sini, Tuan Filan?” tanyanyadengan nada dan senyuman yang dingin.
“bagaimana
mungkin kalian tidak mengetahui apa yang ada diabalik pintu ini?! Hanya
kalian yang bisa keluar masuk ke sini!” Jawab Shanepenuh emosi dan
ketakutan. Orang di depannya masih tetap tersenyum sinis.
“yeah,
dan mungkin selanjutnya kau yang akan ada di balikpintu itu” perempuan
itu mengeluarkan pisau dari belakang punggungnya. Iamemasang
ancang-ancang untuk menerkam Shane. namun Shane tidak terlalu
bodoh,sebelum ia menerkam Shane, Shane yang menerkamnya terlebih dahulu.
Shane segeralompat dan menimpa perempuan itu. pisau yang ada di
tangannya terlempar tidakjauh darinya dan perempuan itu berhasil di
jatuhkannya. Shane segera berlaridari tempat itu, sebelum perempuan gila
itu bangkit dan menikamnya
*
“Ki, aku tidak yakin pemilik penginapan ini memperbolehkankita untuk berenang di di sini” Seru Brian.
“Kenapa?” Tanya Kian seraya melepas Jeans dan kaosnya, iahanya menyisakan boxernya.
“karena mereka tidak menyediakan tempat untuk ganti pakaiandi sini”
“santai
saja, sedikit jahil di penginapan ini tidak akanmembuatnya mengusir
kita. Hey Nix, Mau ikut berenang? Air danau ini pastisegar, dan mungkin
aku bisa berenang bersama hantu penunggunya”
“tidak
ah, aku disini saja. Gina pasti malu punya pacar yang mandi sembarangan”
Kian menatap Nicky tajam namun ia tetap masukke dalam danau itu.
berenang dengan lincah ke sana kemari seperi ikan mas kokikemudian ia
mengambil nafas panjang dan menyelam.
“hey! Apa yang
kalian lakukan?” Tanya orang yang berpakaianserba hitam, dan bisa
dipastikan itu adalah salah satu pegawai di penginapanini. “bilang pada
temanmu cepat naik, karena tidak ada yang boleh berenang didanau”
meskipun wajahnya tampak cuek,namun Brian dan Nicky tahu bahwa
sebenarnya pegawai itu kesal pada mereka.Setelah berkata begitu ia
beranjak dan pergi menjauh dari mereka.
“hey Nix, suruh Kian cepat-cepat naik ya. Aku mandi duluan!”Nicky mengangguk mengiyakannya.
Brian
berjalan menuju penginapan, namun langkahnya terhentimelihat sesuatu
yang agak mencolok di tengah-tengah rumput hijau yang pendek. Besikecil,
dan Brian melihatnya lebih dekat lagi. Anak kunci rupanya. Mungkin
kuncimilik pegawai sangar tadi, karena tadi dia berdiri di sini. Brian
lanjut berjalan menuju penginapan.
*
Sepeti
yang mereka duga, danau itu lumayan dalam dan Kiansuka itu. itu seperti
tantangan untuknya untuk menyelam hingga ke bagian dasar.Sebagai
peselancar yang biasa berenang di air laut yang berombak, menyelam
didanau jauh lebih mudah karena tidak ada gelombang yang mengayun-ayun
tubuhnya.
Ia menyelam semakin dalam memang agak sulit.
Tantanganmenyelam adalah, semakin dalam kamu menyelam maka akan semakin
sulit. Tentubukan Kian namanya jika tidak bisa menyelam hingga ke dasar
danau itu. Iapenyelam yang hebat!
Dan sekarang ia
sudah bisa melihat dasar dari danau itu.Dasar dari danau itu hanya tanah
bekas kerukan alat-alat berat. Sejauh matamemandang hanya tanah dan
lumut. Sepertinya ada satu lagi, tapi Kian tidakbegitu jelas melihat
yang satu ini hingga ia mendekat pada objek tersebut.
Betapa
jantungannya Kian menyadari apa objek tersebut. Jasadmanusia yang telah
membusuk diikat dengan rantai pada dasar danau! Kian tidaktau pasti
sudah berapa lama ia meninggal, tapi Kian yakin pasti sudah lamasekali.
Karena konsisinya sudah seperti ini. Kian cepet-cepat naik ke atas.
Iaharus memberitahukan teman-temannya!
“BUUAHH!!” Kepala Kian muncul ke atas permukaan air.
“WOW!
Betapa lama kau menyelam Ki. Ku kira kau sudah matikehabisan nafas di
dalam sana!” Kian tidak terlalu mendengarkannya, ia segeraberenang ke
tepi.
Nafas Kian tersengal-sengal ketika dia sampai di pinggirdanau, kemudian dia berusaha naik.
“Nick..” Kian masih terengah “ada mayat di dasar danau itu”Kian berusaha untuk menormalkan nafasnya.
“bagaimana mungkin?! Jika dia benar-benar mayat, harusnyadia mengapung di permukaan”
“dia di rantai di permukaan danau. Kita harus memberitahukanMr.Groo dan menelpon polisi”
Nicky
merogoh sakunya, ia harus segera menemukan ponselnyadan menelpon
polisi. Sudah pasti mayat itu adalah korban pembunuhan. Danpembunuhan
adalah tindak criminal, jadi polisi harus mengetahuinya.
Nickymendapatkan ponselnya.
“Maaf tuan-tuan, ada apa di
sini?” salah seorang dari 2orang berseragam serba hitam bertanya pada
mereka. Ini pelayan yang berbedadari yang menegur mereka tadi.
“ada
mayat di dasar danau! Kita harus melapor pada polisi!”jawab Nicky
terburu-buru sambil memencet-mencet tombol ponselnya, mencari
nomorpolisi terdekat yang sempat dicatatnya saat dalam perjalanan ke
sini.
“oh tunggu dulu tuan-tuan” pegawai itu menurunkan
tanganNicky agar berhenti memenceti ponselnya. “ada yang ingin aku
tunjukkan padakalian, ini hal penting sebelum kalian menelpon polisi.
Ayo ikut kami”
“tapi..” Nicky ingin segera menelpon polisi.
“tolong, ikut kami dulu tuan” melihat wajah serius danmemohon dua pegawai ini Kian dan Nicky mengikutinya.
*
Tentu
mereka tidakakan membiarkan polisi datang dan mengadakan penyelidikan
lagi di penginapanini. Penyelidikan mereka yang sebelumnya saja sudah
cukup membuat merekakewalahan. Bahkan kedok mereka nyaris terbuka karena
polisi hampir menemukanmayat di salah satu area pengnapan. Kali ini
mereka akan membuatnya bersih dantanpa polisi pastinya. Mereka tidak
akan membiarkan tamu-tamu merepotkan inimemanggi polisi dan membuat
semuanya menjadi kacau!
*
Brian tiba
di meja resepsionis dan meja itu kodong tanpa adaseseorang di
belakangnya. Brian yang terkadang melakukan hal aneh, memang
akanmelakukan hal aneh kali ini. Ia masuk ke belakang meja resepsionis
dan duduk dikursi yang biasa tuan Groo duduki. Seperti yang dikatakan
Kian tadi, sedikitkejahilan tidak akan membuat mereka di usir. Dan
kalimat itulah yang dipegangteguh oleh Brian. Ia bertingkah seolah-olah
resepsionis di hotel-hotelberbintang lalu tertawa sendiri, tepat seprti
orang tolol.
Kemudian Brian melirik sedikit ke bawah
dan melihat sebuahlemari besi yang pastinya tua. Kemudia ia melihat ke
lubang kuncinya, di ataslubang kunci itu terdapat merek yang sama dengan
kunci yang tadi di dapatnya. Itupunkalau dia tidak salah lihat. Brian
mengeluarkan kunci itu dari sakunya, danternyata lubang kunci dan anak
kunci itu semerek. Karena prinsip sedikitkejahilan itulah, Brian mencoba
memasukkan anak kunci itu kelubangnya. Danlemari besi itu bisa dibuka.
Penasaran dengan apa yang ada di dalam lemari itu,karena sepertinya
special sekali berada di lemari besi, Brian membukanyalebar-lebar.
Bau
bangkai yang menyengat langsung membuat Brian menutuphidung. Matanya
terbelalak melihat isi dari lemari besi tersebut. Potongantubuh manusia
yang berlumuran darah kering. Mau muntah Brian melihatnya, inisungguh
mengerikan! Potongan-potongan itu begitu kecil, tapi Brian bisa
yakinbahwa itu adalah potongan tubuh manusia karena ia melihat potongan
kepala dan jarikakinya.
“Kau sudah melihatnya ya?” suara itu mengagetkan Brian. Ituadalah suara pegawai yang tadi menegur mereka di danau.
“kenapa
kau bisa mempunyai kunci ini?! Kau taukan isi darilemari besi ini?!”
Brian sungguh kaget dengan apa yang baru saja dilihatnya,dan dia juga
sangat marah! Bagaimana bisa ada manusia sekejam ini.
“kau sudah melihatnya, tidak ada cara lain agar kau menutupmulutmu” orang itu mengeluarkan pisaunya, siap menerkam Brian.
*
Nicky
dan Kian yang masih basah kuyup mengikuti dua orangitu pergi ke
belakang penginapan, membawa mereka ke sebuah lorong yang belumpernah
mereka injak sekalipun.
“memang apa yang ingin kalian
tunjukkan?” Tanya Kian tidaksabaran, karena dari tadi dua karyawan
berpakaian hitam itu hanya. Dua orang didepan mereka hanya diam namun
gerakan mereka sedikit mencurigan karena tanganmereka bergerak-gerak di
depan perut mereka.
“ini yang ingin kami tunjukkan”
kedua orang itu mengeluarkanpisau dan siap untuk menikam mereka.
Serangan pertama mampu mereka hindari dan merekaharus segera pergi dari
sana. Mereka berlari sekencang mungkin untukmenghindari dua orang gila
berpisau itu. namun mereka dikejutkan dengan orangyang berbaju serba
hitam juga berada di depan mereka, lengkap dengan pisautajamnya.
Dibelakang mereka ada dua orang, dan satu orang di depan mereka.
Dualawan tiga, mereka dikepung, dan tidak ada pilihan lain selain
melawan.
*
Apa yang Mark lakukan
setelah mandi dapat ditebak, bertemudengan kasur, sepray, dan bantal.
Bermain seharian bersama teman-temannyamembuatnya ingin segera berada di
atas kasur. Kasurnya empuk, sama sepertiterakhir kali saat ia tiduri,
selimutnya juga hangat sama seperti semalam,tapi..
‘tok..tok..tok..’
Apakah
suara itu juga sama seperti semalam? Itukah suarayang diceitakan Shane?
sekarang Mark bisa mendengarkannya sendiri. Suara itumemang benar-benar
berasal dari bawah kasur. Sekarang dia berada pada posisiyang sama
dengan Shane. dia begitu ketakutan, bahkan ia terlalu takut
untukbergerak dari tempat tidur. Yang dapat dilakukannya sekarang
hanyalah menutupidiri dengan selimut, berharap selimut lembut itu dapat
melindunginya.
Sepertinya suara ketukan di bawah
tempat tidur itu tidakpuas melihat Mark ketakutan, sekarang Mark bisa
mendengarkan suara langkahkaki. Mark berdoa dalam hati dan memejamkan
matanya rapat-rapat. Tubuhnya sudahbergetar, dia baru saja mandi dan
sekarang ia berkeringat lagi.
Orang itu di sana,
bersiap dengan pisaunya dan sudah siapuntuk menikam orang yang ada di
atas kasur itu. orang yang sungguh penakut!Karena takut hanya dengan
mendengar suara ketukan yang tak jelas itu. ia semakin mendekat.
Kemudian ia menusukkanpisau itu pada targetnya. Setelah dia mendengar
suara erangan ia menarik pisauitu. ia bisa melihat darah yang melekat
pada pisau itu.
Mark mengerang kesakitan, ia segera
membuka selimutnya danmelihat siapa orang yang baru saja menusuknya.
Jhonathan Groo! Dia tersenyumpenuh kemenangan di sana. Mark memegangi
lengan atasnya yang tertusuk pisautajam Groo. Groo bersiap-siap untuk
menikamnya sekali lagi. Mark harus bergerakcepat untuk menghindarinya.
Tapi
siapa sangaka Groo dapat bergerak slincah dirinya,bahkan Mark sendiri
kewalahan untuk menghindarinya. Groo menendang kaki kanan Marksaat ia
mencoba melewati Groo. Mark tersungkur dan nyaris saja
kepalanyamembentur tembok. Groo berdiri di depannya, dia sudah siap
untuk mengayunkanpisaunya. Mark mengeluarkan tinjunya ke perut Groo,
namun itu tidak membuatGroo terjatuh karena Mark menggunakan tangan
kirinya. Mark mendorongnya dengansekuat tenaga dan harus rela dengan
sebuah sayatan lagi di tangan kirinya.
Mark segera
berlari menuju pintu, dan ternyata pintu ituterkunci! Siapa lagi yang
menguncinya jika bukan Groo. Groo berlari ke arah Markdengan pisaunya
yang siap menerjang. Mark segera mengelak sehingga pisau Grootertancam
di pintu kayu tua itu.
Groo segera menarik pisaunya
dan kembali mengarahkannya ke arahMark. Untuk pertama kalinya Mark
berhasil menendangnya hingga ia miringiskesakitan. Mark tidak pernah
berniat melukai Groo, namun di dalam kondisibegini, dia terpaksa
melakukannya. Groo mencoba bangkit dan berusaha menikam Marklagi, lagi,
dan lagi. Seberapa banyak Mark melawan Groo, maka semakin banyakpula
sayatan di tubuhnya.
Serangan terakhir Groo sebelum
Mark terduduk lemas adalah, sebuah lemparan Vas bunga daritanah liat
yang tepat mengenai kepala Mark. Mark tau mungkin ini adalahsaat-saat
terakhirnya menghirup udara di bumi, dan yang paling ia lakukan saat
iniadalah mengatakan kepada semua orang yang dicintainya bahwa ia sangat
mencintaimereka. Mark pasrah jika ia harus mati saat ini, mungkin
itulah jalannya.
“Aku Cinta kaliansemua!”
gumamnya dalam hati dengan air mata mengalir di pipi. Dia tidakbisa
melihat Groo dengan jelas, tapi dia tau Groo akan segera
mengayunkanpisaunya dan tamatlah riwayatnya.
“Brak!”
“Polisi! Angkat tangan dan buang senjatamu!”
Apa tadi Gro menusuk telinganya? Apa dia salah dengar?Terimakasih Tuhan, kau batalkan jadwal kematiannya.
*
Shane
berhasil kaburdari wanita berambut hitam itu dan secepat mungkin
menelpon polisi. Walaupunpada akhirnya ia harus melawan wanita itu.
Brian dengan susah payah melumpuhkanlawannya hingga pada akhirnya ia
mengangkat kursi di belakang meja resepsionisyang berat itu dan
mengayunkannya ke kepala lawannya. Kian dan Nicky berhasilmengalahkan
tiga orang itu, walaupun mereka mengalami luka yang cukup parah.Bahkan
Kian masih hanya mengenakan boxer hingga polisi datang.
Kasus
13 wisatawan domestik yang hilang itu terungkap.Pembunuhnya adalah
Jhonatan Groo dan karyawannya. Mereka sengaja membunuhwisatan itu dan
memperlakukan mayatnya secara tidak layak agar rohnya tidaktenang dan
tetap di bumi, menggentayangi orang-orang di Blaby Hill. Itu
suatukepercayaan kuno yang dianut oleh Groo. Dan hal gila itu hanya
bertujuan untukmenarik pengunjung agar blaby hill tidak pernah kosong
pengunjung dan merekabisa memasang harga yang tinggi!
Dan mereka dapat menyimpulkan sesuatu dar liburan musimpanas mereka yang kacau ini. Tidak ada penginapan berhantu lagi!
mohon maaf atas:
-typo
-kegajeannya bahkan mungkin ada yang nggak ngerti jalan ceritanya
-yang
kepanjangan melebihi batas maksimal. seharusnya hanya 5000 kata, namun
ini ada 5905 kata. aku nggak tau lagi apa yang harus dimutilasi dari
cerita ini.. astaga, sayang mau mutilasinya.. -_-
dan terimakasih atas waktunya yang telah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini
ada komentar? :D
ditunggu lhoooooo