Selasa, 30 Juni 2020

Di Bawah Langit Biru


Aku dan Jihyun punya banyak kesamaan. Jihyun benci serangga, aku juga. Jihyun benci pada matematika, aku juga. Jihyun benci pada guru baru kami yang memberi tugas seolah kami tidak punya kehidupan. Aku juga.
Jihyun menyukai ensiklopedia bergambar, aku juga. Kami sangat suka ensiklopedia tentang mumi. Jihyun suka menguyah permen karet di tengah-tengah pelajaran, aku juga. Jihyun sangat menyukai langit biru yang cerah. Aku juga.
Hari itu, tidak ada awan di atas kepala kami. Langit seolah seutuhnya berwarna biru. Pagi itu cerah sekali. Siswa baru saling menatap dan sesekali berbicara dengan canggung satu sama lain. Aku memilih untuk menjadi mumi, sebab aku tidak pandai dalam bersosialisasi.
Jihyun cukup mencolok diantara murid lain yang berbaris di lapangan. Tidak ada siswa laki-laki yang setampan Jihyun. Menurutku sih. Pernah dengar ketika salah satu indramu tidak berfungsi, maka indra lainnya akan lebih peka? Mataku sangat lihat mengamati beberapa siswa mengamatinya. Sebenarnya tidak bisa dibilang beberapa, cukup banyak mungkin lebih tepat. Sebagian mengamatinya dengan tatapan kagum, sebagian lagi seolah hendak menerkam. Uh, agresif sekali.
Aku bisa melihat sebagian anak laki-laki menatap Jihyun dengan sinis. Pasti mereka adalah siswa yang bangun di pagi buta untuk menata rambut agar dapat terbar pesona di hari pertama. Aku bisa melihat pomade berkilau mereka dari jarak sejauh ini. Menyilaukan sekali.
Mataku bertemu dengan maniknya. Hanya sepersekian detik kemudian kami saling membuang muka. Itu bukan tatapan yang akan membuatku tidak bisa tidur karena mabuk kepayang. Itu hanya sebuah tatapan biasa karena kau punya sepasang mata.
Aku dan Jihyun berada di kelas yang sama. Siswa lain mulai mengakrabkan diri satu sama lain. Aku dan Jihyun lebih memilih menunggu siswa lain membuka obrolan dengan kami. Sudah kubilang kan, aku dan Jihyun itu memiliki banyak kesamaan. Kami sama-sama tak pandai bersosialisasi.
Percakapan kami terjadi di dalam perpustakaan sekolah saat istirahat makan siang. Aku dan Jihyun sama-sama hendak mengambil ensiklopedia mumi. Aku mengalah dan membiarkanku untuk membacanya terlebih dulu. Aku bisa membaca buku itu lain waktu, lagi pula aku sudah membacanya empat kali.
Mungkin karena hari itu juga sama birunya dengan hari pertama kali kami bertemu, kami memiliki suasana hati yang bagus. Jihyun membuka obrolan dengan mengatakan mumi dari Palermo sangat indah. Itu juga merupakan mumi kesukaanku. Aku menanggapinya dengan antusias. Itulah dialog pertama kami.
Tahun-tahun selanjutnya, aku dan Jihyun tetap menjadi teman sekelas. Seiring berjalannya waktu, kami semakin akrab. Mungkin karena kami memiliki banyak kesamaan. Aku bisa berubah sedikit lebih cerewet ketika berbicara dengan Jihyun, begitu pula sebaliknya. Kami yang asli banyak bicara. Kami membicarakan berbagai hal, mulai dari mengapa sekolah harus memberikan tugas untuk dibawa pulang hingga mengapa alien tidak kunjung menginvasi bumi.
Teman-temanku mengakui bahwa tingkah lakuku seperti Jihyun tetapi versi perempuan. Aku dan Jihyun berbaur dan berteman dengan siswa lain. Kami hanya tidak terlalu pandai bersosialisasi di awal, bukan anti sosial.
Suatu siang, kami dipulangkan lebih cepat. Aku bahkan lupa mengapa kami dipulangkan lebih cepat, tetapi aku ingat bagaimana bahagianya hari itu. Aku dan Jihyun tentu saja tidak begitu menyukai sekolah, tapi bukan itu hal yang paling membahagiakan.
Siang itu kami sudah membuat agenda akan mengerjakan tugas berpasangan yang diberikan beberapa hari lalu. Saat aku sedang memasukkan beberapa buku ke dalam lokerku, Jihyun tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Ia bergumam pelan “Hari ini tidak usah mengerjakan tugas ya.”
Aku lekas menutup lokerku dan berbalik menatap wajahnya dengan penuh tanda tanya. “Kenapa? Bukannya kemarin kita sudah sepakat?”
Jihyun tersenyum tertahan, tapi aku bisa melihat lesung pipinya dengan jelas. Telinganya memerah, begitu juga dengan wajahnya. Apa dia sakit?
“Hari ini cerah sekali. Sayang jika tidak dipakai untuk bersenang-senang. Kita kencan saja ya?”
Untungnya hari itu aku menggerai rambutku. Jihyun tidak boleh melihat telingaku yang memerah. Aku menyembunyikan semburat merah di wajahku dengan menunduk. Tanpa menunggu jawabanku, Jihyun meraih tanganku. Menggenggamnya dan tidak dilepaskan seharian itu.
Jihyun memperlakukanku seolah-olah aku adalah balon helium. Jika lepas maka aku akan hilang.
“Jihyun, aku tidak akan hilang di keramaian. Aku lahir di sini, jadi sekalipun aku hilang di keramaian , aku tidak mungkin tersesat.”
Jihyun menoleh padaku. “Namanya juga kencan. Saat kencan, kadang kau harus berpura-pura tidak dapat melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kau lakukan.”
“Jadi aku harus pura-pura akan tersesat jika melepaskan tanganmu?”
Jihyun mengangguk tetapi ia sudah buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Pasti dia menahan malu. Aku juga.
“Apa aku boleh berpura-pura tidak bisa membeli es krim padahal uang sakuku minggu ini masih utuh di dalam dompet?” Aku mencoba sedikit menggodanya. Balas dendam karena tiba-tiba mengadakan kencan.
“Wah, kau cepat belajar rupanya.”
Kami tertawa dengan tangan yang masih saling menggenggam.Tidak baik untuk jantungku memang, tetapi aku merasa nyaman dan hangat yang menjalar dari tangan kemudian menuju dadaku. Kami mengunjungi kedai es krim, perpustakaan kota, taman bermain dan memutuskan pulang ketika langit sudah mulai gelap.
Jihyun mengantarku pulang. Dia bilang akan pulang setelah melihatku masuk ke dalam rumah. Aku tidak segera masuk. Mungkin karena masih ingin bersama Jihyun lebih lama atau karena laki-laki ini seperti ingin mengutarakan sesuatu yang tersangkut di lehernya.
“Katakan saja” Bersama Jihyun selama dua tahun membuatku memehami Jihyun dengan baik.
Jihyun mengusap tengkuknya. Aku masih menunggu dalam diam.
“Apa kau senang hari ini?” tanya Jihyun ragu-ragu.
“Tentu” jawabku seenteng mungkin.
“Kalau begitu kita harus sering-sering kencan. Maksudku, kau tau..” Jihyun kembali mengusap-usap tengkuk sambil mengulum bibir bawahnya. “Kencan itu dilakukan sepasang kekasih, jadi...”
Ah, aku paham ke mana arah pembicaraan ini. Jihyun masih kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat namun segera melanjutkan “mari berkencan lagi di lain waktu sebagai sepasang kekasih.”
Sudah kubilang kan, aku dan Jihyun itu memiliki banyak sekali kesamaan. Aku mengangguk dengan seulas senyuman malu. Aku yakin kami merasakan hal yang sama. Ketika Jihyun jatuh cinta, aku juga.
Di hari-hari yang cerah kami kembali mengulangi kencan kami. Sesekali kencan kami batal karena hujan yang mendadak turun, atau karena kesibukan kami yang semakin padat seiring bertambahnya usia dan kewajiban. Itu bukan masalah, sebab aku dan Jihyun masih sama-sama jatuh cinta.
Sesekali di hari yang cerah, di bawah langit biru kami berselisih seperti pasangan lainnya. Terkadang kami juga berselisih di hari yang kelabu. Aku dan Jihyun tidak menyukainya, sebab ketika hujan kesedihan terasa semakin menyedihkan. Kami baik-baik saja, sebab kami akan berbaikan setelahnya. Kami masih jatuh cinta. Walau rasanya tidak semenggebu dulu. Tidak masalah, cinta memang begitu bukan? Seperti laut, kadang pasang dan kadang surut. Aku percaya itu, Jihyun juga.
Di hari-hari cerah selanjutnya kami tidak banyak berselisih. Kami lebih jarang berbicara dan sibuk dengan dunia masing-masing. Sesekali kami saling berkirim pesan. Rasanya ini lebih buruk ketika aku dan Jihyun sering berselisih. Aku akan menangis karena sakit tetapi akan tersenyum lega ketika kembali memeluk Jihyun. Kenapa sekarang rasanya hambar sekali? Apa Jihyun juga merasa begitu? Aku tidak berani bertanya, takut yang kukhawatirkan jadi kenyataan.
Bekerja di dalam suatu firma hukum membuatku kerap kali bertemu dengan orang-orang yang menggugat cerai pasangan mereka. Tentu kami akan menyarankan mereka berdamai dengan pasangan mereka terlebih dulu. Sebagian berhasil, sebagian lagi tetap bersikukuh untuk berpisah. Mereka yang keras kepala ini membuatku berfikir, mengapa mereka bisa bersikukuh untuk menyelesaikan sesuatu yang awalnya mereka mulai dengan harapan?
Hanya saja, melihat mereka yang datang dengan wajah kecewa aku memahami sesuatu. Tak ada satupun dari mereka yang berharap akan mengakhiri kisah cintanya dengan buruk. Membayangkannya saja barangkali mereka tak pernah. Seperti aku, yang tak pernah membayangkan akan berpisah dengan Jihyun.
Di bawah langit yang biru, Jihyun bilang apapun bisa saja terjadi. Aku percaya itu, seperti kami percaya bahwa alien itu ada dan bisa saja datang ke bumi sewaktu-waktu. Jihyun benar, di suatu hari yang cerah kami memutuskan untuk berpisah. Aku dan Jihyun tak begitu pandai soal mengungkapkan perasaan. Jihyun terlalu lama memendam perasaanya yang berubah, aku juga. Aku terlalu takut berpisah dengan Jihyun, begitu pula dengan Jihyun. Aku dan Jihyun merasakan hal yang sama, hambar.  
Untuk hari-hari yang akan datang nanti, entah cerah ataupun hujan, aku dan Jihyun memiliki harapan yang sama: bertemu dengan orang yang membuat kami saling melengkapi.

Kamis, 18 Juni 2020

Letter to Tsundere


Aku masih duduk di bangkuku. Sudah 30 menit sejak bel pulang sekolah berbunyi. Aku masih menunggu, memastikan keadaan kelas kosong sepenuhnya. Ada misi rahasia yang akan kulaksanakan. Ini misi yang sudah tertunda lama, meskipun sejak dulu sudah ingin sekali kulakukan.
Selama tiga puluh menit itu pula aku kembali merasa goyah dan menimbang-nimbang niat konyolku ini. Berkali-kali aku memandangi surat kecil di dalam genggamanku. Ini sebuah surat pernyataan yang amplopnya berwarna merah muda. Sepertinya aku salah memilih warna, Jihyun pasti tidak suka warna-warna pastel yang cerah. Jihyun selalu menggunakan warna-warna gelap. Kontras sekali dengan kulitnya yang pucat.
Jihyun itu pendiam, berbicara seperlunya, terlalu kaku dan dingin. Dia tidak punya banyak teman karena orang-orang terlalu segan untuk mendekatinya. Dia adalah tipe ‘manusia terakhir’ yang akan kau tawarkan untuk menjadi anggota untuk mengerjakan tugas kelompok.
Sungguh, Jihyun sama sekali tidak menyebalkan. Dia cerdas, namun tidak begitu populer. Jihyun juga manis, menurutku.  Jihyun punya lesung pipi saat ia tersenyum. Tidak banyak yang tau hal itu, sebab Jihyun jarang sekali tersenyum. Aku yakin Jihyun punya beberapa penggemar rahasia. Tentu saja karena mereka merahasiakan identitas mereka, aku tidak tau siapa pastinya sainganku itu.
Pada hakikatnya, cinta itu bodoh. Artinya:semakin cinta, maka kau akan semakin bodoh. Sejak kehadiran Jihyun dalam kepalaku membuatku menjadi bodoh, aku yakin aku sudah jatuh cinta. Itu kesimpulan yang kudapat setelah berbulan-bulan mengamati dan terkadang membuntuti Jihyun. Lihat, aku rela menjadi stalker karena si batu itu.
Aku rasa warna merah jambu sudah benar. Ini surat cinta, jadi mana ada surat cinta yang sampulnya hitam. Aku hanya perlu meletakkan surat ini di laci meja Jihyun kemudian pulang.
“kau tidak pulang?”
Aku terkejut ketika Jihyun sudah berdiri di depan kelas dan berjalan mendekatiku. Kedua tanganku yang masih memegang sepucuk surat itu cepat-cepat kusembunyikan. Sayangnya karena terlalu gugup surat itu lepas dari genggamanku.
Aku segera berdiri untuk mengambil surat itu. Walaupun memang surat itu untuk Jihyun, tapi bukan begini skenario yang aku harapkan. Ini terlalu mendebarkan, aku bisa mati dalam keadaan berdiri.
Jihyun lebih dulu meraih surat itu. Sial! Kenapa pula aku menulis nama Jihyun di sampulnya. Lihat! Jihyun sekarang mengerutkan keningnya sambil sesekali melirik kepadaku. Jihyun tidak mengucapkan apa-apa dan langsung membuka surat itu.

Untuk Jihyun,
Aku beruntung bisa sesekali melihatmu tersenyum. Itu indah, jadi aku harap kau selalu bahagia.  Aku bisa tersenyum seperti orang bodoh setiap mengingatmu, jadi aku yakin sudah benar-benar jatuh cinta padamu.
Scarlet.


Jihyun memang benar-benar manusia batu. Setelah membaca surat itu ekspresinya tidak berubah. Apa ini pertanda cintaku akan gugur sebelum bersemi? Ah, wajahku terasa panas. Dibandingkan malu, aku lebih merasa kecewa. Sepertinya hanya aku sendiri yang mencinta di sini.
“Aku tidak suka orang bodoh.”
Tubuhku menegang mendengar ucapan Jihyun. Penolakan ini terasa semakin jelas.
“Aku juga tidak terbiasa dengan percintaan atau sejenisnya.”
Ah iya, benar juga. Jihyun lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku dan belajar. Jadi Jihyun pasti tidak punya pikiran untuk kencan. Apalagi dengan perempuan bodoh sepertiku.
“Jadi, supaya aku terbiasa bagaimana bagaimana kita mulai dengan kencan? Bagaimana kalau hari minggu ini?”

Selasa, 16 Juni 2020

Letter from Tsundere Baby


Selembar kertas telipat menjadi dua. Warnanya agak kekuningan dan tergeletak di atas meja kerjaku.  Anehnya, aku rasa itu bukan milikku. Aku tidak ingat pernah menulis di kertas kecil itu. Aku meraih dan melebarkannya. Ah, ini tulisan Jiyhun. Kenapa harus menulis surat segala? Padahal dia masih di sini hingga pagi tadi. Dia pikir sekarang tahun berapa? Kenapa dia mendadak kuno sekali?

Untuk nona Scarlet,
Tolong dengarkan aku sesekali, aku tau kepalamu terbuat dari batu tapi tolonglah berhenti makan-makanan manis. Gigimu itu berlubang! Memangnya berapa umurmu sampai sakit gigi hanya karena terlalu banyak makan permen, coklat dan es krim? Setiap gigimu sakit kau selalu memaksaku untuk menginap di apartemenmu. Lagi pula yang sakit itu gigimu kenapa pula tanganku yang harus jadi korban? Kau punya bantal, tetapi kenapa harus tidur di lenganku sepanjang malam? Setiap kali gigimu sakit, tanganku rasanya pegal sepanjang hari.
Kau tau? Kau bertambah gemuk tetapi selalu merengek minta digendong. Yang suka minum susu vanila itu kau, bukan aku. Jadi harusnya tulangmu lebih kuat dari pada pinggangku yang rasanya hampir patah setiap kali kau tiba-tiba lompat minta digendong.
Sejek kencan denganmu uang bulananku selalu selalu menipis walau belum akhir bulan, kau tau betul kemana semua uang itu pergi. Berhentilah makan makanan aneh di sepanjang jalan, atau setidaknya tolong kurangi. Mana bisa pria sepertiku tidak membelikanmu makanan ketika kau merengek di depan penjualnya? Mau ditaruh di mana wajahku? Lagipula, semua makanan itu tidak sehat dan hanya membuat lemak di perutmu bertambah. Harusnya yang datar itu perutmu, bukan dompetku.
Kau yang pendek, kecil, dan merengek setiap tidak dibelikan permen kapas itu menyebalkan sekali, tapi kau yang seperti itu selalu membuatku ingin melindungimu. Kau itu seperti barang ringkih, aku tidak bisa tidak berlaku baik padamu. Jadi, tolonglah jangan terlalu menyiksaku. Kau yang seperti itu selalu membuatku tidak ingin jauh darimu. Rasanya dunia terlalu damai tanpa kehadiranmu. Tidak seru.
Jadi, bagaimana kalau kau menikah denganku?

Aku segera meraih ponselku dan mengirimkan pesan untuk Jihyun
“Tolong lamar aku dengan benar! Atau aku akan bilang ‘Iya’ pada pria lain!”





Terima kasih kepada yang bikin tik tok halunya Jimin: yang marahin pacarnya gara-gara sakit gigi habis makan es krim.  

Minggu, 24 Mei 2020

Eight


Suatu hari, di bawah langit sore yang jingga, kita akan bertemu lagi bukan?
Itu adalah kalimat terakhir dari novel yang baru selesai kubaca. Kalimat itu penuh harap itu membuatku ikut berharap; semoga mereka dapat bertemu lagi.  Entah itu di bawah langit yang jingga, kelam ataupun biru tak berawan. Ada rasa sesak yang kurasakan setelah membaca novel itu, sebab aku sangat mengerti; tidak semua harapan harus terwujud.
Es di dalam minumanku sudah mencair. Susu Vanila itu pasti sudah hambar. Aku larut terlalu lama dalam novel menyebalkan itu. Bisa kusimpulkan bahwa penulisnya adalah manusia yang kejam.
Perhatianku teralihkan oleh dua remaja di meja seberang. Keduanya masih menggenakan seragam sekolah.  Mereka saling berhadapan tetapi lebih banyak diam dibandingkan berbincang. Apa mereka pasangan baru? Apa ini kencan pertama mereka? Aku yakin mereka sepasang kekasih atau paling tidak salah satu di antaranya sedang berusaha merayu. Tatapan malu-malu yang bersemu itu terlalu jelas. Aku ikut menahan senyum melihat mereka.  Aku tidak punya kisah semanis itu saat seusia mereka, jadi anggaplah aku sedikit iri.
Aku bukan siswa yang cerdas ketika sekolah, sehingga aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar. Aku tidak memiliki banyak teman, karena aku tidak pandai berteman. Sejujurnya aku tidak suka belajar, tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku merasa tidak punya masa depan jika aku tidak diterima di perguruan tinggi.  
Aku tidak menonjol di bidang apapun. Aku merasa tidak ada yang spesial dengan diriku ataupun kehidupanku. Aku yakin tidak banyak teman-teman seangkatan yang ingat denganku. Itu bukan masalah. Aku tidak terlalu berharap mereka mengingatku.
Harapanku waktu itu hanyalah diterima di perguruang tinggi. Tetapi suatu hari kudapati diriku memiliki harapan lainnya , dan dari hari ke hari aku semakin tamak dalam berharap.
Aku berharap ia tidak marah padaku ketika aku sering kali tertangkap basah sedang menatap matanya. Itu adalah harapan pertamaku. Awalnya aku hanya tertarik karena mata itu terlihat tajam, dingin dan mengintimidasi. Tetapi aku juga mendapati bahwa tatapan itu sarat akan kesepian. Jika benar ia kesepian, bolehkah aku tau apa yang membuatnya kesepian? Itu adalah harapan keduaku.
Laki-laki itu tidak menghiraukan keberadaanku meskipun kami berada di kelas yang sama. Tetapi itu pula yang dilakukannya kepada semua orang di kelas bahkan seluruh sekolah. Kami berdua semacam alien; tidak berteman, tidak ingin berteman, dan jangan anggap kami sebagai teman.  Aku merasa bahwa kami sama. Mungkin karena itulah aku berharap kami dapat berteman. Itu adalah harapanku yang ketiga.
Dia adalah siswa pindahan dari kota lain. Dia jarang berbicara, tetapi aku pernah mendengarnya berbicara beberapa kali. Dia berbicara dengan dialeg daerah selatan. Karena dia jarang berbicara atau rasa ketertarikanku yang tinggi, aku ingin mengenalnya lebih dalam. Itu harapanku yang keempat.
Aku terbiasa ke perpustakaan kota seusai sekolah. Aku tidak bisa belajar di rumah karena kedua adikku sangat berisik. Perpustakaan kota tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya butuh berjalan kaki sekitar 15 menit. Tepat dua bangunan sebelum perpustakaan kota, berdiri sebuah kedai es krim kecil. Aku sering mampir membeli satu atau dua scoop eskrim vanila sebelum masuk ke perpustakaan.  Dinginnya es krim mampu mencairkan otakku yang beku, setidaknya begitulah menurutku.
Hari itu, setelah aku menerima dua scoop es krim dari penjaga kasir aku tidak sengaja bertemu dengan laki-laki itu. Aku hanya melihatnya sekilas kemudian membuang muka ke arah lain. Aku rasa kami tidak sedekat itu untuk berbincang-bincang atau sekedar basa-basi. Kami bahkan tidak pernah berbicara sebelumnya. Aku memilih tempat duduk di pojok belakang, sedangkan laki-laki itu duduk di pojok depan. Dia menghabiskan es krimnya sambil menatap ke luar jendela. Entah apa yang menarik di luar sana. Aku rasa apa yang sedang dia pikirkan jauh lebih menarik dari pada apa objek yang sedang ditatapnya.  
Aku masih ingin lebih lama di sini, tapi setumpuk tugas di dalam tasku seolah meronta-ronta meminta segera dikerjakan. Sebelum aku berdiri, kutatap laki-laki itu sekali lagi. Bibirnya kecil dan jarang tersenyum. Apa kira-kira yang membuatnya tersenyum? Matanya berkantung dan gelap. Apa dia kurang tidur? Atau dia kesulitan tidur? Aku menghentikan berbagai pertanyaan di dalam kepalaku, kemudian meraih tasku dan berjalan menuju pintu keluar. Aku berjalan dan mengarahkan pandanganku ke arah yang berlawanan dari tempat duduknya. Kontak mata hanya akan membuat suasana semakin canggung.
Setelah meloloskan diri dari pintu kedai, aku menarik nafas panjang. Aku berusaha untuk berhenti memikirkan laki-laki itu dan mulai menyibukkan pikiranku seputar tugas yang harus kukerjakan. Aku melangkah menuju perpustakaan kota.
Aku memilih duduk menghadap jendela dan mulai membuka buku. Suasana perpustakaan yang sepi bertolak belakang dengan pikiranku. Kepalaku masih dipenuhi dengan laki-laki bermata dingin itu. Apa yang dia lakukan setelah keluar dari kedai itu? Apa dia akan mengerjakan tugas juga? Apa dia kesulitan mengerjakan tugas?  Ah, sepertinya dia cukup pintar.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku dan mulai membaca soal-soal di buku. Ah, ini sulit. Aku lebih suka memikirkan laki-laki itu dibanding mengerjakan tugas ini. Tidak, tetaplah waras, kerjakan tugas ini dan masuklah ke perguruan tinggi. Apakah dia juga ingin melanjutkan ke perguruan tinggi? Ah, ada apa denganku. Kenapa semuanya harus jadi berkaitan dengan laki-laki itu.
“Keberatan aku duduk di sini?”
Aku mendongak pada sosok yang berdiri di hadapanku. Wajahnya datar, tatapannya tegas dan dingin. Siapa yang berani bilang tidak padanya.
Aku mengangguk. Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba menghilangkan laki-laki itu dari pikiranku tapi dia malah berada di hadapanku sekarang. Menarik kursi di hadapanku dan mulai membuka buku. Sepertinya aku hari ini aku akan kesulitan mengerjakan tugasku.
Apa yang membuatnya harus duduk di hadapanku? Bukankah tadi kami berpura-pura tidak kenal di kedai es krim? Aku meliriknya sekilas. Tidak ada kemarahan di wajahnya walaupun ekspresinya selalu dingin. Sepertinya dia tidak berniat buruk atau semacamnya kepadaku.
“Ducan. Kita satu kelas. Ingat?”
Dia tak menatapku dan sibuk membolak-balik halaman bukunya.  Aku menjawab “Ya” sambil mengangguk. Padahal Ducan sama sekali tak melirikku.
Akhirnya tercipta sebuah percakapan di antara kami. Walaupun sedikit dan canggung, aku merasa senang. Mungkin kecanggungan akan menjadi awal bagi kamu untuk lebih dekat. Itulah harapanku yang kelima.
“Apa ada yang tidak kau mengerti?”
Ada. Banyak. Aku tidak mengerti sama sekali tentangmu.
Aku tersadar, sejak tadi aku hanya membolak balik halaman buku di pangkuanku. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Ducan sudah meningalkan tempat duduknya. Mataku tak dapat lepas darinya ketika di berjalan mendekat ke arahku. Ia menarik satu kursi di sebalahku.
“Yang mana?” seraya meraih buku di pangkuanku dan meletakkannya di atas meja.
Aku tidak mampu berfikir ketika sepasang iris hijau itu menatapku. Dia tidak tersenyum, tetapi aku merasakan mata yang dingin itu berubah hangat. Dengan jarak sedekat ini aku dapat melihat tahi lalat kecil di pelipisnya serta bekas luka kecil di dekat kelopak matanya. Dia manis dan hangat.
Aku menunjuk nomor soal secara acak. Aku tidak mampu berfikir. Rasanya selama Ducan berada di sekitarku, aku tidak bisa mengerjakan soal manapun. Dia mengambil alih atensiku seluruhnya tanpa menyisakan sedikitpun. Dia mulai menjelaskan cara mengerjakan soal yang tadi kutunjuk. Aku tidak paham sedikitpun tentang apa yang dia katakan. Aku menikmati suaranya yang berat. Sesekali ia menoleh ke arahku, memastikan bahwa aku tidak kebingungan. Aku hanya mengangguk-angguk tanpa paham sedikitpun. Aku berharap waktu berhenti atau setidaknya berjalan lebih lambat. Itulah harapan keenamku.
Ducan menatap jauh ke luar jendela saat kami baru saja menyelesaikan soal ke delapan. Langit sudah seutuhnya berubah kelam. Waktu tidak berhenti ataupun berjalan lambat. Aku terlalu menikmati dan mulai tamak.
Kami mengemasi buku-buku di atas meja untuk bersiap pulang. Tentu saja aku mengemasi barang-barangku dengan berat hati. Ducan memintaku meminjamkannya salah satu buku catatanku. Aku memberikannya dan mengemasi barangku yang lainnya. Aku kira dia akan meminjamnya hingga besok, tetapi hanya selang beberapa menit dia mengembalikan catatanku. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Kami memang tidak banyak berbicara, tetapi hari ini aku senang bisa mendengar Ducan berbicara lebih banyak. Dan semua yang dia ucapkan itu, untukku.
Aku dan Ducan berjalan pulang bersama. Di tengah perjalanan kami, kuketahui bahwa rumahnya berlawanan dengan rumahku, tetapi dia tetap bersikeras untuk mengantarku. Tidak, dia tidak bersikeras. Dia hanya mengatakan ‘tidak masalah’ dengan tatapan dingin. Aku tidak berani menolak dan sejujurnya hatiku bersorak karena bisa sedikit lebih lama bersama Ducan.
Kami berjalan berdampingan dan tak banyak bicara. Sesekali aku menunduk atau mengarahkan wajahku menjauh dari Ducan dan tersenyum. Wajah manis di bawah remang lampu jalan ini tidak mungkin akan ku lupakan. Aku menjadi sedikit lebih tamak dan berharap ini akan terulang. Itu adalah harapan keketujuhku.
Hari-hari setelah itu aku sama sekali tidak melihat Ducan. Dia menghilang. Sayup-sayup kudengar dari bangku belakangku bahwa Ducan mengalami kecelakaan satu hari setelah kami bertemu. Seorang pengendara mabuk menabraknya hingga nyaris tewas. Pengemudi itu tewas di tempat. Ducan dibawa ke rumah sakit yang lebih besar di kota lain. Setelah itu Ducan tidak pernah kembali dan orang-orang tidak membicarakannya lagi.
Dibandingkan khawatir aku lebih merasakan kehilangan. Aku selalu membawa buku catatanku ke manapun. Itu adalah buku catatan yang pernah dipinjam Ducan selama beberapa menit di perpustakaan. Aku yakin beberapa menit itu digunakannya untuk menyelipkan secarik kertas di antara halamannya. Aku melihat tulisan di secarik kertas itu sehari setelah pertemuan terakhir kami. Ducan meninggalkan sebuah pesan untukku.
Kau manis. Kuharap kau selalu bahagia.  
Singkat dan lugas, aku yakin itu Ducan. Kuanggap itu sebagai surat cinta. Orang-orang bilang cinta pertama tidak pernah berhasil. Aku tidak peduli. Aku ingin bertemu sekali lagi dengan Ducan suatu hari nanti. Itu adalah harapanku yang kedelapan.

Sepasang kekasih di depanku sudah mengalami kemajuan. Mereka mulai tertawa bersama dan sesekali si laki-laki mengacak-acak rambut kekasihnya dengan gemas. Aku yang tidak ingin semakin iri dengan pasangan muda itu beranjak dari tempat dudukku.
Pada dasarnya manusia itu tamak. Mereka mengharapkan banyak hal bahkan hingga tak jarang mereka lupa dengan apa yang mereka harapkan. Harapan adalah salah satu yang membuat manusia menjadi hidup. Harapan bisa jadi terwujud ataupun tidak. Tetapi terlepas dari itu semua, kebahagiaan manusia ada di tangan mereka sendiri. Ingin berlarut dalam kekecewaan atau melanjutkan dan memulai harapan baru.  
Langkahku terhenti ketika seorang bocah kecil tersandung di hadapanku. Kulihat lututnya merah dan sedikit berdarah. Dia menangis melihat darahnya yang tak seberapa. Aku segera meraih bocah itu dan menggendongnya.
“Ayah!” bocah itu meraung  sambil memanggil ayahnya. Kudegar langkah kaki yang semakin dekat denganku. Aku berbalik dan anak itu langsung mengulurkan tangannya kepada pria di depanku. Dengan sigap pria itu meraih bocah kecilnya.
Anak itu sudah berada di gendongan ayahnya dan tangisnya mulai mereda. Aku memperhatikan lekat-lekat wajah pria di hadapanku ketika ia hendak mengucapkan terima kasih.
Iris hijau itu terlihat hangat saat ini. Tahi lalat di pelipis, bekas luka di kelopak mata, dan ada beberapa bekas di bagian lain. Tetapi aku yakin, dia pria yang meninggalkan secarik kertas di buku catatanku.
Aku mendapati dia menunjukkan wajah sama terkejutnya denganku. Aku yakin dia mengenaliku. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama, tapi aku yakin dia masih mengenaliku.
“Mama!” Aku sedikit kaget dengan gadis kecil yang tiba-tiba memeluk pinggangku dari belakang. Tubuh kecilnya membuatku sedikit menunduk, kemudian kuacak surainya dengan gemas. Aku menoleh ke belakang kemudian tersenyum pada William, suamiku.  
Kualihkan kembali atensiku pada Ducan. Kami berdua tersenyum. Hari ini, di bawah langit jingga kami bertemu kembali. Aku lega, bahwa kami berdua bahagia.



Terima kasih kepada IU dan Suga atas lagu Eightnya, serta lagu Haruman (Just One Day)-BTS. 

Senin, 18 Mei 2020

Perjalanan Satu Scoop Es Krim


“Kepada para pemenang silahkan naik ke atas panggung”
Aku hanya duduk di kursiku. Nama timku tidak disebutkan. Aku sudah menduga, dan aku sudah menyiapkan diriku. Kenapa dadaku tetap terasa nyeri?
Aku mencoba menjaga ekspresiku dan bertepuk tangan, sama seperti orang-orang di sekitarku. Ini bukan kekalahan pertamaku. Aku bahkan tak pernah memenangkan apapun. Kenapa aku tetap tidak terbiasa. Apa aku kurang keras pada diriku sendiri? Atau memang aku tidak berbakat?
Teman-temanku setidaknya memiliki suatu keahlian. Awalnya aku kira aku juga begitu. Aku hanya perlu melihat diriku sendiri dan menemukan apa keahlianku. Semakin kudalami ternyata aku malah tersesat. Aku tidak tau harus berjalan ke arah mana. Berjalan ke arah manapun tidak menjanjikan kepastian yang aku inginkan.
Ah, lihat itu. Betapa sumringah senyum seorang pemenang. Setidaknya aku ingin sekali saja memegang sebuah tropi kemenangan. Aku terlalu sering mengalami kekalahan hingga rasanya aku benar-benar malu. Aku malu pada diriku yang tidak mampu tetapi selalu keras kepala untuk mencoba. Apa aku terlalu tidak tau diri?
Sewaktu kecil aku ingin sekali menjadi penari balet. Aku tinggal di daerah terpencil. Tidak ada kursus balet di sana. Aku melampiaskannya dengan berlatih senam lantai. Aku tau dua hal itu berbeda. Aku hanya merasa bahagia setiap melakukannya. Seiring berjalannya waktu, aku bosan dan berhenti melakukannya.
Saat remaja aku mulai tertarik dengan piano. Di kota itu, tak ada seorang pun yang memiliki piano. Aku mendapatkan sebuah keyboard bekas keluaran lama, tetapi aku tetap menyebutnya piano. Bagiku mereka sama saja. Toh aku tidak pernah melihat bagaimana bentuk piano sungguhan, jadi aku tidak bisa membandingkan mereka.  
Aku berlatih hampir setiap hari. Rasanya menyenangkan sekali ketika memainkan sebuah lagu yang kusuka. Aku melupakan hari-hari berat yang kulalui di sekolah. Tidak memiliki teman itu cukup berat buatku, meskipun itu sudah terjadi dari dulu.   
Ibu dan ayah jarang memujiku terang-terangan, tetapi nampaknya mereka cukup bangga padaku. Aku mulai mendapat pujian dari beberapa orang, itu membuatku semangat untuk terus berlatih. Suatu waktu aku mendapatkan diriku tidak memiliki perkembangan. Rasanya permainanku tidak sebagus seorang teman yang kukenal. Aku berusaha untuk tidak berkecil hati dan tetap berlatih.
Suatu hari aku mampu membuat lagu pertamaku. Aku sangat bangga. Ibu bahkan menyimpan rekaman lagu itu hingga sekarang. Aku senang sekali. Aku berlatih membuat beberapa lagu setelah itu.
Kurasa, lagu-lagu yang kutulis tidak cukup bagus. Mereka terdengar terlalu biasa bagiku, tidak ada yang menarik. Aku tidak puas. Aku mulai berkecil hati, dan lama kelamaan semakin jarang menulis lagu.
Aku sibuk belajar saat kusadari nilai-nilaiku tidak sebagus teman-teman yang lain. Meskipun aku belajar dengan giat, aku tidak menjadi siswa terbaik di kelas. Aku tak masalah dengan itu, setidaknya teman-teman dan guruku menganggapku siswa yang cerdas. Aku senang dianggap demikian. Itu artinya kecerdasanku diakui.
Aku tidak suka belajar, tetapi aku tetap memaksakan diri. Aku harus tetap menjadi si cerdas yang diakui. Itu sulit. Semakin lama aku semakin terpuruk, sebab perlahan-lahan aku tertinggal. Siswa lain berada di depanku. Merekalah yang memegang predikat ‘si cerdas yang diakui’ sekarang.
Aku memutar otak. Apa yang harus aku lakukan agar aku diakui? Aku mulai berfikir, mungkin saja aku memang tidak terlalu baik di bidang akademik. Aku mulai menggeluti bidang lainnya. Aku mendaftarkan diri pada lomba menulis puisi. Aku kalah. Aku sedih, tentu saja. Mungkin itu sebuah permulaan, jadi aku tidak terlalu merasa itu sebuah masalah. Aku mulai mendaftarkan diri di berbagai kompetisi. Tak satu pun dapat kumenangkan.
Hari ini aku kembali merasakan kekalahan. Aku menoleh ke kiri kananku, raut wajah teman satu band-ku sama kecewanya denganku. Aku hampir menangis, tetapi kutahan sekuat tenaga. Aku tidak ingin terlihat lebih menyedihkan lagi.
Aku berpisah dengan teman-temanku dan memutuskan untuk pulang sendiri. Aku merasa tidak dapat melakukan apa-apa, dengan kata lain aku adalah ‘si tidak berguna’. Aku tidak cukup baik memainkan pianoku, aku tidak cukup pandai menulis lagu, aku tidak  mahir menulis karya sastra, aku tidak si cerdas di sekolah,  sekalipun aku menyukai musik aku tidak punya musikalitas yang baik, dan aku tidak mungkin menjadi seorang balerina. Aku, si tidak berguna yang menyedihkan.
“hei jelek!”
Aku menoleh. Ah benar. Satu lagi, aku juga jelek.
“kau kalah lagi?”
Aku tidak menjawab. Kurasa wajahku sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya. Wajahku ini adalah wajah pecundang.
“Aku yakin satu scoop es krim vanila tidak cukup untuk seorang pekerja keras sepertimu.”
Laki-laki itu meraih tanganku.
“tapi aku tidak punya cukup uang untuk membelikanmu hal lainnya”
Aku mulai berjalan mengikutinya, tanganku masih dalam genggamannya.
Pekerja keras ya? Apa benar aku sudah berusaha sekeras itu? Nyatanya yang kutemui hanyalah kegagalan.
“Kau tau? Ada hal-hal yang harus kita pelajari sumur hidup.”
“maksudmu aku akan berhasil setelah aku mati?”
“ah bukan” laki-laki itu berbalik kemudian mengacak-acak rambutku. “kurasa kau memang tidak cukup pintar.”
Memang, batinku.  Ia kembali menyeretku.
“Jangan terlalu memaksakan diri. Lakukan saja hal yang sungguh-sungguh kau sukai. Kau mungkin kebingungan tentang apa yang sebenarnya kau sukai sekarang. Tapi itu bukan masalah, kau masih punya waktu. Jangan terburu-buru. Oh! Dan satu lagi. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Kau sering sekali melakukan itu!”
Aku menatap bahu tinggi di hadapanku. Laki-laki ini cukup jarang berbicara serius denganku. Tapi aku tidak yakin dia memahami perasaanku sekarang.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, aku pun ikut berhenti. Ia berbalik dan kami saling bertatapan.
“Kau tidak semenyedihakan itu.”
Bagaimana dia tau pikiranku? Cenayang? Atau dia hanya berusaha menghiburku, meski dia sudah tau betapa menyedihkannya diriku.
“Berhentilah menganggap dirimu menyedihkan. Memang apa untungnya jika kau terus menganggap dirimu seperti itu?”
Aku tidak menjawabnya. Apa yang dikatakannya benar. Meskipun aku juga tidak pantas menganggap diriku hebat.
“Kau tidak perlu membuktikan apapun pada orang lain. Berhentilah menyiksa diri sendiri dan berbahagialah. Lakukanlah hal-hal yang kau sukai, jadi mulai sekarang kau hanya harus fokus mencari hal yang kau suka dan pelajari itu. Mengerti?”
Aku ragu, apakah hal yang kusukai akan sekaligus menjadi hal yang aku kuasai. Aku terlalu sering gagal hingga segan berpikir untuk sebuah keberhasilan. Rasanya terlalu sombong.
“Apa aku bisa?”
“entahlah.” Pria itu mengankat bahunya sekilas. “tetapi melihat kau adalah seorang pekerja keras, aku rasa kau bisa. Kau punya waktu seumur hidup untuk mempelajarinya. Selama kita hidup, kita memang harus terus berusaha.”
Aku mulai memikirkan perkataannya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah selama ini aku sudah melakukakn hal-hal yang sungguh aku sukai, atau aku hanya terjebak dalam pembuktian agar diakui. Apa yang benar-benar aku sukai?
“ngomong-ngomong, kau memenangkan sesuatu hari ini.”
Aku menatapnya dengan wajah tak mengerti.
“Hatiku” jawabnya singkat dan samar, kemudian mengalihkan pandangannya ke tembok tinggi di samping kami. Tidak ada apa-apa di sana. Aku bisa melihat telinganya berubah merah.
“karena kau memenangkan hatiku, sebagai hadiah aku akan menjadi kekasihmu dan anggaplah ini sebagai kencan pertama. Bagaimana?”
Aku menahan senyum. Aku bahkan tidak mendaftarkan diri, bagaimana bisa aku menang? Mungkin karena sejak awal hidup ini bukanlah kompetisi. Sekalipun, manusia selalu berusaha untuk menjadi pemenang.







“Aku rasa kegelisahan dan kesepian itu ada bersamamu sepanjang hidupmu. Aku memberikan makna yang dalam dan pemikiran tentang bagaimana menemukan jalan untuk melewatinya, tapi itu adalah sesuatu yang perlu kita pelajari selamanya,”-Suga (m.dreamers.id)


Minggu, 26 April 2020

Vanilla Cookies 1 (Teh Tanpa Gula)


Semalaman Scarlet terjaga. Efek kafein, esai dan mungkin juga Kim Taehyung. Pria itu mengucapkan “Sampai jumpai jumpa lagi” di akhir percakapan. Entah pria itu benar-benar ingin bertemu kembali atau sekedar basa-basi. Scarlet tidak berharap akan bertemu dengan Taehyung lagi. Sekalipun mereka bertemu, Scarlet harap Taehyung tidak mengungkit-ngungkit masa lalu mereka. Atau mungkin lebih baik Taehyung menganggapnya sebagai orang asing saja. Ah, bukankah sesungguhnya mereka layak disebut dua orang asing?
Bertemu dengan Kim Taehyung dewasa membuatnya kembali mengingat Kim Taehyung lugu yang sangat belia. Dunianya yang runtuh dan meninggalkan rasa pahit seolah terlupakan ketika Tehyung remaja bersamanya. Taehyung pernah menjadi gula dalam kopi kehidupannya.
Scarlet tidak menyukai kopi, tetapi tetap meminumnya di saat-saat tertentu. Kadang rasa bukan menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. Seperti meminum obat. Pahit bukan masalah ketika keinginan untuk sembuh lebih besar dibanding rasa pahit itu sendiri.
Tiga menit lalu, secangkir teh di hadapan gadis pirang itu masih menghasilkan asap tipis. Tidak ada keinginan untuk meniup teh hangat itu. Tidak ada alasan untuk segera menyesap teh tanpa gula tersebut. Teh tawar bukanlah kesukaan Scarlet. Ia hanya tidak ingin mengonsumsi gula berlebih. Semua kue di kedai ini manis dan Scarlet tidak punya pilihan lain sebab ia belum mengisi perutnya dengan apapun sejak pagi. Terimakasih kepada esai sialan itu.
“Scarlet!”
Scarlet tak lagi menatap cangkir teh di hadapannya dan menoleh pada sosok yang memanggilnya. Terkejut, tetapi sebisa mungkin ia bersikap tenang.  Menutup-nutupi, itu keahlian Scarlet. Ya, bertemu Kim Taehyung lagi tidak ada di rencana hidupnya.
Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis, sebagai balasan kepada lelaki di hadapannya.
“Kau sendiri? Boleh aku duduk di sini?” kursi di depan Scarlet yang Kim Taehyung maksud. Scarlet mengangguk, belum menemukan ide untuk kabur dari Kim Taehyung. Setidaknya dia harus kabur dengan cara yang elegan, atau natural setidaknya.
“Ini kedai langgananmu?”
Scarlet menggeleng. “Hanya sesekali, karena kampusku di seberang sana”
Pria itu mengangguk sambil melemparkan pandangan ke seberang jalan. Padahal Taehyung sudah melihat bangunan kampus itu sebelum tiba di kedai ini.
“Penginapanku di sekitar sini” ujar Taehyung, takut jika dirinya dituduh stalker atau sejenisnya. “aku hanya ingin jalan-jalan dan tidak sengaja melihatmu.”
Scarlet mengangguk dengan  masih menyunggingkan senyum tipis, kemudian keduanya hening. Tidak tau bagaimana cara memulai sebuah konversasi. Apa layak jika Taehyung memperlakukannya sebagai teman lama mengingat mereka tidak berakhir dengan baik-baik saja. Tetapi bertingkah sebagai orang asing pun rasanya tak pantas. Gadis ini pernah singgah dan membahagiakannya.
“Aku tau ini terasa canggung” Taehyung mengulum bibir bawahnya sedangkan Scarlet hanya menatap lantai, walau tak ada apapun di sana.
“Aku rasa, aku paham mengapa kau pergi waktu itu” sambung Kim Taehyung.

*

Makin hari Scarlet makin menganggap dongeng-dongeng yang ia dengar dulu hanyalah bualan. Tentang setiap pangeran dan putri yang selalu bersama dan berbahagia selamanya. Mereka hanya perlu melawan beberapa orang jahat kemudian berbahagia.
Scarlet tak tau apa yang harus ia lawan agar ia mampu bahagia. Waktu itu Scarlet kecil tidak begitu paham apa yang terjadi. Ayah dan ibunya jarang bicara berdua, tetapi tak ada juga suara; piring yang dibanting, umpatan yang memekakkan telinga, ataupun suara jeritan tangis. Sang ayah hanya mengecup Scarlet, begitu juga dengan ibunya. Dua orang itu, entah sejak kapan tak saling memberi kecupan atau pelukan. Scarlet tidak menyadari apapun pada awalnya.
Suatu malam, sepasang mata kecil Scarlet perlahan-lahan terbuka. Kesadarannya perlahan-lahan terkumpul, kemudian dengan langkah terseok-seok hampir tersandung berjalan ke kamar mandi. Gadis dua belas tahun itu merasa terlalu tua untuk ngompol di kasur.
Samar-samar Scarlet mendengar suara sesegukan. Awalnya Scarlet agak ngeri mendengar suara tangisan di malam hari, tetapi sebuah suara lain yang ia kenal masuk ke dalam rungunya. Terdengar samar, tetapi Scarlet yakin jika pemilik suara itu adalah ayahnya. Scarlet agak tenang karena ternyata ayahnya belum terlelap. Jika tangisan itu suara makhluk yang bukan manusia, Scarlet hanya perlu berteriak maka ayah pasti akan menyelamatkannya. Selalu begitu, ayah akan menyelamatkannya dari apapun; teman-temannya yang jahat di sekolah, anjing kakek Tom yang suka mengejar orang, ataupun bunga tidur yang membuat putri kecilnya ketakutan.
Scarlet berjalan mendekati pintu tinggi di hadapannya. Kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya. Awalnya Scarlet ingin langsung membuka pintu itu ketika ia yakin suara tangisan tadi adalah milik ibunya.
“Bagaimana dengan Scarlet?”
Scarlet mengurungkan niatnya untuk menarik gagang pintu yang hampir diraihnya. Scarlet tidak salah dengar. Ia yakin namanya disebut.
“Aku, sampai kapanpun adalah ayahnya. Tidak akan berubah.”
Walaupun samar, tetapi gadis itu yakin ayahnya mengucapkan kalimat itu dengan mantap.
Isakan ibunya belum berhenti. Susah payah wanita itu berusaha untuk kembali bicara.
“Bagaimana denganku?” ia mencoba mengendalikan tangisnya, berusaha agar pria di hadapannya dapat mendengar ucapannya dengan jelas. “Aku mencintaimu”
Scarlet hanya mendengar suara sesegukan ibunya selama beberapa saat. Scarlet masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Apa saja yang sudah ia lewatkan selama tertidur tadi?
“Maaf” Scarlet kembali menaruh atensinya, menunggu apa yang selanjutnya akan ia dengar.
“karna pada akhirnya hanya tersisa kau yang mencintaiku, tanpa aku yang mampu mencintaimu lagi.”
Mungkin sejak saat itu Scarlet mulai menyangsikan seluruh kisah cinta abadi yang ia dengar, sebab; bahkan dalam mencintai pun seseorang bisa menyerah.


Sabtu, 11 April 2020

Vanilla Cookies


Scarlet buru-buru melangkahkan kakinya menuju rumah. Angin malam menerobos kerah mantelnya. Dingin dan sedikit menusuk. Ditengah langkahnya yang terburu-buru, Scarlet pikir ada baiknya dia mampir ke toko terdekat untuk membeli kopi kalengan. Scarlet tidak yakin dapat terjaga dalam waktu lama jika sudah melihat kasur. Terlalu menggoda.

Gadis berbadan mungil itu harus menahan kelopak mata untuk terus terjaga. Ada Essai yang harus ia kumpulkan besok pagi. Scarlet sudah pasti akan membuat Essai tersebut asal-asalan agar ia bisa segera tidur. Tidak peduli akan seperti apa hasilnya. Persetan dengan nilai.

Scarlet memutuskan masuk ke swalayan di dekat perempatan jalan. Tidak banyak orang di dalam mengingat sekarang sudah cukup larut. Rungunya dapat mendengar langkah kakikanya dan sepasang langkah kaki dari rak di sebelahnya. Sambil menimbang-nimbang kopi mana yang akan ia bawa ke kasir. Ia menunduk, mengarahkan jari terunjukkan untuk membaca berbagai rasa yang tertera pada kaleng kemasan. Scarlet tidak begitu paham soal kopi, hingga akhirnya ia hanya menjatuhkan pilihan pada kemasan yang paling menarik.

Setelah mengambil sekaleng kopi Scarlet menegakkan badannya dan segera menuju kasir, tetapi tak jauh dari tempatnya berdiri ada sosok tinggi yang menyita perhatiannya. Dari wajahnya jelas sekali pria itu keturunan Asia, matanya sipit dan kulitnya pucat. Scarlett tertegun, pria ini mengingatkannya akan kenangan manis dan pahit yang bercampur menjadi satu. Seperti meminum kopi hitam. Sekalipun sudah dicampurkan dengan gula rasanya akan tetap pahit. Tetapi tetap saja, kehadiran gula itu tidak bisa diabaikan bukan?
Pria yang merasa diperhatikan itu menoleh. Kedua irisnya bertemu dengan milik Scarlet. Seketika itu Scarlet yakin sekali, pria ini pasti ‘dia’.

Keduanya terkejut, kemudian menjadi kikuk. Tetapi beberapa detik kemudian pria itu memulai konversasi.
“Scarlet?” pria memastikan. Sekalipun ia benar-benar yakin sosok di hadapannya adalah gadis yang ia kenal 5 tahun lalu. Tidak ada yang berubah, wajahnya masih sepucat yang Taehyung ingat. Begitupula dengan rambut pirangnya yang bergelombang dan sedikit berantakan. Ah, gadis itu sudah menggunakan pewarna bibir sekarang, itu saja perbedaannya.

Scarlett tersenyum canggung. Bertemu lagi dengan Kim Taehyung tidak ada dalam rencana hidupnya. Baik kemarin, hari ini, besok ataupun selamanya. Ini sebuah kebetulan yang tak disangka-sangka. Susah payah ia melupakan Kim Taehyung, cinta pertamanya yang harus berakhir konyol. Tidak, Scarlet saja yang konyol. Sedangkan Kim Taehyung tidak seberapa konyol dibanding dirinya.

Kim Taehyung mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Scarlet hanya diam dan menahan senyum canggungnya yang kelewat kaku. Kim Taehyung terlihat lebih santai, bahkan terkesan hangat seperti bertemu teman lama. Sesuatu yang tak Scarlet sangka juga, mengingat bagaimana hubungan mereka berakhir dengan tidak baik. Bukan, tidak wajar lebih tepatnya.

“Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Sudah lama sekali ya”
Ah, kalimat itu membuat Scarlet ingin segera dienyahkan dari permukaan bumi. Itu artinya,Taehyung masih mengingat bagaimana mereka berpisah. Harusnya pria itu lupa saja, atau pura-pura tidak kenal malah jauh lebih baik.

Scarlet mengangguk. “Aku juga tidak menyangka” hanya itu yang dapat ia ucapkan. Itupun terdengar lirih karena diucapkan dengan susah payah. Scarlet tidak tau harus berujar apa.
Scarlet memutar otaknya agar suasana tidak bertambah canggung.

“Apa yang membawamu kemari?” Scarlet berhasil memeras isi kepalanya. Apa yang membuat Kim Taehyung meninggalkan negara asalnya dan sekarang malah berada dalam swalayan kecil di kota Rouscar,

Taehyung menjawab dengan santai “Aku ingin membuka distro di kawasan ini. Aku baru sampai beberapa hari di sini untuk survei lokasi. Ternyata benar, Rouscar kota yang nyaman.”

Scarlet mengangguk. Dilihat-lihat Kim Taehyung yang saat ini di depannya terlihat lebih stylish dari pada yang ia ingat dulu. Pun terlihat lebih manis dan dewasa.

Scarlet mengenal Taehyung terlalu singkat. Ia bahkan tak tau jika Taehyung tertarik dengan dunia fashion. Begitu juga sebaliknya, Taehyung mengenal Scatlet hanya dari apa yang dilihatnya tanpa sempat masuk dan menyelami pemikiran rumit si gadis pirang.

Mereka menjadi dua orang asing sekarang. Atau mungkin sejak dulu mereka tidak pernah lebih dari sekedar dua orang asing. Hanya saja, dulu keduanya malu-malu saling mengaggumi, saling mempercayai bahwa diantara mereka ada cinta, dan pertemuan mereka adalah takdir.



Bersambung