Senin, 19 April 2021

Loneliest

Warning! 21+ karena mengandung unsur sensitif seperti bunuh diri (suicide). Mohon pembaca bijak dalam memaknai tulisan ini. Tulisan ini tidak mengajak siapapun untuk bertindak ekstrim dan sejenisnya. Jika mengalami ‘kesulitan’, tolong segera mencari bantuan atau berbicaralah dengan saya. 

 

 

 

Aku mengenalnmu sebagai gadis yang mirip dengan kuncup bunga. Aku beberapa kali melihatmu mendongak ke langit dan tersenyum pada matahari. Aku rasa aku mulai mencintainya di musim panas, saat matahari bersinar lebih cerah dibanding musim lainnya. Jauh sebelum bertemu denganmu, aku sudah menyukai musim panas. Aku sangat suka es serut di musim panas, dan kau.

Aku tidak tau bunga apa yang cocok untuk menggambarkanmu, bunga matahari terlalu cerah dan bunga mawar terlalu dewasa untuk kita. Kau tersenyum pada siapapun tetapi hampir tidak tertawa terhadap apapun. Orang-orang segan kepada kepribadianmu yang dewasa, tapi itu membuatku bertanya-tanya ‘itukah kau yang sebenarnya?’

Aku muda dan berapi-api. Kau adalah angin musim panas yang membuatku semakin berkobar. Setelah tekadku bulat, aku menyapamu. Kau tersenyum dan aku tidak merasa terkesan, sebab itulah yang kau lakukan pada semua orang. Jika aku kecewa padamu dan menyerah, aku adalah pecundang. Jadi, setelah beberapa minggu menjadi tiba-tiba akrab denganmu, kita duduk berhadapan di kedai es serut di seberang sekolah. Aku tidak bilang apapun tentang perasaanku padamu, tapi aku tau pasti bahwa itu hanyalah cinta sepihak.

Saat hari demi hari berlalu begitu saja, dan musim gugur tiba. Matahari tak seterik musim kemarin. Aku menjadi sedikit lebih mengenalmu: mata sayumu bukan karena kau sipit. Kau pandai membuat orang tidak tertarik padamu, hingga tidak ada orang yang mengenalmu dengan baik. Jika aku tidak melihatmu tersenyum di musim panas apakah kau akan lebih kesepian dari sekarang?

Menurutmu, semua orang bebas untuk menyimpan rahasia mereka masing-masing. Memaksa seseorang untuk berbicara mirip dengan pencuri yang mengancam korbannya. Jadi, aku hanya mengamatimu dengan penuh tanda tanya tanpa berani mengungkapkannya.

Hari-hari di sekolah tak tersisa banyak, kelulusan akan segera tiba. Hari itu, aku ingin sedikit lebih lama berbincang denganmu.

“Kau teman yang baik. Aku yakin kau sangat menyayangiku, dan aku tidak perlu bukti apapun. Aku hanya percaya kau menyayangiku. Aku sungguh berterima kasih atas itu. Kau yang terbaik.”

Kau tersenyum seolah-olah itu adalah musim panas.

“Aku sudah siap jika harus mati sekarang, aku sudah bahagia punya teman yang sangat baik sepertimu.”

“Harusnya kau berharap hidup panjang agar terus bersamaku.”

“Tidakkah itu terlalu tamak? Lagi pula, mati hanyalah kehilangan nyawa.

Sesuai dengan wasiat yang kau tulis di atas selembar kertas, kau tidak ingin memiliki makam agar tak seorang pun bisa mengunjungi makammu. Orang-orang pasti berpikir, sampai mati kau terus kesepian. Kau memaksa orang-orang untuk segera melupakanmu, tetapi itu tidak akan berhasil padaku.

Aku masih sering memikirkanmu. Dibandingkan larut dalam pikiran ‘kenapa kau memutuskan untuk menghilangkan nyawa’, aku lebih memilih untuk terus mencintaimu. Aku melanjutkan hidup dan menyimpanmu  diam-diam dalam hatiku.

 

 

Selasa, 16 Februari 2021

Kita bukan orang yang seperti itu

 

Ini adalah tanggal sembilan yang kesekian kalinya. Belakangan aku tak banyak tersenyum ataupun menangis. Aku tak melakukan banyak hal. Sejujurnya aku hampir tak melakukan apapun. Dokter yang kukunjungi setiap bulan menyarankan untuk menambah dosis antidepresanku, tetapi aku menolak. Setelah keluar dari ruanganya aku mulai berpikir; mungkin ada perubahan baik jika aku sedikit lebih menurut pada dokter itu.

Aku tidak suka hujan saat perutku lapar. Bukannya aku membenci hujan, sejujurnya aku suka berjalan di bawah gerimis. Aku hanya orang yang seperti itu. Aku sering kali marah dan jengkel tapi sulit untuk membenci. Kurasa, ada banyak orang seperti aku.

Ada banyak orang yang saling bergandengan tangan sebagai bentuk cinta, tetapi tidak semua tangan yang saling menggenggam adalah cinta. Ada banyak orang yang berpelukan setelah lama tak bertemu, tetapi tidak semua pelukan adalah penawar rindu.

Aku banyak bicara pada sebagian orang dan cenderung pendiam pada sebagian lainnya. Aku tidak pandai berbohong tapi juga tidak handal mengutarakan kejujuran. Aku tidak pernah mengungkapkan betapa bahagianya aku ketika kau menelpon setiap bulan di tanggal sembilan. Aku tau kau khawatir, dan aku senang kau khawatir.

Orang-orang mengungkapkan cinta lewat surat, bunga dan cincin, tetapi kau tidak begitu. Kau lupa kapan hari jadi kita, dan sebenarnya aku juga tidak terlalu peduli. Tanggal sembilan bukanlah hari jadi kami. Kurasa itu tanggal sepuluh atau dua belas, aku hanya yakin itu di bulan Mei.

  Malam hari di tanggal sembilan selalu terasa hangat meski di musim gugur. Kau berpura-pura tenang dan menahan diri untuk tidak bertanya berbagai hal setiap kali kita bertemu di depan rumah sakit. Aku tau kau lebih mengutamakan kenyamananku dibandingkan rasa khawatir dan ingin tahumu. Kau seolah-olah senggang di malam hari setiap tanggal sembilan, walau aku tau kau sebenarnya diam-diam membatalkan beberapa rencanamu.

Aku yang berpura-pura marah dan mengomel untuk menutupi rasa khawatirku setiap kau sakit, dan kau yang selalu membawakan kue kesukaanku dengan alasan ‘kebetulan lewat’ adalah bentuk cinta. Aku tau aku dicintai olehmu, dan aku yakin kau juga begitu. Kita tidak begitu pandai mengatakan betapa kita saling mencintai, sebab kita hanya bukan orang yang seperti itu.

 

 

 

 

 

Mungkin ini nggak menyentuh hati kalian, tapi cobalah lebih teliti untuk menemukan cinta di sekitar kita.

Rabu, 30 Desember 2020

Alien Kecil dan Tuan Hantu 2

 

Beberapa hari lalu, alien kecil melihat segerombolan bocah merundung seorang anak laki-laki kurus yang pucat. Tempurung lututnya yang menonjol mendarat di atas aspal kasar. Sepasang telapak tangan mungilnya mengelupas. Ada pasir diantara lukanya yang menganga. Segerombolan bicah tengil tadi menatap korbannya dengan angkuh.

Tidak ada kendaraan yang melintas ketika bocah kurus itu jatuh ke jalan, tapi itu bukanlah sebuah keberuntungan karena berarti tak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Lebam yang kemarin bahkan belum serupa dengan warna kulit. Ada koreng minggu lalu yang masih belum mengelupas.

Sebuah pekikan keras mengagetkan segerombolan bocah tersebut. Suara sepasang langkah kaki terburu-buru semakin terdengar. Seorang penolong berlari menuju bocah kurus yang masih terduduk di pinggir jalan. Bocah-bocah angkuh tadi buru-buru lari, entah ke mana perginya tatapan angkuh mereka beberapa detik lalu. Perempuan paruh baya yang sudah memeluk bocah kurus itu berteriak “Awas kalian!”.

Bocah kurus itu menangis, demikian pula wanita yang memeluknya. Melihat kejadian yang tidak pernah terjadi di planetnya, alien kecil bertanya

“Tuan hantu, aku tau kenapa bocah itu menangis. Luka di lutut dan tangannya terlihat cukup parah, tapi kenapa si wanita menangis tak kalah hebat?”

“Wanita itu juga terluka” jawab tuan hantu singkat.

“Tapi aku tidak melihat luka apapun”

“Hatinya yang terluka.”

 

 

 

 

Rabu, 23 Desember 2020

2123122020

 

Dulu aku terbang, sebelum sayapku patah. Aku menangis tapi mereka bilang, “kau punya kaki, berjalanlah.”

Aku berjalan. Telapakku yang tak pernah bergesekan dengan tanah berbatu mulai melepuh dan perih. Aku ingin kembali terbang. Jika aku bisa kembali terbang, aku yakin aku bahagia.

Seiring berjalannya waktu, telapak kakiku mulai keras, tebal dan kaku. Aku sudah tidak merasa sesakit dulu, tetapi masih selalu membayangkan bagaimana jika sekarang sayapku tak patah.

Di jalan berbatu yang terjal aku tergelincir. Kakiku patah. Mereka bilang itu karena aku tidak hati-hati. Tidak ada yang akan mengangkatku karena tidak ada orang yang sanggup. Aku tidak menyelahkan mereka. Aku seperti mereka, ikut menyalahkan diriku. Selain kaki, hatiku pun menjadi nyeri.

Aku sedih dan ketakutan berlarut-larut, aku ingin bahagia.

Apa aku sedang tidak ingin hidup lama-lama?

“Kau tak perlu memaksakan diri untuk mendaki. Ayo tinggal di pinggir sungai terdekat. Aku akan bersamamu sampai kakimu sembuh, atau kita bisa tinggal di sana selamanya jika kau suka.”

Di dalam gendongannya aku menjadi manusia jujur dan menangis.  

Sabtu, 05 Desember 2020

Kamu Baik-baik Saja? (Revisi, dah kaya skripsi)

 

“Apa kamu baik-baik saja?”

Sedikit dari mereka yang bertanya demikian kepadaku. Aku sedikit terharu ketika sebagian kecil itu bertanya demikian. Mereka mempedulikanku. Aku sungguh berterima kasih. Sayangnya, sering kali aku tak mampu mengungkapkan sakit-penyakit ini. Terlalu rumit, aku sangsi mereka akan paham atau tak menganggapku aneh. Jadi, aku memilih mengangguk dan tersenyum meyakinkan mereka. Tak baik membebani orang lain, pikirku.

Sejak kapan ya semuanya berawal? Aku tak benar-benar tahu, yang pasti sudah lama sekali. 

Sedari kecil kita diajarkan untuk bersyukur bukan? Walau dengan cara, “cari tahu apa yang orang lain tak miliki dan bandingkan dengan dirimu”. Kita harus bersyukur karena bisa makan hari ini karena sebagian orang di bumi kesulitan untuk mengisi perut. Kita harus bersyukur karena memiliki tempat tinggal yang layak, sebagian manusia bergulat dengan angin malam setiap harinya. Lalu bagaimana cara mereka yang tidak makan dan tidak berumah itu untuk bersyukur? Bagaimana mereka tau kekurangan dari seseorang yang hidupnya berkecukupan? Aku rasa seorang saudagar kaya tidak akan mengumbar tentang istri mereka yang gila harta, atau anak-anak mereka yang pembangkang. Dalam hal ini, tentu mereka yang hidup dalam kemelaratan sangat sulit untuk bersyukur.

Sedari kecil kita disuguhi dengan kejeniusan seorang Edison, bagaimana kayanya Bill Gates, dan itulah yang mereka sebut dengan sukses. Seorang kuli bangunan di dekat rumahku secara tersirat disebut sebagai orang-orang gagal. Tidak rajin di sekolah, tidak mau belajar, pemalas, itu yang mereka sebut sebagai penyebab.

Dengan rumus-rumus kehidupan itu, harusnya tidak sulit bagiku untuk bersyukur. Kedua orang tuaku memiliki pekerjaan yang layak dan penghasilan yang stabil. Kami punya rumah yang nyaman dengan halaman kecil sebagai tempatku bermain. Aku bukan anak yang bodoh di kelas walau bukan yang terpandai. Bukankah harusnya akur bersyukur? Bukankah harusnya aku bahagia?

Kupikir juga harusnya begitu, tetapi nyatanya aku sering menangis atas hal-hal yang tidak membahagiakan. Saat kecil, anak-anak di sekolah tak begitu menyukaiku. Aku ketakutan dan tertekan. Aku ingin bermain, tertawa dan mengerjakan tugas kelompok bersama mereka. Aku berusaha untuk diterima di kelompok tersebut walau harus sedikit berubah. Atau mungkin banyak. Aku tak tau, aku hanya ingin memiliki teman. Ini ketakutanku yang pertama, tidak memiliki teman.

Awalnya aku bukan anak-anak rajin dan terlalu peduli dengan nilai ataupun peringkat. Aku tak tau sejak kapan, aku berubah. Aku mulai ketakutan ketika ujian. Aku kira aku hanya takut mendapatkan nilai jelek. Nyatanya aku bahkan takut pada ketakutanku sendiri. Aku takut jika aku akan menyesal jika tidak belajar dengan keras. Aku takut aku akan ketakutan ketika melihat nilaiku yang jelek. Aku takut aku akan menyesal berlarut-larut. Aku takut pada masa depan dan menyesali masa lalu. Aku takut akan membuat penyesalan lainnya. Aku takut jika suatu saat aku tak sanggup pada ketakutanku. Aku mulai curiga dengan ketakutanku yang berlebihan. Kukira aku cukup kuat, bukankah aku sudah andal menghadapi ketakutan selama bertahun-tahun? Maka aku yakin, ketakutan di tahun-tahun setelahnya pun pasti bisa kuhadapi. Aku hanya perlu berusaha seperti sebelum-sebelumnya bukan?

Aku mengenal seorang pria manis beberapa tahun lalu. Dia tak begitu polos dan lugu. Dia berapi-api dan cerah, sungguh seorang pria muda yang menarik. Waktu itu, dia menganggap aku menarik. Aku tersanjung, dan kupikir pria ini memiliki selera yang bagus. Aku punya predikat gadis yang pandai, walau bukan yang paling cantik tapi setidaknya aku cukup manis, aku juga cukup populer. Aku tak pernah membalas ungkapan cintanya. Aku membiarkannya pergi. Aku takut kehilangan pria manis itu, jadi aku memilih untuk tidak memilikinya sama sekali. Benar, lagi-lagi aku terlalu takut.

Aku kira keputusanku sudah benar dan aku tak akan menyesal. Nyatanya aku merasakan sakit yang teramat. Aku pikir itu wajar, karena aku kehilangan salah satu penggemarku yang tulus.

Aku sering menangis, sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku mulai menangisi banyak hal dan ketakutanku tak kunjung membaik. Mereka datang dan pergi. Aku tak pernah siap dengan kedatangan mereka. Kadang kukira aku sudah kurang waras.

Aku kira aku cukup kuat, tapi nyatanya aku lemah. Ketakutan dan kesedihanku bercampur menjadi sakit. Aku mulai melarikan diri dari kenyataan. Awalnya satu pil cukup bagiku untuk terlelap, kemudian berangsur menjadi dua. Aku membiarkan diriku menjadi si pengecut yang menyedihkan. Hari ini botol putih di nakasku telah kosong. Aku perlu membeli obat tidur lagi.

Aku meminta sebotol obat tidur yang biasa kukonsumsi kepada seorang apoteker. Selagi si apoteker mencari obat yang kumaksud seorang pria bermantel coklat berdiri di sampingku. Dia menggunakan masker hitam, tetepi aku masih dapat mengenalinya. Dia si pria manis. Sesekali kami berpapasan dan saling menyapa sekedarnya. Berada di kampus yang sama cukup sulit untuk membuat kami saling menghindar. Terasa aneh sekali ketika seseorang yang dulunya selalu menanyakan tentang harimu berubah menjadi orang yang menganggap hal itu tak pernah terjadi. Si pria manis pasti sudah tidak menyukaiku.

Ketika pandangan kami bertemu, aku tersenyum. Aku mampu menangkap keterkejutannya lewat alis yang bergerak. Aku tidak tau apa yang membuatnya terkejut. Mungkin saja dia membenciku sekarang tapi malah bertemu secara tiba-tiba. Aku tak keberatan jika dia membenciku. Itu lebih baik dibandingkan tersiksa dengan cinta sepihak bukan?

Apoteker tadi datang dengan sebotol obat tidur di tangan kanannya. Aku segera meraih botol tersebut kemudian menepuk pundak pria manis di sampingku.

“Aku akan segera pulang kok, jangan malu untuk membeli kontrasepsi” ujarku sambil mengulum senyum. Pria itu melebarkan matanya. Aku tertawa kecil dan meninggalkannya. Setidaknya itu dapat mencairkan suasana canggung di antara kami. Aku tidak ingin memperlakukannya seperti orang asing. Dia pria baik dan aku tetap ingin berteman dengannya. Terdengar agak egois memang, tetapi aku yakin pria itu paham maksudku.

Aku adalah wanita konyol dengan mulut yang berucap sewenang-wenang, setidaknya itulah yang diketahui orang-orang. Atau, itulah yang membuat orang lain menyukaiku. Apa untungnya terlihat muram di depan orang lain selain terlihat jelek? Sekalipun kuceritakan segala hal buruk yang kualami mereka belum tentu mau tau, apalagi mengerti. Semua orang sudah memiliki bebannya masing-masing, jadi wajar mereka tak mau tau masalah orang lain. Terlebih aku benci ketika mereka menatapku seolah aku adalah orang aneh, meskipun itu benar.

Aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat padaku. Kukira itu si pria manis, aku bisa merasaka aroma parfumnya di hidungku. Jika benar dia mengejarku bukankah harusnya senarusnya dia sudah berada tepat di belakangku atau memanggilku, atau menyentuh bahuku. Kudengar adalah suara langkah kaki yang yang teratur tak jauh di belakangku. Untuk beberapa detik, aku hanya terus berjalan menuju rumah.

Aku tak tahan untuk berbalik, dan benar saja. Si pria manis berdiri tak jauh di belakangku.

“Kau mau mau mengikutiku? Serindu itu ya?” ujarku dengan senyum pongah yang konyol.

Si pria manis itu menatapku jengkel. Ternyata aku rindu memancing emosinya. Dia terlihat seperti anak kecil yang tidak terima  permen coklatnya diambil orang. Manis sekali. Aku ingin punya anak seperti dia suatu saat nanti. Jika aku bisa.

“Apa kau sakit?” tanyanya tanpa melihat wajahku. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Lihat, bukankah dia seperti anak sekolah yang malu-malu mengajak teman wanitanya kencan? Berapa sebenarnya usia pria ini?

“Tidak kok” jawabku sambil tersenyum lebar. Seolah memberi bukti bahwa aku baik-baik saja, dan silahkan urusi perkara masing-masing.

“Kau terlihat pucat”

“Kulitku semakin putih, aku pakai krim pemutih wajah”

“Matamu menghitam”

“Aku begadang tadi malam, memangnya mahasiswa mana yang tidak pernah begadang?”

“Matamu bengkak”

“Lalu? Kau berharap aku baru saja menangisimu?”

Si pria manis berdecak jengkel. Dia menendang sebuah krikil kecil di dekat sepatunya.

“Terserah”. Dia berbalik dan melangkah dengan kesal. Kuamati keberadaannya yang kian menjauh, kemudian lanjut berjalan.

Tak lama setelah itu aku mendengar suara langkah kaki yang dihentak-hentak mendekat. Kukira itu suara langkah orang yang terburu-buru menuju halte, tetapi tiba-tiba sosok pria tinggi berada di sampingku dan menyamakan langkah kaki denganku.

“Kukira tujuanmu ke sana” aku menunjuk ke belakang.

“Kalau kau tidak mau menerimaku, setidaknya jangan buat aku khawatir.” Ucapnya dengan penuh kejengkelan yang diredam.

“Aku tidak berharap kau khawatir.” Jawabku tak kalah sengit.

“Aku juga berharap begitu.”

“Kalau begitu jangan khawatirkan aku.” sahutku ketus.

“Mana bisa.” Jawabnya samar tetapi masih dapat kudengar.

Aku membenci diriku sendiri. Pria di sampingku ini jelas sudah bukan pria yang menggodaku dengan kata-kata manis agar pesannya segera dibalas. Dia sudah menjadi ketus dan menyebalkan, tetapi kenapa malah terasa semakin menggemaskan? Apa penyakit kejiwaanku bertambah?

Setelah hening beberapa saat, tepat di tempat penyebrangan aku kembali membuka suara.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tau.” Jawabnya asal.

“Kalau begitu pulanglah.”

“Aku tidak tenang sebelum melihatmu sampai di rumah.”

Aku merotasikan mataku seolah tengah jengkel. Aku mengambil langkah besar dan membiarkannya berjalan di belakangku. Dia tidak boleh melihat wajahku yang memerah. Dia harus menjauh dariku, dan menemukan orang lain yang lebih baik dariku.

*

Beberapa malam ini Soji, si pria manis terus menghubungiku. Jika aku tidak membalas pesannya maka ia akan meneleponku puluhan kali hingga aku menyerah, kemudian menjawabnya asal-asalan. Dia menanyakan berbagai hal tak penting seperti, ‘kenapa tidak membalas pesanku?’, ‘kenapa lama sekali mengangkat teleponku?’, ‘apa kau sudah tidur?’, ‘kenapa kau masih bangun?’. Sejujurnya perdebatan tak berarah itu sedikit mengusir kesepianku, mengingat ayah dan ibu lebih sering berada di kantor atau di luar kota di bandingkan di rumah. Bagaimanapun Soji berhak mendapat kebahagiaan bukan? Jadi hari ini aku sengaja mematikan ponselku.

Aku menyibukkan diri dengan beberapa tugas yang sudah menumpuk. Belakangan ini, aku merasa semakin buruk. Aku semakin sulit berkonsetrasi dan itu sungguh menghambatku untuk melakukan berbagai hal. Kecemasanku benar-benar menakutiku hingga rasanya aku hampir gila. Kesedihanku membuatku benar-benar terpuruk hingga rasanya aku ingin tak sadarkan diri saja. Kesepianku rasanya semakin menyesakkan hingga aku memukul-mukul dadaku akibat nyeri yang tak tertahankan. Aku tidak tau apa yang menyebabkanku tertidur: obat tidur atau terlalu lelah menangis.

Aku memandangi langit lewat jendela kamar. Sudah berapa ribu malam yang kulewati dengan perasaan mengerikan ini? Aku tidak bisa menyebut diriku lemah karena sudah bertahun-tahun bertahan dengan kesakitan ini. Aku pun tak bisa menyebut diriku kuat, karena aku selalu menangis dan melarikan diri. Aku tak tau sampai kapan aku mampu bertahan.

Beberapa kali aku memikirkan tentang mengakhiri hidup, tetapi itu hanya memindahkan beban kepada orang lain. Ketika aku hidup, akulah yang hampir gila. Ketika aku mati, mungkin ayah dan ibu yang akan  gila karena kehilangan anak tunggal mereka. Jika bukan kerena mereka, mungkin aku tidak akan bertahan. Aku pernah menemui psikolog beberapa kali, sayangnya mulut yang sewenang-wenang ini tak pandai mengungkapkan isi hatiku yang sesungguhnya. Mulutku hanya pandai mengutarakan kata-kata konyol, sungguh menjengkelkan. Aku berencana menyiapkan diri untuk menemui psikiater dalam waktu dekat ini. Kurasa itu jalan yang tepat untuk menyelamatkan hidupku.

Perutku terasa perih dan kepalaku sedikit pening. Aku belum menyentuh makanan hari ini. Mengapa aku begitu menyiksa diriku? Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Ada beberapa roti yang hanya perlu dipanaskan. Ketika aku mengambil sepotong roti, aku terkejut dengan suara bel yang ditekan berkali-kali. Tanganku menyenggol sebotol pewarna makanan yang ternyata tidak tertutup rapat. Ketika aku berusaha menangkap botol itu, isinya menumpahi tanganku.

Bunyi bel berganti menjadi ketukan kasar dan berganti menjadi dobrakan-dobrakan keras. Sejujurnya aku ketakutan tetapi aku tetap harus melihat siapa yang ada di depan sana. Aku harusnya bisa langsung memanggil petugas keamanan, namun karena terlalu panik aku malah menghampiri pintu dan mengintip siapa pelaku pendobrakan tersebut lewat intercom.

Aku terbelalak ketika melihat sosok yang berusaha mendobrak pintu apartemenku. Soji terlihat frustasi kemudian kembali menggedor dan mendobrak pintu. Ketika pintu itu terbuka, Soji langsung memelukku erat. Sangat erat hingga aku mampu merasakan detak jantungnya yang begitu keras. Itu adalah pelukan singkat lalu dengan tatapannya Soji menelusuri tubuhku dari ujung kepala dan berakhir di tanganku yang penuh dengan noda merah. Ia segera menggendongku dengan panik dan berlari menuju lift.

“Ada apa denganmu?!” pekikku kebingungan.

“Kumohon bertahanlah” pinta Soji frustasi.

“Kau ini kenapa sih?!” aku masih tidak paham apa yang dilakukan Soji.

“Kalau kau punya masalah bukan begini cara menyelesaikannya.”

Aku terdiam sejenak dan berfikir. Ah, pasti karena pewarna makanan berwarna merah tua ini.

“Soji, aku tidak apa-apa, ini hanya_”

“Diam. Kau tidak baik-baik saja, aku tau itu.”

“Soji_”

“Kau punya aku, ingat itu! Jangan menghadapi hal sulit seo-”

“Soji aku tidak bunuh diri! Ini pewarna makanan!” Aku memekik kesal. Beberapa orang di koridor menoleh dan mengamati kami. Aku malu, karena ini sangat dramatis dan menggelikan.

Lift berdenting dan terbuka. Soji tetap masuk ke dalam dan buru-buru menutupnya. Ia meraih kedua tanganku, mengamatinya lekat-lekat, mencari kemungkinan-kemungkinan jika aku berbohong dan nyatanya memang tidak akan ia temukan. Ia mengusap-usap pergelangan tanganku dengan jaketnya hingga kulit pucatku kembali terlihat.

Dia mendesah panjang, aku tidak tau arti desahan itu. Ia kembali memelukku begitu begitu erat, menenggelamkan tubuhku dalam dekapannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tenang. Aku merasa tenang dan nyaman mendengar detak jantungnya. Aku menjadi kecil, rapuh dan tak berdaya namun merasa sangat berharga secara bersamaan. Ajaib, pria ini seperti penyihir. Aku merasakan dagunya di atas kepalaku, menekannya dengan lembut.

Tidak ada yang berniat mengurai pelukan hingga pintu lift terbuka lebar dan kembali tertutup.

*

Soji membantuku membereskan kekacauan di dapur selagi aku memanaskan dua potong roti untuk kami. Laparku sempat hilang karena kejadian memalukan tadi dan saat ini sudah kembali terasa.

“Kau kira aku bunuh diri karena tidak membalas pesanmu?” aku melihat puluhan pesan di ponselku, semuanya berasal dari pahlawan kemalaman di hadapanku.

“Ponselmu mati, aku jadi berfikiran yang tidak-tidak”.

Aku mengulum senyum. Dia terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Harusnya kau menyalakan ponselmu, bagaimana jika ada panggilan darurat? Bagaimana jika ada berita penting? Kau itu hidup di jaman apa sih sehingga-”

“Kau pernah merasa ketakutan sampai rasanya hampir gila?” aku memotong ucapannya yang tidak kuketahui kapan akan berakhir. Aku menarik kursi sehingga kami duduk saling berhadapan.

“Pernah,” jawaabnya. “baru saja” sambungnya lemah. Aku tersenyum miris. Ada perasaan menyesal karena telah membuat panik pria baik di hadapanku.

“Sejak aku melihatmu membeli obat tidur, aku tidak tenang dan-”

“Oh, waktu kau membeli kondom itu ya?” Aku kembali memotong ucapannya. Aku tidak ingin suasanya di antara kami terlalu dramatis.

“A-aku tidak beli kondom!” jawabnya kikuk dengan telinga memerah.

“Iya juga tidak apa-apa, kau kan pria dewasa.” ujarku menggodanya. Lihat, wajahnya seperti remaja yang ketahuan sedang melihat film porno. Aku tidak tahan ingin tertawa.

“Aku tau kau sedang tidak baik-baik saja_”

“Itulah yang kurasakan setiap hari.” Kurasa memotong ucapannya adalah kegemaran baruku. Aku mengambil roti di hadapanku dan menggitnya sekali. “ketakutan sampai hampir gila.” lanjutku sambil mengunyah. Seolah hal yang baru saja kukatakan bukanlah hal besar.

Soji menatapku lekat-lekat. Tidak ada tatapan mengasihani di wajahnya. Ia tersenyum perih sebelum mengalihkan pandangannya ke bawah, menunduk.

“Kau itu menyebalkan sekali.” Ucapnya sambil terkekeh.

“kau juga” ucapku acuh tak acuh sambil kembali menggigit roti di genggamanku.

Dia menyantap roti yang ada di hadapannya dengan lahap. Aku melihat rambutnya yang berantakan dan sedikit lembab. Apa tadi dia berlari?

“Sepertinya akan memakan waktu lama untuk mendapatkanmu,” ucapnya sambil mengunyah.

“Telan dulu” sanggahku. Sambil memberikan segelas air ketika dia tersedak sambil memukul-mukul dadanya.

“tapi tidak apa-apa, kulihat tadi kau nyaman sekali memelukku. Itu artinya hatimu sudah terbuka untukku kan?” Soji mengatakannya dengan wajah pongah. Ia kembali menggigit rotinya dan berkata “tenang saja, kau bisa memelukku kapanpun yang kau mau. Tapi selama aku belum menyukai wanita lain ya! Maka dari itu kau harus cepat-cepat mengakui perasaanmu padaku.”

Aku menatapnya sinis sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya satu pelukan saja sudah membuatnya besar kepala.

“Aku sungguh-sungguh, kau bisa mengandalkanku kapanpun. Jadi, tolong jangan menyerah.”

Aku tersentuh oleh pria manis ini. Aku terus menggigit rotiku yang sedikit lagi habis, bertingkah seolah-olah tak mendengar perkataannya barusan. Aku mengamati cara makan Soji, seperti anak kecil yang senang sekali dipuji jika makan dengan lahap. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, pria besar ini masih terlihat menggemaskan.

“Aku bisa mendengarnya,” ujar Soji. Aku menatapnya keheranan. “aku sangat menggemaskan bukan? Kalau kau mau cium, aku juga tidak keberatan kok”

Jika hidup punya satu keindahan seperti Soji, maka bolehkah aku sedikit tamak dan berharap ada keindahan di hari esok?

 

 

 

 

 

 

Minggu, 27 September 2020

Alien Kecil dan Tuan Hantu

 

Jalan kota belum juga sepi walau beberapa kedai sudah tutup. Beberapa kendaraan masih lalu-lalang. Jalan raya bisa terlihat dari sebuah pohon besar, kira-kira lima belas meter dari trotoar. Pohon itu tinggi menjulang dan memiliki beberapa dahan yang kokoh. Alien kecil dan tuan hantu duduk di dahan tertinggi.

Belum lama ini mereka bertemu, tapi sepertinya alien kecil sangat menyukai tuan hantu. Setiap malam alien akan duduk di dahan yang sama dengan tuan hantu. Hanya duduk atau berbicang-bincang hingga pagi.

“Tuan hantu sedang lihat apa?” tanya alien kecil.

“Kau lihat pria yang duduk di bangku taman?” tuan hantu menunjuk pria itu hanya dengan tatapannya.

“Oh, yang itu. Yang bersama manusia berbaju merah bukan?”

Tuan hantu bergumam mengiyakan. Terlalu lama berada di pohon ini membuat tuan hantu mengenali manusia yang sering lewat. Tuan hantu memang tidak tau siapa nama mereka, pekerjaan, atau di mana mereka tinggal. Mereka yang sering melintas sering kali melekat di ingatan tuan hantu.

“Kemarin dia kemari dengan gadis lain.”

Alien kecil mencerna ucapan tuan hantu, sebelum merespon “Pria itu punya banyak teman?”

“Hmm, teman wanita.”

Alien kecil mengangguk-ngangguk, mencerna perkataan tuan hantu. Inilah mengapa dia sangat menyukai tuan hantu. Tuan hantu selalu punya hal-hal menarik yang tidak ia ketahui di planet asalnya.

“Itu wajar sekali bukan? Aku pernah membaca, manusia menyebut diri mereka makhluk sosial karena mereka tidak bisa hidup tanpa orang lain.” Alien memang punya rasa ingin tahu yang kuat sehingga ia belajar dengan giat mengenai bumi dan manusia.

“Kalau pria itu kurasa dia tidak bisa hidup tanpa berselingkuh. Kau benar, dia makhluk sosial. Yang brengsek.”

Ini informasi baru bagi alien kecil. Berselingkuh, itu sama dengan berkhianat bukan?

“Bagaimana tuan hantu bisa menyimpulkan pria itu penghianat?” Alien sama sekali tidak memojokkan tuan hantu, ia benar-benar ingin tahu penjelasan dari asumsi itu.

“Di bumi kau tidak menciumi bibir dan leher temanmu.”

Rupanya begitu aturan di bumi. Di planet asalnya, atau di planet lain yang pernah ia kunjungi, tidak ada aturan semacam itu. Padahal makhluk-makhluk itu juga bisa dikategorikan sebagai makhluk sosial. Mereka membuat markas dan pesawat angkasa bersama-sama.

“Kepada siapa pria itu berkhianat? Apa dia sudah memiliki kontrak kerja sama dengan manusia lain tapi malah membelot dan membantu rivalnya?”

Tuan hantu sebenarnya agak malas untuk menjelaskan, jadi dia hanya menjawab “Kira-kira begitu, tapi tidak sepenuhnya begitu juga.”

Alien kecil bingung dengan maksud tuan hantu.

“Di planetku sepertinya tidak pernah ada pengkhiatan, karena sistem kerja di sana sangat transparan dan tertata. Jika ada yang salah pasti akan ketahuan.”

“Itu bagus. Harusnya di bumi juga dibuat seperti itu. Manusia bumi perlu studi banding ke planetmu.”

Tuan hantu masih mengamati pria tadi bersama teman wanitanya. Mereka tertawa dan si pria mulai semakin mendekatkan pada si wanita. Tuan hantu melirik alien kecil yang masih fokus mengamati pasangan itu.

“Apa kau sudah cukup umur melihat adegan seperti itu alien kecil?”

Alien kecil menoleh pada tuan hantu dengan wajah kebingungan. “Aku memang masih cukup muda tuan hantu, aku tidak boleh melihat? Kenapa?”

Tuan hantu tidak menjawab dan malah bertanya lagi “Kau sudah berhari-hari di sini, apa ibumu tidak khawatir?”

 Tuan hantu pasti mengira planet alien kecil berasal tak jauh berbeda dengan bumi, kecuali pada bagian lebih tertata dan transparan. Mungkin karena tertata, maka kehidupan di sana menjadi lebih maju. Buktinya, pesawat angkasa si alien kecil bisa mengecil hingga sekecil buah apel.

“Tempatku berasa sangat berbeda dengan bumi, tuan hantu. Di sana tidak ada orang yang kami panggil ayah dan ibu.”

Tuan hantu tidak mengerti, “Jadi kau memanggil orang tuamu apa?”

Alien kembali menjelaskan dengan antusias. Jarang sekali tuan merasa ingin tahu karena si alien. “Kami tidak punya orang tua. Sama seperti manusia, kami juga dibuat oleh orang yang lebih tua dari kami. Hanya saja, pembuatan manusia itu tidak bisa dirancang sedangkan kami memang dibuat sesuai rancangan, di laboratorium.”

“Bukan di kamar tidur?!” tanya tuan hantu keheranan.

“Di kamar tidur tidak ada alat-alat operasi, tuan hantu. Jadi tentu saja bukan di kamar tidur. Kami dibuat sesuai dengan kebutuhan. Jika sedang kekurangan pasukan ekspedisi, maka alien ilmuan akan membuat alien ekspedisi supaya jumlahnya terpenuhi. Sekitar seribu tahun lalu, alien masih bereproduksi secara konvensional. Tapi untuk menghindari kecacatan lahir dan meningkatkan kemakmuran, alien akhirnya dibuat dengan rancangan tertentu.”

 Tuan hantu mengerutkan kening. Tidak habis pikir ternyata film-film yang dulu ia tonton sewaktu masih hidup ternyata terjadi di bagian semesta lain.

“Aku tidak paham dengan planetmu.”

“Aku juga masih belum terlalu paham dengan bumi. Di sini lumayan tertinggal dibanding planet lain.”

Tuan hantu dan alien hening sejenak. Pria dan wanita tadi berjalan meninggalkan bangku taman. Tuan hantu kembali berujar, “Sepertinya kehidupan di manapun sama saja. Sulit dimengeti.”

Sabtu, 26 September 2020

Hari Yang Baik

Langit biru beberapa jam lalu berubah kelabu. Hujan belum kunjung turun. Kantung mataku yang menghitam tak kunjung menghilang. Lagi-lagi malam-malam berat dan siang yang terasa melelahkan datang. Aku muak.

Aku lelah dengan cara yang tak mampu kujabarkan. Lelah dengan kelelahan yang tidak berujung dan tak jelas pula pangkalnya. Mendung di kepalaku tak kunjung pergi. Kadang hanya mendung, kadang hujan atau badai. Mendung yang setia, anehnya selalu berhasil membuatku sepi.

“Hari ini hari yang buruk ya?”

Tanpa kusadari seseorang sudah berdiri di sampingku. Ia sambil menyodorkan cangkir kertas berisi susu ketimbang kafein.

Aku meraihnya dan tersenyum. Sebuah ungkapan terima kasih tak lisan dan tak tertulis. Dia ikut tersenyum hingga matanya berubah menjadi garis lengkung. Sekarang pelangi sudah tidak lagi tujuh warna. Mendung di kepalaku tenang sejenak.

“Sekarang sudah tidak lagi. Ini hari yang baik.”